Tentang sebuah cita-cita (edit)


Tentang sebuah cita-cita

Menggunakan internet bisa membuka banyak sekali cakrawala. Ada ilmu disana, ada silaturahim disana, ada kabar bagus disana, asalkan kita menggunakan dengan bijaksana. Tapi ada maksiat juga disana kalau kita menggunakannya dengan tidak bijak.terhadap diri sendiri.

Jika ingin menjadi orang besar, sering-seringlah melihat profil orang-orang hebat. Karena dari sana kita akan tertular motivasi itu. Kesuksesan itu akan ada ketika motivasi ada dan disertai dengan ikhtiar, juga doa tentunya.

Ya setidaknya itu oleh-oleh yang kudapat setelah melihat profil seorang bapak, dan sekaligus seorang dosen di universitas negeri di Solo. Ilmu beliau luar biasa di bidang tecknologi dan tambah luar biasa lagi karena hal itu disangkut pautkan dengan ilmu spiritual, ilmu islam tentunya karena beliau adalah seorang muslim.

di percakapan yang singkat itu ada yang bertanya, karena yang dibahas tentang luar negiri maka orang itu bertanya kepada bapaknya “ wuaaa, pengennya aku kesitu, kira-kira siapa ya yang akan membawaku kesana?. Kemudian dijawab oleh bapaknya “ Yang akan membawamu kesana adalah kualitas diri”. Ya kira-kira kalimat itu yang membuatku agak tertampar “mak jleb-jleb”.

Hal ini bukan kusangkut-pautkan dengan ke “luar negri” saja. Tapi yang bisa kuambil hikmah dari percakapan diatas menyangkut hal yang lebih luas lagi. Yaitu tentang sebuah cita-cita.

Ya, siapa sih yang tidak punya cita-cita? Sama artinya dengan tidak mempunyai mimpi. Seperti pesan yang sukses tersampaikan melalui film “Laskar Pelangi”, sekiranya fillm itu sudah cukup memberikan pelajaran akan pentingnya mempunyai mimpi yaitu cita-cita itu sendiri. Banyak sekali citacita di tiap individu, Ada yang ingin bercita-cita lanjut S2 ke luar negeri, ada yang ingin langsung S3 (Baca : Istri) yang sholihah, atau suami sholih, menjadi hafidh / hafidhoh, menjadi seorang ilmuwan, menjadi seorang pilot dan masih banyak lagi.

Jika dalam “Sang pembawa Jejak” yang disampaikan oleh Danang AP seorang mahasiswa berprestasi Nasional tahun 2006 dari IPB tentang 100 mimpinya itu. Satu-persatu mimpi itu dicoretnya karena yang tercoret berarti hal itu sudah terwujud. Salah satunya adalah mengibarkan bendera merah putih di gunung fuji. Dan perjuangan untuk ke gunung fuji itu tidaklah sesederhana yang kita kira. Ke jepang trus naik ke gunung Fuji melalui helikopter, setelah sampai dipuncak tinggal dikibarkan benderanya, mak clep, selesai. Tidak seperti itu tentunya. Ada prestasi disana yang mengantar beliau ke jepang, ada perjuangan disana yang membuat beliau mencoret mimpi-mimpinya satu persatu. Hemmm, lagi-lagi tentang kualitas diri..

Mempunyai mimpi jika hanya dipandang saja tanpa adanya ikhtiar bagaikan melihat kilauan bintang dilangit diatas genting rumah saja. Hanya bisa memandang, tanpa menggapainya. Beda sekali kalau kita mempunyai bintang di atas atap langit-langit kamar kita. Yang ketika lampu menyala bintang itu tidak bersinar karena memang tidak memancarkan cahaya, tapi kalau lampu kita matikan bintang itu akan bersinar walaupun tidak lama. Nah dengan jarak langit-langit kamar yang tidak terlalu jauh, maka secara realistis kita bisa menyentuhnya kan? Karena yang memasang kita sendiri. Hehe, yang saya maksud bukan berapa banyak bintang antara bintang di langit dengan bintang di alam semesta, atau lebih indah mana bintang diantara kedua itu.. bukan seperti itu. Tapi sebuah langkah yang realistis yang kita tempuh untuk menuju kesana. Yang membuat cara kita berpikir realistis untuk menggapai mimpi.

Cita-cita itu akan datang kepada kita seiring dengan meningkatnya kualitas diri kita. Semakin diri kita berkualitas, maka semakin besar kemungkinan mimpi itu akan tercapai. Menunjukkan kualitas diri cukup kepada Alloh saja, bukan kepada manusia. Yaitu dengan cara memperbaiki niat di dalam hati. Niatnya untuk beribadah saja kepada Alloh, InsyaAlloh Alloh akan mengantarkan kita kepada cita-cita itu, mengenalkan kualitas diri kita tanpa ada rasa riya atau sombong bahwa kualitas kita sudah lebih baik.

Nah peningkatan kualitas diri ini sangat tepat sekali di momen ramadhan kali ini. Pendekatan diri pada Sang Pencipta dengan merealisasikan targetan-targetan yang sudah kita susun sebelumnya. Dan kita akan melihatnya selepas ramadhan ini. Jika kita lebih baik dari bulan sebelum ramadhan terutama tentang kedekatan kita sama Allah, maka bisa jadi salah satu impian kita tercapai, yaitu sukses dengan ramadhan tahun ini, sukses akan targetan-targetan yang kita pasang sendiri.
Salah satu langkah realistis yang kita buat sendiri demi kesuksesan ramadhan tahun ini. Dan tentunya juga tidak terlalu tinggi dalam hal targetan, karena sudah dipertimbangkan dengan kemampuan diri kita. Dan jika targetan kita masih terpontang-panting, maka perlu di upgrade lagi tentang kualitas diri ini. Karena kualitas diri ini mungkin akan terbiasa ketika dipaksa. Memaksakan diri atas targetan tiap harinya. Jangan menjadi pribadi yag manja hanya karena alasan-alasan yang membuat targetan ini tidak tercapai. Meminta rukhsoh (keringanan) pada diri sendiri hanya akan membuat kebiasaan yang kurang baik. Oleh karena itu, mari tingkatkan kualitas diri kita di momen yang tepat ini. Menjadi pribadi yang berkualitas itu tentang pribadi yang selalu balajar kepada siapapun tanpa memandang siapaun yang menyampaikan, mengambil hikmah dari setiap kejadian dan membuatnya menjadi semakin bijak.

Selamat menggapai cita-cita dengan kualitas diri!!!

Solo, 09 agustus 2011

2 thoughts on “Tentang sebuah cita-cita (edit)

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s