Kekuatan kata pada budaya ‘Saling Menasehati’


Berkata memang mempunyai seni tersendiri. Dalam merangkai sebuah kata pada kalimat, pemilihan diksi, penggunaan intonasi dan nada bahasa, yang masing-masing orang akan mempunyai cirri khas. Beberapa orang bisa merangkai kalimat indah menjadi bentuk kata-kata yang berisi, penuh makna dan sangat mendalam.

Pesan yang disampaikan mungkin sangat dalam, menohok dan menampar-nampar tetapi pembawaannya sangat lembut, mengalir perlahan tanpa menggurui. Itu adalah perkataan yang paling banyak disuka.

Saling menasehati baik dalam lisan maupun tulisan. beberapa orang mempunyai seni dalam bidang ini. Mengolah kata yang tertuang dalam tulisan ataupun lisan secara langsung face to face.

Pada dasarnya manusia itu tidak suka dinasehati, karena ego individu yang terlalu tinggi dan adanya anggapan “ini hidup ku, dan tak ada hubungannya denganmu”. Ya memang secara takdir pun masing-masing kita berbeda-beda. Itulah fungsi dari “persaudaraan”, saling menasehati, saling mengingatkan dan saling menegur bila salah.

Kata-kata yang menggurui, baik lisan maupun tulisan akan dihindari sebagian orang. Saya pun juga tidak suka jika ada yang menyampaikan itu kepada saya. Saya cenderung orang yang jika dilarang, maka saya cenderung ngeyel, jika yang menyampaikan tidak cantik. Bisa-bisa saya menangis karena sakit hati, huhuuuu. Ya mungkin yang disampaikan benar, tetapi cara penyampaiannya saja yang kurang cantik. Dan membuat tidak nyaman obyeknya.

Budaya saling menasehati memang harus dibiasakan sesama saudara. Jangan lupa juga, menasehati harus dengan etika. Misal cara penyampaian yang lembut, tidak ditempat umum yang bisa saja membuat nama baiknya jadi buruk, dan beberapa etika lainnya.

Jika ada kalimat “berbicaralah yang baik, jika tidak bisa maka lebih baik diam”. Maka itu benar adanya, heheee. Kalau berbicara hanya untuk menyakiti saja dijamin bakal dijauhi banyak orang. Lidah itu tak bertulang temans, jadi hati-hati ketika akan mengeluarkan kata-kata.

Ya, memang ada kalanya kita berbicara agak keras, tentunya melihat obyek yang diajak berbicara dengan tujuan ingin menyadarkan “Ini lho, hasil perbuatanmu itu”. Dengan tidak menjelaskan panjang lebar. Memberikannya waktu untuknya berintrospeksi diri. Hal itu lebih baik dari pada mendikte mana saja kesalahan yang telah dia diperbuat.

Hemm, karena manusia memang diberikan kelebihan dibanding makhluk lainnya. Mempunyai akal yang bisa berfikir baik dan buruk, dan mempunyai hati untuk mengartikan pesan apa yang diberikan Alloh, apakah berupa ujian atau teguran.

Kekuatan kata itu sungguh dahsyat, bisa membuat orang yang semula belum baik menjadi lebih baik. Bisa membuat yang tersesat menjadi lurus kembali, menjadikan yang sedang bersedih kembali tersenyum, menjadikan yang pesimis menjadi optimis. Itulah kekuatan kata itu..

Selamat berkata-kata yang baik temans😀

Masjid Nurul Huda, 26 April 2012

Ulfah Uswatun Hasanah

7 thoughts on “Kekuatan kata pada budaya ‘Saling Menasehati’

  1. kalau sayamah memilih diam dari pada mengumbar kata terlebih hal hal yang sifatnya pribadi… tapi kalau di pinta barulah mau berkata hehe.. (cari aman saja)…

  2. bila kata tak tersampaikan
    lalu diam dalam doa
    karena Dialah yang akan berkata lewat orang lain yang bisa berkata
    inilah diam adalah emas

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s