Dalam kemerdekaan itu ada proses “Belajar”


Yeyeyeeeeeeeee, tau kan artinya merdeka? Tidak terikat, bebas, tidak terbelenggu dan rasanya freee gitu..

Heheee, Alhamdulillah. Tak disangka tak dinyana akhirnya waktu itu tiba juga. Hal yang sangat membelenggu dan membuatku tidak produktif akhirnya berlalu juga. Tapi gak berpengaruh juga si, karena memang aku juga tidak terlalu mau memikirkannya. Tapi ketika rasa itu tiba, rasanya seperti terbebas dari tambang yang mengikat kaki, terbebas dari topi yang menekan kepala, dan terbebas dari kalung yang membebani dan mencekik (hayyaah lebaying) hehee

Ya seperti itulah gambarankuh saat ini, semoga bisa bertahan lama dan tak terjajah lagi. Walaupun begitu ku meski mawasdiri, tak boleh ceroboh, tak boleh nggleyer-nggleyer gak nggenah dan harus lebih berhati-hati lagi. Belajar dari yang sudah-sudah.

Berjalan kembali meneruskan perjalanan dan waspada akan lubang yang pernah membuatku jatuh. Emmm, menghindari lubang itu jika sudah hafal letaknya atau memperbaiki cara jalan yang ceroboh ya? Terlalu menyepelekan batu-batu kecil yang melintang juga bisa menjatuhkanku jika ku tak hati-hati. Jadi sementara ini kesimpulanku harus dua-duanya, memperbaiki cara jalanku dan menghindari lubang itu. Menghindari itu jika kita sudah hafal dengan letaknya, jika belum?? Yah, dianalisa dulu. Dasar sukanya memang menganalisa orang, kadang tepat tapi dkadang luput. Banyak luput atau tepat ya?? Ah, kagak usah difikirkan. Sesuai dengan kata hati yang dekat dengan Nya sajah. Bukan sesuai dengan kata hati yang dekat dengan syaitan. Bicara mata batin / bashiroh memang hanya diberikan oleh orang-orang tertentu, selebihnya hanya menerka saja, heheeeh..

Saya mengambil kata-kata dari ustadzah marijati tentang hakikat belajar. Belajar dari sisi kehidupan antara idealita dan realita.

Belajar bukan hanya sekolah. Belajar bukan hanya membaca buku, tapi juga belajar dari setiap kejadian. Belajar dari apa yang bisa dilakukan. Agar hidup kedepan lebih baik.

Aku belajar diam dari banyaknya bicara. Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan. Aku belajar mengalah dari suatu keegoisan. Aku belajar menangis dari kebahagiaan. Aku belajar tegar dari kehilangan

Hidup adalah belajar

Belajar mensyukuri meski tak cukup, belajar ikhlas meski tak rela, belajar taat meski berat, belajar memahami meski tak sehati, belajar sabar meski terbebani, belajar setia meski tergoda, belajar memberi meski tak seberapa, belajar mengasihi meski disakiti, belajar tenang meski gelisah, belajar percaya meski susah

Belajar dan terus belajar sampai pada akhirnya Alloh yang menyempurnakan

9 thoughts on “Dalam kemerdekaan itu ada proses “Belajar”

  1. “Belajar bukan hanya sekolah. Belajar bukan hanya membaca buku, tapi juga belajar dari setiap kejadian. Belajar dari apa yang bisa dilakukan. Agar hidup kedepan lebih baik.”

    Betul betul betul……
    Pelajaran yang takan pernah lupa adalah pelajaran Real…..😀

  2. kita jatuh sampai tersungkur karena kesandung kerikil bukan bongkahan batu he he apalagi gunung kan mbak.

    • Kalo jatuh karena kerikil itu karena kita ceroboh, kalo jatuh kena batu itu alangan. nah kalo gunung kita gak bisa nabrak mbak. Naek ke sana malah butuh perjuangan, kecuali jika kejadiannya seperti sukhoi kemarin. itu takdir. heheee😀
      Secanggih-canggihnya teknologi terkalahkan oleh takdir

    • Hemmm, berarti produktif itu adalah pilihan ya😀
      hahay, kalo yang saya tulis itu biasanya yang sedang saya pikirkan. Jadi memang untuk cerpen saya belum mau masuk. tapi mungkin besok ada kemungkinan..

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s