Selamat Tinggal Dunia Lamaku


Duniaku penuh ketidakjelasan, seperti diriku. Aku yang tercemplung di dunia ini. Datang dengan gagahnya seakan bisa tahan dengan terjalnya jalan yang berbatuan, dengan PeDenya menantang angin kencang menuju suatu tujuan.

Tidak ada yang salah dengan tujuan itu. Tujuan itu sungguh mulia jika tercapai. Jalannya . Sungguh penuh peluh dan semak pun kadang membuat goresan di kulit.  Teman seperjuangan yang dulunya tak begitu banyak dan penuh semangat dalam meneruskan perjalanan satu persatu hilang dipersimpangan. Entah akupun sepertinya tak sanggup lagi meneruskannya sendiri. Terlalu gelap, terlalu terjal dan bisa membahayakan keselamatanku sendiri.

Aku kehausan, aku ingin minum air segar yang setiap hari mereka minum di dunia hijaunya. Aku kelaparan, aku menginginkan berbagai makanan yang bergizi yang mensuplai kesehatanku dengan berbagai makanan di dunia hijaunya.

Bahkan orang-orang yang dulu minum dan makan bersamaku di duniaku tidak mengenalku sebagai diriku yang kulekatkan sebagai tanda pengenalku. Menjadi tong sampah yang berisi sampah yang tak bisa di daur ulang dan tak bermanfaat. Cuma sekedar itu saja. Tak lebih.

Semangat yang ingin kutularkan ternyata tak sampai ke mereka, mungkin karena aku butuh mengevaluasi diriku sendiri, karena aku terlalu terlena dengannya tanpa keseimbangan yang kokoh.

Sungguh melelahkan sekali perjalanan ini. Badanku seakan terpotong-potong menjadi banyak bagian. Tak ada energy lagi yang kudapat di tanah gersang ini. Sungguh menyedihkan sekali diriku ini. Yaa, aku menyerah. Akan kutinggalkan orang-orang lama ku itu. Aku sekarat, aku ingin hidup di dunia hijau itu.

Mendengar mereka yang bercerita tentang dunia hijau itu seakan kembali menyegarkan semangatku. Tetapi sepertinya bukan untuk kembali di dunia abu-abuku. Ku sudah terlalu lemah.

Ku mengingatnya lagi, satu surat cinta yang sedikit menohokku ketika ku memahami kembali maknanya “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkanmu”

Ya, mungkin karena ku selalu pamrih, ingin selalu didengarkan dan  ingin berharap lebih. Rasa ingin yang tak kusandarkan pada ketetapan Alloh itu. Aku terlalu sok pintar dengan kelakuan ceroboh yang kubuat sendiri.

Apa yang selama ini telah kulakukan? Sudahkah ku menolong agama Nya?? Ya, aku pamrih karena aku ingin semua orang-orang disekitarku bersama-sama ingin lebih dekat denganNya. Ya, aku ingin mereka mengetahui suatu hal yang lebih indah dari dunia ini. Aku ingin mereka tau bahwa Dia itu pencemburu, Dia akan cemburu karena  hamba Nya lebih mementingkan, lebih menyenangi, dan lebih mencintai apa-apa yang di dunia ini ketimbang Mencintai Nya. Dan ternyata kenyataannya Aku bukan ‘orang yang tangguh’ itu.

Aku lunglai tak berdaya. Aku menyerah saja dan sekarang aku menjadi pasien dunia hijau itu. Saudaraku tolonglah aku. Aku ingin bergabung denganmu, menyembuhkan luka-luka memarku, mengembalikan nutrisiku, dan menyegarkanku kembali.

Dan ketika ku menoleh ke belakang di kerumunan orang-orang lama, ku hanya bisa berucap dalam hati  “ Maaf saudaraku ku bukanlah orang tangguh yang bisa membawa kalian ke dunia hijau itu. Tenagaku cuma bisa membawa tubuh kering kerontangku. Dan selemah-lemahnya iman, maaf, ku hanya bisa mendoakan kalian. Semoga kalian selalu dalam Lindungan Nya, jika kau ingin melanjutkan hal-hal yang tak disukai Nya, Maka Ia lebih tau apa-apa yang ada di lintasan pikiran kita, apakah baik ataukah buruk jadi fikirkanlah kembali sebelum berbuat, karena yang membedakan kita dengan malaikat itu adalah tentang nafsu. Jika diperbudak olehnya yang didapat hanya kenikmatan sesaat saja. Sedangkan kekalnya akhirat itu benar adanya. Teruslah belajar dan jangan mengulangi kesalahan yang sama, berkaca dari spion tentang kesalahan masa lalu. Selalu ingat bahwa masa depan kita masih suci, jangan kau kotori lagi dengan perang pemikiran yang bersumber dari pikiranmu sendiri dari kejadian masa lalumu. Pikiranmu adalah kekuasaanmu, jangan rela terjajah oleh bisikan syetan laknatulloh”.

Gomen, selamat berjuang..