Diriku yang terseok dalam kata istiqomah


Suara itu, entah berasal dri mana datangnya, kurang begitu jelas di telingaku. Aku tidak tahu apakah itu suara dari Mu ataukah bisikan setan, bahkan aku pun tak tau itu suara kebaikan atau keburukan. Membedakan baik burukpun aku tak bisa, keduanya hampir sama. Perbuatan yang terlihat baik dan menurutku penting bisa saja menjadi boomerang yang membunuh diriku karena ketidakmampuanku melihat dalam kasat mataku, dan semuanya menjadi hancur berkeping-keping karena sedikit rasa ingin diakui oleh makhluk lain, pun perbuatan yang terlihat buruk mungkin ada sesuatu yang tidak pernah kuduga bahwa didalamnya mengandung kebaikan, walaupun itu kecil dan itu bisa menambah berat timbangan.

Makhluk macam apa aku ini yang tidak tahu terimakasih akan nikmat yang Engkau berikan padaKu. Engkau berikanku nikmat sehat yang gratis, tetapi ku kadang tidak menyadarinya betapa sungguh ini sangat berharga. Untuk melihat pun diriku jelas tanpa butuh bantuan alat penyambung.

Makhluk macam apa aku ini yang selalu menyangsikan Mu akan rizky yang Engkau berikan untukku, yang selalu merasa kurang kurang dan kurang seberapapun Engkau memberikan. Padahal Engkau telah menjelaskan dalam surat Mu yang penuh dengan Kasih saying, surat Ar Rahman. Nikmat mana yang kamu dustakan? Sebuah kalimat retoris yang tidak membutuhkan jawaban, karena memang sungguh banyak nikmat yang Engkau berikan untuk diriku. Sungguh bodoh diriku ini yang selalu lupa akan hal ini.

Makhluk macam apa aku ini yang selalu mencari Cinta lain selai Cinta dari Mu, apakah tidak cukup Cinta yang Engkau berikan kepadaku? Pertanyaan yang sangat membuatku tertohok, karena lidahku menjadi kelu untuk menjawabnya. Membiarkan cinta yang lain berkembang pesat melebihi Cinta ini kepada Mu.. seakan tidak percaya kepada Mu bahwa Engkaulah yang akan memilihkannya untuk diriku.

Makhluk macam apa aku ini yang selalu mencari pengakuan orang lain karena mengaku beriman kepada Mu, bagaimana aku bisa dikatakan beriman? sedang aku selalu mendewakan itu semua tank mempercayai Takdir yang telah Engkau tetapkan sehingga diriku bertindak tanpa seijinMu, bertindak tanpa memikirkan apakah Engkau Ridho dengan perbuatanku itu.

Arghhhh, sungguh aku malu jika slide show itu diputar kelak. Malu jika diriku yang dianggap baik ini ternyata masih terseok dalam kata Istiqomah, yang selalu saja tidak bisa membedakan suara Mu dan suara setan. Menjadikanku terjebak. Terjebak? Kata yang seakan menyalahkan lingkungan sekitar dan mencari pembenaran diri.

Ya Rabb, cukupkanlah rasa nikmat ini dengan selalu bersyukur kepadamu, Cukuplah hanya cinta Mu saja yang aku cari dan aku agungkan, dan cukuplah rasa iman ini untuk percaya kepada setiap keputusan yang Engkau berikan. Ya Rabbi, belai aku..

4 thoughts on “Diriku yang terseok dalam kata istiqomah

  1. Fah, duniamu kok dipenuhi dengan “Istiqomah” to?
    hehe,…
    Btw, widget “follow”-nya dikeluarin aja, biar temen2 yang suka baca tulisanmu bisa ikut berlangganan,… oke?
    Ditunggu post2 selanjutnya…

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s