Anugerah atau Musibah??


Anugerah atau musibah???

Entahlah ini sebuah anugerah ataukah musibah? Sudah berbulan-bulan ku belum bisa mengartikan pesan ini. Ku tak peka terhadap apa yang Ia sampaikan padaku. Satu hal yang membuat sesak di dada ketika mengingatnya.

Dalam jeda waktu masih sering kubertanya. Ada apakah dibalik semua ini? Kenapa harus terjadi kepadaku jika akhirnya seperti ini. Kenapa kenapa dan kenapa? Pelajaran yang kudapat?? Entahlah, ku memang kurang cerdas dalam kasus kali ini.

Kasus serupa pernah ku alami beberapa tahun lalu, dengan kekuatan yang sama. Antara keinginan dan realita? Dan ku menang atas nya. Karena memang saat itu adalah masa kejayaanku, masa dimana idealisme masih melekat erat di hati, jiwa maupun raga. Masa dimana ku menemukan hal yang semula memang tak kudapatkan di diriku dulunya.

Hemm…

Apakah ini Anugerah ataukah musibah? Masih belum ku mengerti. Kala itu ku memutuskan untuk selalu bahagia, dan menganggapnya tak pernah terjadi. Tapi memang tak bisa kuhilangkan sepenuhnya, karena hal itu pernah menjadi episode masa lalu. Bukan tak bisa, tetapi belum bisa. Jika saja memory otak ini semudah PC dalam meng-instal ulang, maka akan kulakukan. Dengan segera..

Be a new person, shiftDel then open newFolder makeAdata and save it. Tapi hanya tawa ejekan yang timbul setelahnya. Semuanya butuh proses, dan proses membutuhkan waktu. Tak sabar ku menunggu sampai waktu itu tiba. Sampai tidak merasakan sesak. Sampai bahagia itu benar-benar masuk sampai ke pembuluh darahku.

Kenapa? Dan pertanyaan itu selalu muncul. Jika pikiran sedang dekat dengan suudzon, maka kalimat itu berlanjut dengan ‘seandainya’. Seandainya hal itu tak pernah terjadi, pasti tidak akan seperti ini. Kalimat yang semakin memperburuk keadaan.

Hikmah yang kudapat?? Pelajaran yang bisa kuambil? Hemmm, Yang ada malah menghindar, seperti ‘trauma’ . Tak menyelesaikan masalah, tapi bisa meredamnya walau sedikit. Ataukah lewatku ada yang sadar akan tidurnya selama ini? Hidayah?? Aaahh, bahkan aku tak berhak mengatakannya. Hanya Dia yang memberikan hadayah itu, bukan dari manusia. Apalagi aku.  Tapi ku selalu berharap ia  lebih dekat dengan Nya. Entah, ku menginginkan hal itu terjadi. Walaupun ku tak tau apakah itu akan terjadi atau tidak. Sekali lagi itu kuasa Nya. Dan ku juga ingin lebih dekat dengan Nya, setelah ku merasa jauh dari Nya. Bukan Ia yang menjauh, tapi aku yang menjauhi Nya.

Tak apa jika luka itu pernah ada. Walau luka non fisik itu tetap membekas, akan ku plitur sampai tak terlihat retakan di pinggir lubangnya. Memberikan cat dasar dan cat luar yang memperindah lagi. Dan tetap ku berharap semoga kebarokahan selalu menyertainya, menyertaiku, dan menyertai saudara-saudaraku yang menjadi bagian dari sepotong episode kehidupanku. Selalu ingin aku, ia, dan mereka  menjadi lebih baik, lebih dewasa, lebih peka, lebih dekat dengan Nya. Dan bisa membedakan antara Anugerah ataukah musibah, tidak sepertiku yang masih terseret dalam kalimat itu. Satu hal, kuyakin akan ada hikmah dibalik semuanya yang tersembunyi dan akan kutemukan.

Tak bisa instan. Perlu proses. Sabar. Konsisten. Integral. Istimror. Dan Istiqomah…