Bekerjalah, maka Keajaiban..


Tak ada sendau gurau dalam garis takdir yang ditetapkan ALloh pada makhlukNya. Meyakini Qodarulloh merupakan rukun iman yang wajib kita yakini, tidak bisa ditawar, tidak bisa dikurangi.

Emm, tentang maisyah yang akan dilakukan masing-masing individu. Pencarian nafkah dilakukan semata untuk mencari keridhoanNya, efeknya kita mendapat berupa gaji bulanan bagi yang bekerja bulanan atau setiap haripun bisa gajian kalo kita berdagang, efek selanjutnya bisa berupa makanan pokok, cemilan, sandangan dan banyak yang tak terhitung lainnya.

Bekerjalah, maka tunggulah keajaiban. Ikhtiar , berdoa dan selanjutnya pasrah kepadaNya atas usaha yang telah dilakukan.  Yap, sekali lagi Rencana Alloh itulah yang terbaik, diantara rencana-rencana kita yang sudah terdeskripsi.

Bagi saya bekerja adalah harga diri. Karena pengangguran, yang tak melakukan aktivitas itu sangat menyiksa. Bekerja tidak harus berstatus ‘karyawan’, tetapi berbuat sesuatu yang menghasilkan. Menghasilkan karya, menghasilkan uang, dan menghasilkan apapun bentuknya.

Sesuai dengan profesi bidang yang saya tekuni di perguruan tinggi seharusnya saya masuk di dunia “Kontraktor”. Dunia Teknik Sipil yang fokus dengan bangunan. Tetapi selapas dunia kampus itu saya tidak berkecimpung dalam hal itu. Ketrampilan auto cad  yang hanya untuk orang teknik pun selanjutnya hanya bisa dikatakan hobi menggambar saja, disamping ada ketrampilan lainnya di bidang grafis yang dipelajari secara otodidak.

Jangan ditanya kenapa saya bisa masuk teknik. Karena saya mempunyai rencana dan ternyata takdir saya masuk ke dunia itu. Dalam bahan muhasabah untuk diri saya, sering saya bertanya apa maksud Alloh memasukkan ke dunia yang sebelumnya tak saya kenal di SMA. Teknik sipil?? Tak terbayang sama sekali saat itu. Saya tau istilahnya saja dari teman saya yang dulu pernah satu kelas di kelas 2. Selanjutnya?? Never Mind.

Ya, sedikit demi sedikit saya menemukan puzzle yang misterius itu tentang “Kenapa saya dimasukkan di dunia itu”. Julukan ‘Bu Nyai’ yang membuatku NgekekGubrak mendengarnya. Itu julukan yang mereka sebut untukku. Dari 50an mahasiswa memang saya seperti alien yang berbeda sendiri dengan 10 mahasiswi di kelas saya. Kemudian pertanyaan itu selanjutnya terjawab dengan pertanyaan kembali “Apa yang bisa kuperbuat untuk mereka”. Hemmm.. Berat berat berat..

Seorang saudari mengingatkanku akan makna semangat berusaha. Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sunguh maka ia pun akan mendapat kesungguhannya. Kalau kita jujur pada niat kita, InsyaAlloh Alloh akan beri jalan.

Pernah 2 kali mengikuti tes CPNS PU saat itu, sekitar 2 tahun yang lalu. Berangkat bersama teman-teman sekitar 10 orang. Pengalaman yang menyenangkan bersama mereka. Sebelumnya pernah kutilis di note fesBuk Kenangan. Dan ternyata juga saya tidak ditakdirkan disana. Rasa kantuk yang begitu hebat ketika sedang test CPNS di jakarta itu juga bukan menjadi penyebab kenapa saya tidak diterima di PU.

Pernah mencoba di BUMN yang test di Jogjakarta. Dua orang, saya dan teman saya putra dari karanganyar. Test demi test, kita lolos, dan sampai tes ke empat dari 6 tes saya gugur, dan akhirnya teman saya yang mendapatkannya. Sekali lagi Qodarulloh, tidak mengkambing hitamkan “Gara-gara saya menjawab ini sih” bukan seperti itu. Ya itu mungkin itu adalah alas an yang dianggap “Logis” untuk manusia dari Nya, bahwa memang ‘kamu itu tempatnya bukan disana, hey Ulfah’. Heheee..

Dan selain itu saya tidak mencoba di kontraktor, konsultan CV local, dan perusahan lainnnya, mungkin minatnya sudah berkurang. Masa pencarian itu harus direncanakan. Karena saya seorang wanita saya tidak berambisi untuk berkarir. Jadi ketika di perusahaan besar kemudian ditanya kesanggupanya untuk bekerja di luar pulau?? Krik krik krik (hening melanda), tapi setelah itu saya jawab. “ya kalo sudah ditemukan dengan suami saya konsultasikan dulu pak)😀..

Dimana kita bekerja itu juga mempengaruhi cara berfikir kita secara tidak langsung. Jika yang dilakukan dengan cara asal dapet uang tanpa memikirkan jalannya apakah halal atau haram?? Hemm, just becarefull. Secara psikologis, jika caranya halal, maka di hati itu selalu nyaman, sejuk dan merasa tercukupkan. Karena merasa yang memberikan gaji itu bukan manager perusahaan, tetapi yang menggaji adalah Alloh melalui Manager ituh.

Seperti kata Salim A Fillah

“Rizki kita sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, mau diambil lewat jalan halal atau haram, dapatnya segitu juga, yang beda adalah rasa berkahnya”

Bekerja apapun itu yang  penting berkah. Bagaimanapun juga perut kita perlu diisi, dan untuk mengisi perut memerlukan makanan, dan untuk membeli makanan memerlukan uang. Jika uang yang kita dapat berasal dari hal yang tidak halal, maka seluruh anggota tubuh juga ikut imbasnya. Itu artinya ikut merasakan panasnya api neraka. Naudzubillah..

12 thoughts on “Bekerjalah, maka Keajaiban..

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s