Jika memilih suami ibarat memilih Presiden


Ketika masih gadis ada impian impian untuk berumah tangga. Dengan siapa? Ah, bahkan waktu itu tak tau siapa yang akan membersamaiku. Menghampiri silih berganti tapi tak menemukan tepi, ya karena memang belum digariskan ketemu :) . Bukan rentan waktu yang sebentar barangkali penantian itu. satu, dua..ternyata sudah lebih 5 tahun.

Alhamdulillah satu tahun pindah tempat bernaung, akhirnya dipertemukan juga sang belahan jiwa. Siapa yang tau ternyata yang dinanti berasal dari kota kelahiran sendiri? :)

Memilih suami untuk wanita dan memilih istri untuk laki-laki bukan karena asal ‘gue suka lu, so yuk mari’. It’s not simple proces madam. Jikalau orang jawa sering mempertimbangkan bobot, bibit, bebet. Maka boleh juga dong masing-masing kita menentukan kriteria? Asalakan yang realistis saja sih okey, agar ketika dapetnya jauh dari kriteria jatuhnya tidak terlalu sakit.

Kalau saya sih ya, karena dia akan menjadi imam yang akan saya patuhi dan bebarengan masuk surga dengannya, maka aku milih yang sholeh dunk ya. Itu adalah satu syarat yang mutlak. Bayangkan saja, seorang wanita yang bener-bener mengetahui kewajibannya sebagai istri, maka dia akan berbakti kepada suaminya jiwa dan raga, Full service dan full hearth to her husband. Bahkan ketika sang suami lebih mementingkan kepentingan ibu kandungnya dari pada sang istri, dan sang istri tetap patuh. Maka sebagai wanita, relakah jika calon imam itu adalah seorang yang sholeh hanya tampak diluar?. Continue reading

Pesan Kehidupan


[21:02 22/06/2014] Odoj Leni Admin: Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun
Telah meninggal dunia dek Fajar, odojer akhwat 846 pukul 19.50
Beberapa jam sebelumnya, adminnya mengabarkan fajar sedang di ICU krn drop pasca operasi…

Ini dr adminnya :
dy lemah jantung dr kecil dan dvonis kanker dari smp. kmaren baru lulus SMA dan pgn ke ITB…

Dia rajin dan kritikus d grupku,, aku sgt senang jika ada dy klo lg diskusi…
dy plg tidak suka dkasihani…
tegar,, periang… kuat prinsipnya…
bhkan bln ni udah mau jd hafidzoh..

tggl beberapa juz,, allah mentakdirkan lain,, 3 hr yg lalu dy bertabrakan dan butuh darah banyk. stock dsni sdikit dan ngambil d eropa,,
operasipun kmaren katanya sukses tp td pg ngedrop lg… dan malem ini kami d infokan udah tiadaaa
Continue reading

JuMud tingkat akhir


Tau gak si rasanya jadi orang jumud itu?
mau tidur aja bingung posisi mana yang enak, miring kanan, miring kiri, telentang, telungkup dan posisi lainnya, semua rasanya gak enak..
Tau gak si rasanya jumud ketika kuliah itu?
Mau masuk kok ya rasanya males ketemu dosen yang sama, ngajar dengan metode yang sama juga, bikin ngantuk lagi, gak mudeng lagi..

Tau gak si rasanya kerja yang ruwet?
ini belum selesai, tambah kerjaan lagi, eh belum kalau didatengi pada minta pengajuan uang padahal uangnya masi di bank. Dan tidak bisa diambil???

hehe.. ini nih manusia yang lagi kena sarnoEdi.. sarape keno edane ndadi. Suasana kek gini mending dipakek represing ke sungai elo rafting sepuasnya,.. nyilem sepuasnya.. teriak teriak sepuasnya..

suaranya habis, trus masalah yang tadi gak kelar juga. haha

Sudah,.. saya cuma mau pengen curhat itu doank kok :mrgreen:

Konsekuensi sebuah perkataan


Ini adalah kisah teladan yang disuguhkan kepada kita. Tentang perkataan yang bisa dipercaya. Jika semua yang kita ucapkan sesuai dengan kenyataan yang ada, maka tak segan bagi orang yang tadinya memusuhi bahkan mau membunuh kita, siapa tahu memafkan kita. Kata Allah “Kaburo maktan indallahi antaquluu maalaa taf ‘aluun”, Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
(QS As-Shaf : 3)

Jika pernah mendengar kalimat seperti ini ” Seorang laki-laki itu yang dipegang adalah perkataannya”, maka tak hanya seorang laki-laki saja yang semestinya bersikap seperti itu. Hal itu hanya untuk mempertegas bahwasanya seorang laki-laki ketika berjanji, maka bagi yang tak menepatinya akan ada cacat di dirinya. Begitupun dengan wanita, jika janji adalah hutang, maka membayar hutang adalah solusinya. :)

Inilah kisah yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata, “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!” “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!”.
Umar segera bangkit dan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.””Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,”Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mempercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.”Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.”Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat’, ujarnya.
“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, “Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

Umar sema
kin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,”Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah” ujarnya dengan tegas,”Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda.
“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?” tanya Umar.”Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?” pemuda lusuh balik bertanya.

“Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.
“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin”.Ternyata Salman al Farisi yang berkata..

“Salman?” hardik Umar marah, “Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.”Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggukedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.Kedua pemuda
yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi.Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok,jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!”teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pengkuan Umar.”Hh..hh.. maafkan.. maafkan..aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak..waktu..”. ”Kupacu..tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun..terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, “Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”
”Agar..jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria..tepat janji..” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”,Salman menjawab dengan mantap.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.”Allahu Akbar!” tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.“Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya” ujar kedua pemuda membahana.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

-Diambil dari buku Ketika Cinta Berbuah Surga karya Kang Abik

Continue reading