Cemburuku padamu


Ya, aku cemburu dengan kehidupanmu. Kau ibarat princess yang hidup di suatu istana. Berkecukupan, dengan taman yang hijau dan luas. Kau hidup dengan damainya di sekitar orang-orang yang  menyayangimu. Banyak sumber mata air di istanamu, banyak pohon rindang yang mensupali oksigen, memberikan buahnya, hasil kayunya dan juga bunga-bunga yang indah dilihat dari kejauhan.

Sedangkan diriku seperti hidup di istana abu-abu ku. Untuk mencari mata air harus menggali tanah sedalam mungkin, mengalirkannya dengan memasang pipa-pipa untuk disalurkan ke tempat-tempat yang kehausan. Dan untuk mendapatkan sumber makanan aku harus menanam pohon di tanah yang gersang, kering kerontang. Bahkan dari luar bunga yang menghiasinya tak nampak begitu indah menghiasi.

Aku cemburu dengan cara orang-orang menyampaikan rasa kasih kepadamu. Kau bersikap lembut dan kalem  serta keibuan. Membuat orang yang disekitarmu merasa menjadi anaknya. Rasa mengayomi yang membuatnya nyaman. Dan ketika ku bersamamu ku seperti gadis kecilmu, walau dengan selisih waktu lahir antara aku denganmu hanya terpaut 5 bulan.

Masih teringat saat kau menemaniku menagis sesenggukan di suatu tempat dan suatu acara beberapa tahun lalu. Kau mengerti aku lebih dari yang lain. Mundur dari keramaian dan menuju tempat yang dirasa sepi dari jangkauan orang banyak. Entah waktu itu apa yang dibenakku sehingga menyeretmu ke kamar mandi sebagai tempat sesenggukan. Kau dengan rasa mengayomi, mengelus-elus punggunggku menenangkanku yang cengeng.

Tanpa tersadar setelah cukup reda kita keluar, dan yang membuat syok ternyata banyak orang mengantri di depan pintu kamar mandi. Melihat kita berdua keluar dari kamar mandi, kita meninggalkan banyak pertanyaan yang tak bisa kita jawab “Ngapain ke kamar mandi berdua?”. Dan tanpa menggagas beberapa pengantri kita langsung nggeblas. Mata masih sembab akibat airmata yang keluar, maka tak sanggup ku berjalan dengan tegap. Setelah lama melihat kebawah, saya baru tersadar bahwa saya memakai sandal yang tak sesuai antara kanan dan kiri, alias selen. Huhuhuuuu, masih sedih, malah tertawa terkekeh gara-gara kekonyolanku. Dan kita pun tertawa. Layaknya air segar yang menyiram tanah kering. Ceeesss…

Aku senang ketika kita ngobrol bertukar pikiran, mengukir mimpi kita, dan saling mengungkapkan cita-cita kita. Tentang kehidupan rumah tangga, tentang anak-anak, tentang mad’u, tentang agenda, dan tentang apapun yang membuat kita sampai berjam-jam betah didalam kamar. Tak ayal sering kujahili dengan sikap nakalku, dan akhirnya kita tertawa. Kau tak bisa melucu, dan mungkin karena aku juga yang membuat hidupmu berwarna. Sampai sekarang ketika bersamamu aku masih sering merasa menjadi “gadis kecilmu”.

Aku merindukan masa itu, ketika kau ada untukku. Duluu aku cemburu saat ada orang lain yang dekat denganmu, ketika kau pergi kemanapun tanpa aku. Walaupun memang kau juga sering berada di dekatku. Tapi setelah itu aku tersadar, mereka juga mempunyai hak atasmu, aku salah.

Dan saat kita disatukan di satu lingkaran, sungguh bahagianya aku, karena kita disatukan kembali. Setelah kita terpisahkan oleh dunia kita masing-masing. Membantuku menyelesaikan tugas akhirku untuk waktu dan tempat.

Dan setelah kita masing-masing mengambil langkah untuk masa depan, kita sudah jarang bertemu. Kau sibuk dengan duniamu, dan begitu juga diriku. Jarangnya interaksi dan komunikasi membuat ada batas yang sedikit mengganggu. Dulu ku sempat marah padamu, mendiamkanmu tanpa menegurmu. Aku tau, kau tidak peka, dan itu yang membuatku tambah marah. Dan penyakit itu sembuh dengan sendirinya ketika kau meluangkan waktu untukku dan ketika ada moment untuk mengungkapkannya.

Malam tadi aku kembali marah padamu, entah karena alas an yang tak jelas juga.  Karena suatu hal yang belum bisa kuterima. Ku pun tertidur diawal, berharap kemarahan ini akan mereda di keesokan hari.

Pagi tadi, sungguh sangat menyejukkan. Terpaan angin yang menerpa wajahku saat ku berangkat terasa menyejukkan, mendamaikan kemarahanku padamu. Dan ku tersadarkan sesuatu, kau berhak untuk itu. Karena sama sekali aku tak berhak untuk marah padamu.

Hal yang sangat sulit kuungkapkan padamu “ana uhibbuki fillah”. Ku benar menyangmu saudariku. Semoga kau bahagia dengan pilihan hatimu, karena aku tau kau pasti sudah berkonsultasi pada Sang pemilik hati. Semoga kau dan aku dipertemukan di Surga Nya kelak. Aamiin. Dan kata-katamu siang ini “Aku hanya yakin, kebaikan itu adalah apa-apa yang membuat hati kita tenang”. Jazakillah cyiiint.. itu sangat menginspirasi.

Klaten, 04 Juni 2012

2 thoughts on “Cemburuku padamu

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s