That’s What Friends Are For


Dalam satu tandan pisang, tidak semua matang secara keseluruhan buahnya. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua, maka sang petani ada kalanya harus menyimpan kembali beberapa minggu hingga matang semuanya.
Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat masaknya, kelak akan memiliki rasa yang sama, yakni memiliki rasa pisang. Meskipun waktu untuk menjadi matang pada pisang berbeda-beda.

Begitulah kita, tidak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu masalah dapat terselesaikan hanya dengan beberapa menit saja, tapi bagi orang lain belum tentu. Ia butuh waktu untuk menyelesaikannya, bahkan belum sampai pada kesempurnaan. Namun pada akhirnya hasil yang didapatkan tetap dapat dirasakan.

Dalam hidup ini tak seorangpun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena diantara kita memang tidak sama dan serupa. Kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan yang berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda. Yang mesti diingat adalah setiap orang memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan. Betapapun itu harus dpergilirkan. Karenanya percuma saja memperdebatkan suatu ketidak samaan, perbedaan, dan ketidakcocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu.

Sungguh tak ada yang sempurna diantara kita, maka janganlah rendah diri. Semua butuh proses menjadi lebih baik…

Ya kira-kira itulah kalimat penuh makna nan daleeeem yang dihantarkan dengan filosofi pisang yang membutuhkan waktu yang berbeda-beda dalam kematangannya. Subhanalloh sekali katika saya kembali diingatkan oleh seorang sahabat yang sangat plegmatis. Disamping orang plegmatis mempunyai nilai plus dalam pengelolaan emosi, sabar, baik hati, tidak bisa mengatakan tidak, behind the scene, plegmatis mempunyai kepekaannya yang lebih, jika saya boleh menilai bahwa orang yang plegmatis menyimpan kata-kata bijak yang tercover oleh sifat introvertnya.

Saya mengira hanya orang coleris saja yang bertanya dalam hatinya “Kenapa dia tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini sepertiku?, kenapa dia berbeda sekali dengan dia yang dapat melakukan ini itu?”. Yah, saya ‘kecolongan’, bahwasanya orang plegmatispun sedikit bertanya-tanya seperti orang coleris. Tetapi pertanyaan itu kembali diluruskan oleh sang plegmatis sejati. (bahasa yang membingungkan bukan? Tapi tidak bagi saya yang menulisnya.hehehe)

Kembali saya mengevaluasi dalam menyikapi suatu permasalahan, dalam kacamata yang berbeda pula. Harapannya ketika melihat masalah dengan berbagai sisi ataupun dengan kacamata yang mempunyai ketebalan, warna bahkan bentuk kacamata yang beranegaragam, maka masalah itu tetap terlihat sama dengan prespektif yang berbeda. Mungkin dalam bentuk masalah yang sama akan terllihat berbeda karena posisi memandangnya pun berbeda. Tidak ada salahnya melihat dari manapun sisinya. Tetapi yang kemudian harus disikapi adalah pemahaman dari semua pemandang di sisi yang berbeda tadi bahwasanya masalah itu sesederhana yang dilihat oleh pemandang lain.

Ketika kita menggambar sebuah meja dengan prespektif dari atas, maka titik yang diambil berbeda dengan ketika dia mengambil prespektif dari samping, pun sangat berbeda pula ketika diambil dari prespektif depan. Yang kemudian harus diperhatikan adalah obyek yang digambar itu “sama”, maka akan menjadi hal yang sia-sia ketika memperdebatkan perbedaan-perbedaan yang ada.

Saya kembali diingatkan setelah kalimat selanjutnya kembali tersambung “Janganlah melihat masalah secara subyektif, tapi pandanglah secara menyeluruh”. Ya, kadang-kadang kita ( mungkin saya kali, bukan kita) mendengar berita hanya sepotong-sepotong dan menelannya mentah-mentah, tanpa memberi kesempatan yang terkait untuk memberikan penjelasan. Makanya Metode yang baik adalah penyampaian ‘tabayun’, agar antara yang terkait tidak ada dzon-dzon yang mengakibatkann buruk sangka pada saudara sendiri.

“Jangan rusak hubunganmu dengan seorang teman oleh prasangka buruk, padahal sebelumnya engkau yakin benar akan kebaikannya”

Dalam Qs. Al Hijr :85
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, melainkan dengan kebenaran. Dan sungguh, kiamat pasti datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang bijak”

Yah, mungkin ada beberapa kemungkinan yang mendasari itu semua, prasangka-prasangka yang hinggap di benak seseorang ketika dzon-dzon itu menyergap. Pun juga tidak boleh menyalahkan sepihak juga (sedikit membela diri ceritanya). Mungkin salah satunya adalah kejadian masa lalunya yang membuat sedikit trauma, karena dia sudah mengalami kasus yang sama dengan membuahkan hasil yang tidak begitu menyenangkan. Perasaan tidak rela kehilangan atas apa yang telah didapatkannya dahulu. Ketidak relaan ketika perubahan itu membuatnya merasa semua yang telah dimilikinya dahulu terampas (yah mungkin hanya perasaan saja).

Satu pelajaran yang mungkin bisa dijadikan evaluasi kedepan sehingga ketika ujian itu datang lagi dengan kasus yang sama, maka dengan mudahnya kita menyelesaikan itu dengan cantik. Tidak tergesa-gesa, tepat, cermat dan berbuah yang baik. Dan ketika pisang itu sudah masak, maka pisang gorengpun bisa disajikan. Bukan begitu saudara?!

Terimakasih atas pelajaran yang berharga ini teman. Bukankah saling belajar sangat mengasyikkan? Selain itu akan menambah kedewasaanku (yang nambah dewasa saya saja ya, hehe)

^_^

11:04 pm @ My Little room
13’th, may ‘10

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s