Aih Aih….


Angin semilir dingin menerpa wajahku, mengibas-ibaskan jilbab coklatku tak terarah. Pagi nan segar sisa air hujan tadi malam membuat semangat suasana. Pohon-pohon meliuk-liuk indah, beriramakan instrumen musik alam dengan aduan dedaunan yang bernyanyi dengan sisiran angin. Tak mau kalah deburan ombak yang selalu riang memainkan gelombangnya, memamerkan kepada pengunjung, betapa lihainya angin bermain dengan air.

Aku suka suasana ini, suasana ketika di pagi hari pasca hujan lebat di malam harinya. Seakan berkata kepadaku “Badai pasti berlalu, dan esok hari akan segera datang”. Penuh kedamaian, harapan, dan pasokan energy baru.

Langit biru bersih. Memandang keatas begitu mempesona, semakin ku terkagum akan sang Pencipta. Sendirian menyepi, melepaskan penat karena kontinuitas keseharian yang kadang membuat bosan, jenuh, jumud..

Tak jauh dari ku ada seorang laki-laki dengan celana hitam rapi nya, tak terlalu cingkrang dan tak terlalu menutup mata kaki keseluruhan, dipadu dengan baju kemeja polos santai berwarna crem  berlengan pendek. Berkulit sawo matang, tak terlalu putih dan tak terlalu hitam. Berjanggut rapi peni, tak terlalu lebat. Disampingnya seorang wanita cantik yang memakai gamis coklat susu tampak match dengan dengan jilbab rapi berwarna coklatnya. JIlbab yang menutupi dada, tak terlalu lebar dan tak terlalu kecil. Jilbab syar’I.

Nampaknya mereka pasangan muda yang baru menikah. Mereka bercanda sangat akrab, terkadang sang wanita nyiwel sang laki-laki disusul dengan lenguhan manjanya dan samar kudengar sang wanita berkata  “aih aih, abang bisa ajah”. Mungkin sedang tersipu-sipu oleh rayuan lelaki disampingnya. Tak mau kalah, sang lelaki membalasnya dengan menggodanya lebih dahsyat lagi dan ups ….. (sensor)

Hihiiiii, akhirnya ku memutuskan untuk capcus meninggalkan mereka yang sedang terbuai asmara, dari pada ku sibuk mengelap air liur “ngeces” akibat mupeng. Heheee😀.  Warung kelapa muda dekat pantai kupilih sebagai tempat duduk manis sambil menikmati eksotisnya pantai. Kemudian satu kelapa muda lengkap dengan sendok dan sedotan sudah tersedia di hadapanku, setelah ku memesan 15 menit yang lalu.

Sambil tetap menikmati es kelapa muda, ada pemandangan yang menarik perhatianku. Sebuah keluarga dengan suami istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Agak ribut memang, si anak minta ini dan itu dan dengan sabarnya sang ibu melayaninya. Kadang sang ayah jengkel dengan kegaduhan yang mereka perbuat, sehingga kata yang agak keras terucap tertuju pada kedua anaknya, sambil menenangkan anak-anaknya, sang ibu juga menenangkan suaminya yang agak naik pitam.

Kunikmati kembali es kelapa muda dihadapanku. Hemmm, sendiri menyepi. Sebenarnya saya tidak terlalu suka bepergian sendirian. Bagiku kemana-mana sendiri itu menyedihkan, seperti tak punya teman sama sekali.

Sambil mengaduk-aduk es kelapa muda yang tak perlu diaduk lagi ku terpukau dengan pemandangan satu lagi. Seorang bapak yang sudah sepuh, mungkin usianya sudah 70an. Berpakaian kaos lengan pendek dengan celana rapi, ditemani seorang ibu yang sudah sepuh juga dengan jilbab santai (langsungan) dan berpakaian lengan panjang dengan jarit modern (jarit jahitan jadi). Satu pemandangan yang membuat ku tertarik adalah bapak ibuk itu hanya memesan satu minuman. Ternyata sang bapak merasakan pandanganku. Ku sapa dengan menanggukkan kepala sambil tersenyum menyapa. Kemudian ku kembali pada es kelapa mudaku.

