Ketika Akhwat Dalam Kebimbangan Yang Nyata


Siapa hati yang tidak menginginkan untuk menikah? Semua orang pasti akan menginginkannya, kecuali yang tidak ingin nikah. Tapi fitroh manusia memang demikian adanya. Saya mensurvey banyak orang, baik itu akhwat ataupun wanita ataupun temen-temen laki-laki, semua pernah tertarik pada lain jenis. Dan itu fitrah. Boleh asalkan dikelola oleh hati yang diajari hukum agama, bukannnya ngeles atas tindakannya, yang sebenarnya dia tahu hukumnya, tetapi dia sedang mencari-cari alas an untuk membiarkan perasaan itu selalu berkobar-kobar dan membenarkan atas tindakannya. Hati yang dibentengi oleh rasa takut oleh Allah, bahwa Allah tahu apa kata hati manusia. Sebersit pikiranpun.

Awal masa perkuliahan bahkan ada yang sejak SMA, pembahasan para akhwat yang saya ketahui adalah pembahasan “nikah”. Pembahasan favorit, mungkin kalau dirangking, bahasan itu adalah top of the top deh (bahasanya maksa banget, tapi tak apalah bebas berekspresi kan?). Pengen mendapat pendamping yang sholeh (waktu itu belum mengenal kata-kata ikhwan-akhwat, atau bahasa-bahasa arab yang lainnya). Tampan, mapan dan beriman yang kita inginkan, dan yang paling baik adalah yang poin terakhir. Sebenarnya banyak ikhwan yang mempunyai ketiga criteria tersebut, tapi masalahnya, mereka mau nggak sama kita?! (bukan begitu ukhti?, hehehehe)

Yah, mungkin ada yang mengatakan, ah malas ah bahas itu lagi. Ya, walau hati sedang pengen, tapi akan lebih baik jika pembahasannya sudah mendekati ke realisasinya. Karena ditakutkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Contohnya berandai-andai ingin memiliki ini- itu, wah 2x sudah nggak bener ni kalau seperti itu. Karena setan lebih cerdik dari kita. Kalau nggak pengen kalah cerdas kita harus dekat dengan big Bos kita. Bukan begitu?

Ketika hati sudah siap, tidak ada halangan untuk menuju kesitu, apa lagi yang harus dipikirkan lagi? Masa transisi ketika lulus dari menimba ilmu sangat rentan sekali terhadap hal-hal yang berbau seperti itu. Ketika ada seorang pemuda yang datang untuk menawarkan menuju ke pernikahan, tidak ada alasan untuk menolak terkait kesiapannya untuk menikah. Mungkin banyak sekali pertimbangan kenapa dia sangat membutuhkan waktu yang lama dan merupakan keputusan yang berat untuk sekedar diputuskan begitu saja. Ya, hanya ada 2 keputusan, diterima atau “dia mungkin akan mendapatkan yang lebih baik dariku” (kata yang lebih halus dari pada kata ditolak’). Mungkin ada beberapa wanita yang bisa bersikap tegas dengan keputusannya, ada juga yang menggantung sehingga masih ada celah bagi siapapun yang mau masuk.

Yah, wanita memang memiliki kelebihan “lebih bermain perasaan” ketimbang kaum adam. Bersikap tegas untuk menolak ketika memang itu bukan pilihan terbaiknya kadang itu sulit dilakukan. Sehingga banyak kaum hawa yang menggunakan kata menggantung si adam ketika tawaran itu dating. Nolak juga tidak, diterima juga tidak, nggantung begitu saja tanpa keputusan yang jelas.

Ada suatu kisah tentang sebut saja ‘si adam’, ‘si hawa 1’ dan ‘si hawa 2’.
Awal mula ‘si adam’ tertarik kepada ‘ hawa 1’, lalu dinyatakannlah perasaan itu kepada ‘hawa 1’. Dijawablah ‘si hawa 1’ dengan menggantung, kalau ditolak bagaimana, dan kalau diterima bagaimana. Terjadilah akad murabahah (emang jual beli ?? hehehe) yang benar, terjadilah keputusan yang menggantung. Ketika si adam sangat membutuhkan keputusan yang jelas dan tidak dia dapatkan dari ‘hawa 1’, si adam cenderung mencari ‘si hawa’ lain yang lebih menerima apa adanya ataupun yang memberinya keputusan yang jelas. Nah ketika ‘di adam’ sudah menemukan yang diharapkannya, ketika itu ‘si hawa 1’ mendengar berita bahwa ‘adam’ itu akan menikah dengan ‘si hawa 2’ hancurlah hati ‘hawa 1’, hawa 1 mengira ‘si adam ‘tidak bertanggung jawb terhadap yang telah dilakukannya. Bingunglah ‘si adam’, apa yang kulakukan salah atas ketidak jelasan keputusan yang diberikan kepadaku? Apapun yang dirasakan ‘ si adam ’ tidak akan merubah keputusan untuk menikah dengan ‘hawa 2’. Ya karena kalau ‘di adam’ melakukan banting setir akan digebugin secara rame-rame oleh pihak keluarga ‘hawa 2’ dan malah itu adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Maka terjadilah adegan “termehek-mehek” (hehehe, afwan bahasanya sangat hancur)

Ibroh yang bisa diambil dari kisah tadi adalah..
Sebagai wanita yang notabene dikaruniai perasaan yang sensi, berlatihlah untuk tegas dalam memperikan keputusan, bukan tergesa-gesa, tapi pikirkan sematang mungkin. Kalau orang plegmatis itu orang yang tidak bisa membuat keputusan, plin-plan dan kata-kata lain yang sejenis, maka membuat keputusan yang tegas itu bisa dilatih sejak dini kok. Jadi yang plegmatis jangan rendah hati gitu deh. (karena yang nulis adalah orang plegmatis yang damai . . . banget ^_^ v)

Kalau kita mendapatkan cobaan ini berkali-kali, mungkin artinya antum tidak lolos ujian, makanya Alloh selalu memberikan ujian remidi (remidinya remidi khusus lagi. . .), agar antum para hawa bisa membuat keputusan yang terbaik dan tegas. Ok sista ?!

Selamat mencoba !!!

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s