Berharap


Kalau berharap kepada manusia hanya akan mengecap kekecewaan dihati, mengapa harus berharap banyak kepada manusia? Bukankah lebih baik dan seharusnya manusia itu hanya berharap kepada Alloh saja? No others…

 

Seseorang berharap bahwa ketika dia lulus dari suatu lembaga maka dia berharap kepada penerusnya bahwa kedepan penerusnya itu akan membawa lembaga itu lebih baik dari kepemimpinannya dulu. Jika harapannya itu sesuai dengan yang diinginkan tak jadi soal. Tetapi ketika harapannya itu meleset dari perkiraan atau bahkan semakin kacau? Dilihat dari kualitas pengurus semakin tidak kompak, pun imbasnya adalah segi kuantitas yang semakin menurun juga. Apa yang menyebabkannya?

 

Mulai dari kejadian ini berbagai detektif dadakan mulai beraksi untuk mencari penyebab-penyebabnya. Ada yang menyalahkan kepengurusan lama yang dikira tidak memback up dengan serius, salah dalam mengonsep dan apapun itu semua. Sebagian yang lain malah menyalahkan kepengurusan yang baru karena keteledoran pemimpinnya dalam memanage lembaga itu.

 

Jika ikhtiar dari pengurus yang baru sudah dilakukan, dari penguatan internal diantara pengurus itu sendiri atau bahkan berbagai usaha-usaha lain dalam rangka penambahan barisan dakwah untuk segera merapat dan bergerak pun juga sudah maximal. Tidak ada secuil alasan untuk menyalahkan mereka.

 

Pun ketika pos-pos yang bertugas untuk memback up dari yang bertugas sudah menyerahkan pikiran mereka untuk megonsep seapik mungkin bagaimana ramuan yang pas untuk karakter di tahun ini dengan mempertimbangkan bahwa tiap tahun mempunyai karakter masing-masing yang harus berbeda pula pemetaanya.

 

Lalu apa yang salah? Mencoba untuk mengevaluasi kenapa hal semacam ini bisa terjadi. Diluar dari kata takdir yang berkata, bahwa tahun ini memang takdirnya segitu. Perkataan ini bisa membahayakan ghirah dalam mencari hikmah yang terjadi.

 

Bisa jadi semua itu karena diawal-awal kita salah untuk berharap. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin manusia itu berkuasa atasnya hanya akan menimbulkan kekecewaan. Jelas sekali bahwa  hanya Allah Subhanahu Wata’ala berkuasa atas segala yang di langit maupun di bumi. Seperti yang tercantum dalam Qs Al Baqarah : 284.

 

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” Qs Al Baqarah : 284

 

Berharap kepada selain Allah Subhanahu Wata’ala hanya akan menimbulken kekecawaan. Hal itu berlaku untuk berbagai bentuk macam permasalahan yang hinggap di tiap-tiap pribadi manusia. Berharap untuk diberiakn gaji yang lebih pada atasan karena kinerjanya yang naik, kemudian menuai kekecewaan karena ada yang lebih giat lagi dan si dia mendapatkan reward itu.

 

Manusia memang tidak pantas untuk diharapkan lebih. Tetapi kalau sudah mengetahui resikonya dan siap untuk kecewa silahkan saja untuk berharap pada manusia. Jika anda adalah seseorang yang pencemburu bila melihat ibu anda lebih mempercayai adik anda padahal anda lebih penurut dari pada adik anda, sama halnya juga dengan Allah Subhanahu Wata’ala yang cemburu juga ketika melihat hambanya yang memberikan harapannya pada manusia yang notabene dia tidak berkuasa apapun. Walaupun sebenarnya Allah pun juga tidak begitu membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan Allah.

 

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka[857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti” (Qs Al Isra’ : 57)

 

Sesungguhnya yang patut kita harapkan dari kesemuanya hanyalah Ridho dari Allah Subhanahu Wata’ala. Kita tidak tahu apakah yang terbaik untuk kita, tetapi Allah mengetahui diri kita apa-apa yang terbaik untuk kita dari pada kita sendiri. Yang kita anggap terbaik bagi kita belum tentu yang terbaik Versi Alloh bagi kita. Ketika ikhtiar sudah dimaksimalkan dengan tidak melanggar syari’at, maka serahkanlah pada Alloh. Berharap agar Alloh memberikan keberkahan atas yang telah kita lakukan. Bukan berharap pada manusia atas  usaha yang kita lakukan.

 

Mari berbenah bersama. Jika hal itu bisa dikategorikan sebagai “niat” maka luruskan selalu niat kita. Niat ketika dan ketika. Tak selamanya ketika di awal niat kita lurus, maka selamanya akan lurus, tetapi selalu perbaharui niat kita hanya untk Allah saja.

 

Seperti yang telah diriwayatkan oleh dua imam hadist Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al Bukhari dan Abu al Husain, Muslim bin al Hajjaj bin muslim al Qusyairi an Naishaburi, dari Umar bin Khatab ra, bahwa beliau mendengar Rasuluilloh saw bersabda, “ Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan yang diniatkan. Barang siapa hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaannya) Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan dililai sebagaimana) yang dia niatkan.”

 

Jika kau melakukan sesuatu untuk Allah maka kau otomatis akan medapatkannya yang kau harapkan, tetapi jika yang kau niatkan untuk seseorang yang akan kau nikahi, maka apabila kamu mendapatkannya, tetapi kau tidak akan mendapatkan ridhonya.

 

Yah mungkin bacaan ini sudah sering anda temukan di berbagai artikel-artikel tentang perbaikan niat ataupun yang lainnya, hal ini bukan bermaksud apapun kecuali pengingatan bersama saja kepada kita semua. Bukan hanya untuk yang membaca saja, tetapi juga sebagai peringatan keras bagi diri pribadi agar terhindar dari semua itu.

 

Ketika membaca suatu artikel yang sering kita temui mempunyai content yang sama, maka kadang kala kita malas untuk membaca. Just becarefull, yang namanya pengingatan bukanlah hal yang baru, tetapi untuk mengingatkan yang telah lama agar kita ingat kembali. Bisa jadi ketika kita malas membacanya ada rasa sombong dalam diri kita, dan perlu diketahui juga ketika ada rasa sombong maka ilmu apapun yang masuk ke diri kita tidak akan masuk meresapi, kecuali kembali keluar dengan jalan yang berbeda ataupun malah berbalik alias mental.

 

Jika tidak ada kebiasaan untuk saling mengingatkan jadi apa gunanya persaudaraan atau yang sering disebut “ukhuwah” itu? Nah kalau sudah ada kebiasaan mengingatkan maka Dionne Warwick, Steve Wonders and friends mempunyai lirik yang bagus dalam lagunya “ That’s what friends are for” means “itulah gunanya teman”…

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s