Ketika Alloh masih menutupi Aib kita


Pagi yang indah untuk semua hati dengan berbagai kondisi. Jum’at pagi yang diawali dengan evaluasi diri yang mendalam tehadap apa yang telah lalu. Saya tertarik untuk menuliskan beberapa bait kata indah dari seorang umahat di pagi hari ini dalam statusnya

Dunia … dunia … tiap hari kau bersolek
Menjebakku …
Memancingku ..
Tuk melupakan hakikatmu …
Akhirat adalah keindahan sejati ..

Berhias semua keindahan ..
Andai harus dibandingkan
Semua keindahan dan kenikmatan dunia
Hanya 1 bagian saja
Sedang yang 99 bagian
Adalah milik akhirat

Diantara wajah aslinya adalah
Orang yang rakus adalah fakir, meskipun ia memiliki seluruh kekayaan dunia
Orang yang taat kepada Alloh akan ditaati manusia, meski ia seorang budak
Orang yang Qona’ah adalah kaya, sekalipun ia sering kelaparan

Duhai jiwaku lihatlah dunia dengan ketajaman mata batin..
Karena yang nampak di mata sering tipuannya
Siapa orang yang kaya dan berkuasa atas dunia adalah orang yang bisa jadi saat di dunia tampak hina dan demikian sebaliknya

Wahai jiwa.. lalu siapakah dirimu??
Akankah kau tipu semua manusia??
Sedang Alloh maha Tahu siapa dirimu yang sesungguhnya

Duhai Robbi, bimbing langkahku, terangi jalanku, tunjukkan kebenaran atasku dan dekatkan aku dengan orang-orang yang sholeh dan selamat
Aku rindu padaMu, ijinkan aku termasuk hamba Mu yang Engkau ijinkan menatap wajah Mu di surga nanti

Aamiin

Sungguh kata-kata ini lebih sejuk dari air es, lebih indah dari lukisan manapun.

Wahai jiwa, siapakah kau sesungguhnya? Akankah kau tipu semua manusia dengan tingkahmu sedangkan Alloh Maha Tahu?? Siapakah kau ini dengan tingkahmu yang engkau perbuat, tampak indah di mata manusia, tetapi jika Alloh membukanya maka kau akan hina dina??

Sungguh beruntung sekali manusia dalam kehati-hatiannya dalam bersikap. Mengatasnamakan iman yang naik turun yang menjadi kambing hitam atas perbuatannya.Mungkin yang sedang bermasalah adalah tentang kedekatan jiwa ini dengan Sang Pencipta.

Apa jadinya jika Alloh membuka tabir atas kita? Yang ada rasa malu yang sangaaaat. Kemudian pertanyaan itu berlangsung, mau dibawa kemanakah rasa malu itu? Dengan siapakah kau merasa malu? Dengan Alloh ataukah dunia yang menjadi saksi ataukah dengan jiwa lain yang ia selalu berhusnudzon baik atas jiwamu??

Kembali mengutip dari kalimat salim A Fillah yang membekas diingatanku dalam bukunya “Dalam Dekapan Ukhuwah”

“aku mengenal baik siapa diriku
dulunya dia adalah setetes air yang hina
kelak akan menjadi sekujur bangkai membusuk
kini ia berada diantara kedua hal itu
hilir mudik kesana kemari membawa kotoran

Kemudian dilanjutkan dengan kata-kata yang indah tentang sebuah kenyamanan yang berasal dari kita maupun saudara kita, tentang sebuah ketidaknyamanan yang bersumber dari kita ataukah dari saudara kita dalam berukhuwah. Ketidaknyamanan zahir maupun batin. Dalam kutipan selanjutnya

 … tapi ada yang jauh lebih menghalangi kedekatan dibanding ketidaknyamanan zhahir. Ialah ketidaknyamanan batin terhadap diri kita sendiri. Kita merasa kotor, berbau, dan kerdil berhadapan dengan saudara seiman. Kita merasa telah terputus dari ikatan cinta dengan mereka akibat kemaksiatan yang kita lakukan.

“Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang karena Alloh berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang disebabkan oleh salah seorang diantara keduanya (HR. Al bukhari dan Ahmad)

Awal-awal ketika hati masih peka mengenali kemaksiatan sendiri, kitalah yang merasakan ketidaknyamanan batin. Tetapi jika perilaku dosa itu berlanjut, ketidaknyamanan itu juga akan makin hebat dan meningkat. Bukan hanya kita yang merasakannya, melainkan juga orang yang kita kasihi. Bisa jadi kemaksiatan yang kita lakukan telah membuat Alloh murka, lalu Dia tanamkan rasa benci kepada kita, di dalam hati hamba-hamba yang dicintai Nya. Na’udzu billaahi min dzalik..

Yaa,  mungkin saat ini yang sedang saya rasakan, saya tidak tau bagaimana pendapat orang lain terhadapku, baik atau burukkah? Tapi sungguh ada ketakutan besar dalam diri saya ketika ada orang yang luar biasa berhusnudzon (berbaik sangka) terhadapku. Karena diriku sering merasa diri ini tidak pantas mendapatkan itu semua. Husnudzon itu ada karena Alloh masih berbaik hati menutupi aib-aib ku. Dan bagaimana jika tabir ini dibuka lebar oleh Alloh??

Tapi ketika itu ada seorang saudara yang berkata kepadaku ketika ku berkata hal baik dengannya, tentang husnudzonku terhadapnya. Dia berkata “jazakillah, semoga husnudzon anti adalah pengharapan darimu untukku dan merupakan doa darimu untukku”. Dan sejak saat itu saya belajar darinya tentang menyikapi husnudzon orang lain.

Ini tentang sebuah kenyamanan diriku dalam mengharapkan RidhoNya. Tentang harapan ampunan Nya atas lintasan kemaksiatan-kemaksiatan yang telah kuperbuat dan Dia telah menutupinya.. atas ketidakmaluanku lagi terhadap hal yang tidak diridhoiNya.

Solo, 03 Februari 2012

9 thoughts on “Ketika Alloh masih menutupi Aib kita

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s