Antara Teko dan isinya


Ketika waktu di dunia sudah habis, setelah 7 langkah terakhir dari orang yang kita cintai meninggalkan kita menuju dunia yang baru. Ya, alam kubur. Harta yang kita kumpulkan di dunia dengan kerja keras itu, tidak membersamai kita. Orang yang kita cintai, keluarga, saudara, kerabat, suami / istri atau anak-anaknya pun tersedu saat kita diambil oleh Sang Maha Kuasa.

Maka apakah yang kita tinggalkan setelah kepergian kita? Apakah yang kita tinggalkan yang baik, buruk? Tentang apa saja yang kita tinggalkan untuk diteruskan generasi kedepan. Ya, prestasi-prestasi ketika masih di dunia? Dan seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa pahala itu akan terus mengalir ketika sebuah prestasi itu ada andil kita didalamnya. Sebuah amalan yang tidak berhenti ketika umur di dunia sudah habis, amalan yang sholeh.. dan kebalikan dari itu semua adalah amalan yang buruk, sungguh tersiksanya kita di alam kubur nantinya ketika hal buruk itupun masih dikerjakan oleh generasi penerus yang sekarang. Transferan dosa itu masih berlangsung ketika kita berpartisipasi dalam hal buruk tersebut.

Apakah yang kita tinggal hanya tulisan di nisan kita,

Fulan Bin/ti Fulan, lahir Tgl/bln/thn, meninggal pada umur…?

Saya mendapat oleh-oleh yang sangat berharga sekali ketika saya bersilaturahim pada seorang ukhti di klaten, perbatasan antara gunung kidul dan klaten. Beliau adalah mahasiswa farmasi UGM angkatan 2007.

Setelah survey tempat untuk Outbond dirasa sudah cukup, panitia berkumpul dirumahnya ukhti tersebut untuk membicarakan hal teknisnya.

Karena saya bukan panitia, hanya menemani saudara saya, maka saya lebih banyak diam sambil memainkan HP. Dan pembicaraan itu berakhir setelah kira-kira 1 jam.

Ukhti itu bertanya kepada saya “ Dik, Di UNS ya, sekarang semester Berapa?”. Sambil cengar cengir kegirangan karena penampilan saya menipu ( tak usah saya jelaskan panjang lebar ya bahwa ukhti itu mengira saya lebih muda darinya, hee). “ saya sudah lulus mbak, saya angkatan 2006”. Dan dijawabnya “afwan” dengan agak kaget disertai tertawa kecil. Tentu bukan itu oleh-oleh yang saya maksud, itu hanya sekedar intermezzo saja. Hehehe, mari kita lanjutkan.

Setelah panjang lebar bercerita tentang keluarganya, kemudian beliau menceritakan ayahandanya yang sudah meninggal 1 tahun yang lalu. Beliau sakit gula dan sempat dirawat dirumah sakit selama 1 minggu. Selama dirumah sakit beliau tidak sadarkan diri. Dalam keadaan yang tidak sadar itu beliau mengigau. Tetapi anehnya yang keluar dari mulut beliau adalah ceramah-ceramah keagamaan karena beliau sering mengisi kajian. Dan itu dibawah kesadaran beliau. Subhanalloh, mata ini berkaca terharu.

Profesi beliau adalah seorang guru agama di sebuah SMA negeri di klaten. Selain itu beliau memberikan “wejangan” kepada anak laki-laki nya yang pertama untuk tetap melanjutkan semua yang beliau rintis sejak awal. Dari kajian di masjid rumah, beberapa kajian pemuda, TPA dan lain-lain. Dan semua itu masih dibawah alam sadar beliau. Ya, dakwah beliau sudah dimana-mana, memperjuangkan untuk agama ini. Islam.

Salah satu hikmah yang dapat saya ambil seketika itu adalah, beliau di masa hidupnya selalu melakukan hal-hal yang subhanalloh baiknya. Berdakwah dengan cara ceramah, memberikan ilmu orang banyak, dari yang belum mengetahui ilmunya kemudian tahu dan mengamalkannya. Saya tidak akan menghitung berapa banyaknya pahala, masalah pahala kita serahkan saja pada yang berhak, Alloh Subhanahu Wata’ala. Yang perlu jadi bahan evaluasi untuk kita perbaiki kedepan adalah seberapa tepat kah niatan kita untuk melakukan sesuatu itu hanya untuk Alloh saja, no others.

Ketika yang kita lakukan adalah sesutau yang buruk, maka hal itu pun juga akan mempengaruhi alam bawah sadar kita. Layaknya teko yang mengeluarkan apa yang berada di dalamnya. Jika didalamnya itu adalah kebaikan, maka yang dikeluarkan juga baik, pun sebaliknya.

Masing-masing kita sudah dituliskan apakah kita akan mati dalam keadaan islam ataupun kafir. Tak semuanya seseorang yang melakukan amalan surga maka di akhir hayatnya dia akan mati dalam keadaan islam, hal itu juga berlaku sebaliknya Lalu akan timbul sebuah pertanyaan, lalu untuk apa gunanya kita beramal kalau takdir kita sudah ditetapkan?

Dari ustad fahrudin yang mengisi kajian pagi itu, manusia yang sering melakukan amalan surga tetapi pada akhirnya masuk neraka adalah orang yang salah dalam hal niatan, karena ingin dipuji dia berbuat baik, karena takut dimarahin bapak/ ibu dia berbuat seperti itu. Dan sebaliknya ketika seorang yang selalu melakukan amalan neraka tetapi akhirnya masuk surga, karena orang itu melakukan hal itu dengan terpaksa, tidak sesuai dengan hati nurani dia. Kemudian hidayah itu muncul.

Dan hidayah itu bukan berada ditangan kita. Hidayah murni dari Alloh. Tidak ada seorang pun bisa memberikan hal tersebut pada manusia.

Maka dari itu doa ini haruslah selalu terlantun di akhir sholat kita.“Matikanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang  yang sholeh”

Mari berteman sampai surga..

Dan semoga kita dipersaudarakan sampai Surga itu…

4 thoughts on “Antara Teko dan isinya

  1. iya, saya tidak salah mendengar ketika mendapat tausyahnya ustad fahrudin, Lc. Setelah saya menanyakan ke ustad yang lain jawabannya juga sama. Ini saya minta tolong seorang ustad untuk memberikan penjelasan tentang masalah itu. tapi beliau belum sempat. kalau saya sudah mendapatkannya akan saya lampirkan. Biar semuanya jelas dan ada dasarnya.
    afwan

Comments are closed.