Antara Idealita dan Realita


Saya mrndapatkan cerita dari seorang ustad, beliau bercerita seperti ini.

Ada seorang ikhwan yang menyatakan ungkapan seperti ini. “saya akan menikahi seorang wanita yansa nantinya akan saya dakwahi, dia bukan seorang yang tidak tahu menahu tentang agama, dia bukan seorang yang tidak tahu menahu tentang kewajibannya menutup aurot, yah dia adalah wanita biasa. Dan akhirnya hal itu terjadi juga. Seorang ikhwan itupun menikah dengan seorang wanita yang diharapkannya. Misi yang menggebu-nggebu di awal akhirnya luntur juga. Bukannya dia menjadikan istrinya seorang istri sholehah tapi malah pemuda tersebut menjadi pemuda amburadul, sering ajeb-ajeb tidak nggenah dan sering melakukan hal nyleneh lainnya. Ya, dia tidak sekuat yang ia pikirkan dahulu, dia kalah dengan keadaan, dia salah menduga, bahwa Hidayah itu dia kira bisa datang lewat dirinya. Jangan mengira bahwa Hidayah itu datang dari manusia, sesungguhnya Hidayah itu hanya milik Allah Swt semata. Jika Allah menghedaki Hidayah itu melalui perantara manusia, ya hanya orang-orang tertentu saja. Semoga kita semua terhindar dari perasaaan seperti itu.

Dari cerita itu sebagai gambaran bahwa dunia itu tidak yang seperti kita bayangkan. Dulu sewaktu kecil, saya bertanya dalam hati.” Hai hati, siapakah orang yang baik itu?” Orang-orang disekitarku berperilaku macam-macam, ada yang baik, tapi kok ada yang nyleneh juga?? Kata guru agamaku, mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, kenapa banyak orang yang tidak shalat dan puasa ramadhan ? padahal itu adalah wajib bagi umat islam? Karena saya adalah tipe orang pengamat, dan bukan orang yang kritis menanyakan sesuatu kepada orang lain, pun kepada orang tuaku sendiri. saya selalu melakukan sesuatu sendiri tanpa pantauan dari orang tua secara intens, bisa dibilang saya ‘anak iculan’. Lalu siapa yang harus saya jadikan contoh, siapa yang bisa membenarkanku ketika perilakuku salah??

Ya, saya selalu bertanya-tanya seperti itu. Sewaktu SD saya seperti anak-anak lain yang sedang mencari-cari kesenangan dengan bermain-main dengan teman-teman saya, laki-laki dan perempuan. Dari SD teman saya banyak yang laki-laki, tapi sampai sekarang saya masih punya teman akrab perempuan sejak SD (jangan salah) dan sepertinya juga tidak ada yang nanya, he.. afwan.

Yah saya hanya flas back ke masa puber saya waktu SMP. Saya merasa, kok ada yang aneh ya, antara laki-laki dan perempuan? Waktu itu saya ikut PKS (Patroli Keamanan Sekolah) yang sebelum masuk kepengurusan tersebut harus melalui beberapa gojlokan, diantaranya baris-berbaris, duduk tegak (pandangan lurus kedepan, dada dibusungkan dan tidak ada gerakan tambahan. Busyeeet dah pokoknya), dan tempat duduknya tidak boleh sesama jenis. Harus mencari pasangan lain jenis. Waktu itu ada gojlokan mendadak, dan saya satu bangku bersama seorang teman satu kelasa saya, sebut saja “ mbah karyo” (hee maap jika ada yang merasa). Posisinya adalah duduk tegak, dada dibusungkan, tidak ada gerakan tambahan dan parahnya lagi saya harus berhadap-hadapan dengan teman satu bangku saya yang laki-laki tadi. Dan tambah parahnya lagi, lututnya harus saling menempel, dan secara otomatis mata ini saling menatap satu sama lain. Astagfirullohal’adhim… Bisa dibayangkan jika saat itu saya berada di kelas satu SMP, dimana itu adalah masa pencarian jati diri. Dan pada umur itu saya diajarkan hal semacam itu di SMP yang paling favorit di kota saya?! Saya hanya merasa kurang nyaman saja. Walaupun saya tidak tahu menahu hukumnya dalam agama tentang bersentuhan lain jenis. Sama sekali tidak tahu. Yang saya tahu adalah bahwa shalat lima waktu dan puasa ramadhan itu wajib. Itu saja. Dan seingat saya dulu tidak ada kerohanian islamnya, atau saya kurang gaul ya? Yang masih saya ingat adalah saya menjadi panitia suatu hari besar Islam.

yang ingin saya kerucutkan setelah realitas yang saya alami adalah, bahwasanya secara sadar maupun tidak sadar kita sebagian besar hidup di lingkungan yang hedonis, yang tidak faham akan agama, selalu mementingkan duniawi, bersenang-senang, dan masih banyak yang lain bentuk-bentuk kehedonan masyarakat. Ada juga yang tumbuh di lingkungan yang faham agama tapi out putnya setelah menjadi besar ada juga yang jadi ustad/ah, pun ada juga yang jadi lupa akan ilmu yang dikawruhnya selama mondok.

Tidak ada jaminan bagi manusia yang berada di lingkungan yang kondusif untuk tetap menjadi “orang baik”, pun jangan menjustice bahwa orang yang tunbuh di lingkungan yang Hedon akan sulit menjadi “orang baik”. Semua Hidayah itu ada di Tangan Allah Swt.

Tidak ada yang menjamin bahwa kerudung besar (bagi akhwat), celana cingkrang, janggut rapi peni (bagi ikhwan) sampai waktunya menghadap kepada-Nya adalah “orang baik”. Tidak ada yang menjamin bahwa para aktifis Rohis pun akan istiqomah sampai garis finish. Yang bisa kita lakukan adalah selalu berdoa kepada Allah “Semoga kita diberikan istiqomahan di jalan-Nya sampai akhir masa” Kekayaan, waktu luang, sehat jasmani, sehat rohani, itu semua yang kita inginkan. Tapi yang lebih kita inginkan adalah IstiQomah di jalan ini sampai Akhir hayat.

Tidak ada gunanya ilmu agama yang kita peroleh secara susah payah jika kita mati suul khotimah. Wallahi. . . ! tidak ada yang berharap demikian. Pun bagi penjahat kelas kakap yang dulunya adalah musuh bebuyutan islam, tetapi ketika di akhir ajalnya ia mati syahid. Subhanallah. . . sesungguhnya mati syahid adalah cita-cita kami.

Saudara-saudariku, jangan sombong ketika kita berada di lingkungan aman, justru berhati-hatilah ketika lingkungan itu aman. Karena ketika aman, kewaspadaan akan bahaya itu justru sangat menurun. Mintalah, mintalah istiqomah itu pada Allah, semoga Allah senantiasa memberikan cobaan yang dapat meningkatkan keim,anan kita. Bukannya cobaan untuk memeringatkan kita karena kita sudah kelewat batas.

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s