Senyum yang selalu memukau dan selalu kurindukan


Senangnya bila melihat orang tersenyum. Apalagi untuk orang sekitar yang kita sayangi. Setidaknya kalimat itu selalu kutemukan di setiap helai buku yang ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie. Kalimat Senyum yang selalu memukau dan selalu kurindukan yang diulang-ulang pertanda begitu terpesonanya pak Habibie dengan istrinya. Siapa yang tak mengenal tokoh ini? Secara fisikly beliau memang kecil, tapi “Otak semua” (Judul buku yang menulis tentang Habibie juga).

“Dibalik lelaki yang hebat pasti ada sesosok wanita yang hebat”, demikian kalimat yang sering saya dengar juga. Dan hal ini sudah terbukti. Ada salah satu pesan dari seorang ustad yang sampai sekarang ini masih saya ingat. Intinya seperti ini “ Jangan kau memprofilkan seseorang yang masih hidup, karena kita tidak tahu endingnya, akankah happy ending ataukah sad ending. Karena menjadi baik itu bisa dan sangat bisa, tetapi menjadi Istiqomah dalam kebaikan itu bukanlah hal yang semudah diucapkan”. Dan Bu Ainun merupakan profil yang bisa saya ambil contohnya.

Ibu Ainun yang bernama lengkap “Hasri Ainun Habibie binti R.Muhammad Besari” adalah istri dari tokoh yang luar biasa. Dalam bukunya “Habibie & Ainun” diungkapkan segala hal tentang perjalanan awal bertemunya Bu Ainun dengan Pak Habibie, lengkap dengan jam dan tanggal. Perjalanan selama 48 tahun 10 hari Bu Ainun menemani perjuangan Pak Habibie. Bu Ainun yang membuat pak Habibie menjadikan satu-satunya wanita yang menutup mata dan hatinya untuk wanita lain. Memahami tanpa Berkata, Menentramkan jiwa dengan senyumannya.

Kecerdasan Emosional yang Bu Ainun punya membuat semacam telepati yang mengikat suami istri itu untuk saling memahami. Dalam bahasa saya Bu Ainun mengerti apa yang suaminya butuhkan tanpa harus diminta. Dalam kutipan dari bukunya…

“Kami berdua suami istri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati”

Sungguh pak Habibie merasa kehilangan sekali atas perginya Bu Ainun, mungkin bisa dikatakan separuh jiwanya pergi. Bagaimana tidak, seorang istri yang patuh luar biasa kepada suami, orang pertama yang diajak untuk berdiskusi dimintai persetujuannya ketika ditawari dengan berbagai tawaran besar terkait pekerjaan, dan banyak hal.

Latar belakang pendidikan yang tinggi lulusan kedokteran tak membuat Bu Ainun untuk meraih kepuasan batin. Melaksanakan tugasnya sebagai Ibu Rumah tangga yang baik. Dalam kutipannya juga beliau menuliskan

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasanan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? apa artinya ketambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu”

Ya, memang hal itu tidak akan terjadi jika tidak ada kecerdasan emosi yang dimiliki seorang istri pada suaminya dengan kesibukan yang luar biasa. “Mengerti tanpa harus berkata” hemmm, kemampuan yang harus diasah. Pengendalian emosi, saling pengertian, memahami, tidak egois, saling menghormati dan lainnya entah apalagi bentuk kecerdasan emosi itu. Yang jelas hal itu tidak mudah dilakukan jika kita mempunyai sifat tidak sabar.

Salah satu pelajaran yang saya dapat dari Bu Ainun tentang “Senyum”. Senyuman yang dari hati untuk orang yang kita sayangi mungkin akan mendapatkan singgasana tertentu bagi sang penerima. Selain membuat terlihat awet muda yang merupakan efek internal dari diri, maka dari faktor external yaitu sang penerima akan memberi efek yang luar biasa. Perasaan nyaman, sampai perasaan ingin memberikan yang terbaik untuk dirinya seseorang yang mempunyai senyuman yang memukau itu.

Klaten, 18 Maret 2012 00.38
Salam

About these ads

18 thoughts on “Senyum yang selalu memukau dan selalu kurindukan

  1. Pingback: Senyum yang selalu memukau dan selalu kurindukan | Riyani

  2. Reblogged this on ruangkata perempuanembun and commented:
    Seberapapun banyaknya orang dalam hidup mungkin hanya beberapa orang yang tulus, Almarhumah yang tulus memberikan senyum hanya untuk membuat yang dihadapannya tersenyum, tulus tersenyum hanya untuk kebahagiaan orang yang disayanginya, hum semoga :)

    • Siaaaap pak, monggo. saya juga suka Profilnya..
      Ilmu Iptek yang diimbangi dengan imtaq, menyebabkan beliau menjadi sosok yang luwar biyasa. beliau mengibaratkan pesawat dengan penguasaan iptek di sayap kiri dan diimbangi dengan Imtaq di sayap kanan.

    • Bagus banget sist, buku yang rekomended..
      Perjuangan tentang teknologi di Indonesia, tentunya tentang IPDN, dan perjuangan pak Soeharto terkait pencitraan Islam juga luar biasa dengan menokohkan pak Habibie sebagai ketua Cendekia Muslim

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s