Tak lama kemudian sang bapak memanggilku, mengajak bergabung. Setelah berkenalan cukup lama dan sedikit basa-basi menanyakan anak-anaknya, sang bapak bertanya kepadaku,

“Nak, apa yang kau pikirkan sekilas ketika melihat kami?”

“Maksudnya bagaimana ya pak?” (masih mencerna pertanyaan yang membingungkan, apakah aku dikira seorang detektip yang sedang bertugas?? Aku sedkit was-was

“Apa yang kau pikirkan ketika melihat kami hanya memesan satu gelas?

(masih ragu-ragu untuk menjawab, apakah benar aku dikira berpikiran macam-macam kepada mereka? Ahh kujawab saja sekenanya) “ Tidak ada itu pak, “

“Ahh, masak?? Orang lain selalu bertanya kepadaku kenapa kita selalu pesan minum satu gelas saja. Bukannya apa-apa, selain kita tidak habis jika pesen masing-masing satu gelas, saya ada tujuan mbak. Agar rasa cinta antara kita selalu awet sampai maut memisahkan kita”

Subhanalloh, seketika itu langsung ku terpana, tak memikirkan sampai segitu ketika mereka melakukan hal itu. Dan ketika bapak itu masih bercerita panjang lebar, saya masih tercenung mencerna makna yang sangat dalam pada kalimat itu. Sebuah petuah yang kudapatkan dari seorang bapak yang sudah sepuh yang disampingnya selalu ada istrinya yang selalu setia menemani. Guratan keriput dan nada suaranya itu seakan menandakan kerasnya bapak, dan kelembutan sang ibuk dalam bertutur menandakan kesabarannya untuk mendamaikan suaminya.

Subhanalloh, Wal hamdulillah, Allahu Akbar..

Sungguh tarbiyah yang sangat berarti bagiku. Beginilah cara Alloh mendidikku. Tiga kejadian itu kualami semua, tapi dengan waktu yang berbeda-beda. Dengan sedikit improvisasi kukemas seakan terjadi di satu waktu. Tiga pemandangan yang seakan memberikan pesan tersembunyi kepadaku ketika kugabungkan jadi satu.

Menikah adalah suatu impian yang diinginkan setiap bujang maupun bujangwati.:D Asmara yang bergelora yang timbul selalu menghiasi pasangan muda yang baru menikah. Kadang bahagia, tetapi  jangan lupa dukanya, karena roda itu berputar kadang di atas kadang dibawah.

Masa itu berlalu menjadi episode yang berbeda kasus, ketika sudah mempunyai anak, pekerjaan yang menyibukkannya dan segala aktifitas lain yang membuat intensitas bertemu dengan anak-anak dan istri menjadi berkurang. Lalu masih sama kah kemesraan ketika masih menjadi penganten muda dulunya?? Yang dulu mungkin sang istri langsing, singset dan cantik berseri menjadi gemuk, agak keriput dan tak secantik sewaktu muda dulu, pun tak kalah dengan membuncitnya perut suami, tambah guritan di wajah yang membuat wajah nampak lebih tua dari umurnya. Hemmm, suatu kenyataan yang akan dihadapi. Aih aih…

Tanpa menurunkan ego di salah satu pihak, bisa hancur bahtera itu. Tanpa pengertian satu sama lain bisa saling menghina. Yang dulunya dipuja dan dicinta menjadi yang paling dibenci dan muak melihatnya. Buyar rasanya nasihat yang pernah didengar tentang akhlak junjungan kepada istri-istrinya. “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Na’udzubillah..

Ibarat ujian, maka ada ujian teori dan praktek. Jika ujian teory itu bisa kita lakukan dengan membaca buku, mengikuti seminar dan lain lain. Maka di ujian prakteknya persiapannya adalah sering berdiskusi dengan yang sudah berpengalaman suka dan dukanya.

Tanpa persiapan bisa mati konyol jika diibaratkan maju ke peperangan, itu kata teman saya. Setelah berdiskusi panjang kali lebar sama dengan luas sekali. Heheee😀

Jadi, persiapkanlah sebaik mungkin. Baik secara teory maupun praktik. Dan lebih pentingnya adalah berdiskusi pada yang sudah berpengalaman. Belajar dari banyak orang, memperbanyak referensi. Hemmmm, masih belajar lebih banyak lagi ternyata..😀

Klaten, 08 juni 2012

19 thoughts on “Aih Aih….

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s