The Best of scenario


Wayamkuruuna wayamkurullah, wallahu khoirul maakirin,
Kita punya skenario dan Allah juga memiliki skenario, skenario Allah lah yang paling baik. Saya sering mengucapkannya dengan kalimat ini “ manusia boleh merencanakan, tapi Alloh lah yang menentukan”

Ada sebuah kisah yang menurut saya sangat inspiratif buat saya.
Pada suatu hari ada seorang pemuda mengunjungi rumah sakit jiwa. Sesampainya di serambi Rumah sakit, dia menemui seorang perawat. Entah dengan tujuan apa dia ke Rumah sakit (yang jelas tidak sedang mengunjungi antum ^_^). Mungkin sedang rihlah saja, sekedar rehat dari semua kepenatan pikirannya masalah duniawi. Ingin merefreskan rohani dengan kunjungan jiwa. Dengan lebih banyak bersyukur karena dia diberi kelebihan jiwa yang stabil ketimbang penghuni Rumah sakit yang sedang dirawat itu.

Seperti guide saja seorang perawat itu menemani pemuda itu berkeliling rumah sakit (perawatnya laki-laki). Tibalah sang pemuda itu. Dia bertemu pada seorang penghuni Rumah sakit, dia sedang bergumam “ lulu , lulu, lulu” ya, dia bergumam seperti itu layaknya memanggil nama seseorang. Lalu bertanyalah pemuda itu pada perawat. “Kenapa dia bergumam ‘lulu lulu’ seperti memanggil nama seseorang?”
Perawat itu menjawab, “ ya, lulu itu mantan pacarnya, dia ditinggal pacarnya menikah dengan pemuda lain. Karena dia tidak diterima cintanya, maka dia diterima di Rumah sakit ini” jawab perawatnya sedikit melucu dengan raut muka yang datar-datar saja.
Pemuda tadi tertawa dengan sedikit ditahan karena jawabannya yang nglucu tapi garing tersebut sambil ber “Oo” ria dan agak panjang tanda mengerti.

Perjalanan itu dilanjutkan.
Setelah beberapa meter ada lagi yang membuatnya penasaran. Ada pemuda dengan usia lebih tua dari penghuni rumah sakit yang pertama. Katakanlah penghuni rumah sakit ke 2. Penghuni Rumah sakit itu berteriak-teriak sambil berucap “ Lulu. . . Lulu . . . Lulu . . .” sambil menggedor-gedorkan kepalanya di dinding secara perlahan tetapi lumayan keras, karena suaranya sampai terdengar “Deng . . . Deng . . . Deng . . .”
Sebelum ditanya, perawat yang sudah tau akan besarnya keingintahuan pemuda yang suka bertanya ini pun segera menjelaskan permasalahan yang menimpa penghuni Rumah sakit ke 2 ini. “ Bapak ini adalah suaminya Lulu. Lulu yang sama dengan yang di sebut-sebut penghuni Rumah sakit yang pertama tadi. Dia ditinggalkan istrinya karena ada permasalahan rumah tanggaya yang menyebabkan istrinya meninggalkan rumah.”
Dan pemuda yang mempunyai keingintahuan yang besar tadi ber “ooo” untuk kesekian kalinya.

Ya, sepotong kisah yang bisa kita ambil hikmahnya. Jangan ada pertanyaan, “Dimana Lulu sekarang?” atau ada juga juga pertanyaan yang sedikit ‘guyon’ “Emang Lulu seberapa cantiknya kok sampai diperebutkan?”
Saya berkhusnudzon, antum cukup memahami bahwa cerita ini hanya fiktif belaka tanpa saya utarakan. Bukan begitu?

Ketika apa yang kita inginkan belum kita dapatkan, contohnya dikisahkan pada penghuni Rumah sakit yang 1 tadi, dia berambisi untuk menikahinya, tapi sebelum mendapatkannya dia pergi dengan orang lain. Dia terluka, tetapi luka itu tak sebesar luka penghuni Rumah sakit kedua yang setelah mendapatkan yang diingikannya kemudian dia pergi juga.

Masing-masing diri kita mempunyai suatu harapan atau cita-cita, bolehlah kita berambisi untuk mencapainya. Bahkan itu wajib. Tetapi ketika kenyataan bahwa cita-cita itu tidak ditakdirkan untuk kita atau belum waktu yang tepat untuk kita saat ini, yakinlah bahwa ada skenario yang lebih indah untuk kita dari yang kita rencanakan.

Semisal saja cita-cita setelah lulus. Kebanyakan dari para lulusan SMA pada bingung untuk meneruskan sekolahnya. Ketika sudah mantab ingin masuk ke jurusan ‘Psikolog’ misalnya, eh ternyata dia diterima di Teknik. Tanpa ada secuil pengetahuan apapun tentang dunia keteknikan, terutama teknik sipil. Dikiranya besok bisa jadi PNS, eh ternyata selidik punya selidik setelah bertanya kesana kemari kok jadi dokter batu? (kacauuu).

Dengan kondisi teknik yang mayoritas adalah kaum adam, sedangkan dulunya ketika masih di SMA dia berazamkan diri untuk melanjutkan sekolah dengan mayoritas kaum hawa. Tetapi kenyataannya malah sebaliknya.

Tanpa bisa berbuat apapun, yang bisa dilakukannya adalah kata “ Nikmatilah”. Yap, nikmati sebuah proses, Alloh tau caranya mendidik kita dengan cara terbaiknya. Banyak dari kita yang semula adalah anak yang pendiam, tidak suka bicara di depan, tetapi dengan Didikan yang terbaik dari Alloh dia jadi pembicara handal, seorang aktifis yang selalu disibukkan dengan hal-hal yang baik. Dari seorang yang dulunya belum menutup aurot sekarang sudah mengerti tentang kewajibannya menutup aurot, bahkan sudah mengajak beberapa temannya untuk menutup aurot. Subhanalloh,… Sungguh Manusia boleh merencanakan, tetapi hanya Alloh lah yang menentukan. Nikmati dan syukuri apa yang sudah didapati saat ini. . .

‘ala kulli hal, semua yang terjadi dalam hidup kita, tidak perlu disesali, sehingga terselip kata ‘ seandainya . . .’, tetapi hidup harus disyukuri dan dinikmati. Tetapi jangan lupa evaluasi diri sangat diperlukan untuk sebuah kemajuan.
Selamat berjuang saudaraku. . .
Ganbate kudasai . . .!!!

13 Mei 2010

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s