Aduhai, Dimanakah Izzahmu sayang???


Hari yang panas di siang bolong. Selepas didistirahatkan dengan sholat dhuhur kita berpisah untuk istirahat dengan melanjutkan aktifitas masing-masing. Praktikum IUT di gedung  5 FT UNS itu cukup menyita waktu lama dan agak melelahkan. Yang paling kurang nyaman karena dari 6 orang itu saya paling cantik sendiri, karena kesemuanya adalah putra. Yaah, itulah resikonya.

Istirahat dikantin terdekat, sekedar menyeruput es teh agak sedikit membasahi kerongkongan. Sendirian lagi ku di kantin, fiuuuh.

Tak jauh di pojokan tempatku duduk, ku mengenal  dua sosok yang tak asing lagi bagiku. Satu laki-laki dan didepannya duduk seorang wanita dengan jilbabnya yang sekarang mengkeret dari sebelumnnya. Masih mengenakan rok dan kaos kaki. Wanita itu hitam, tetapi manis. Cukup menggiurkan buat para ikhwan yang tak bisa menjaga pandangan dan hatinya.

Mereka sepertinya asyik sekali dengan perbincangannya, serasa dunia milik berdua. Setau saya hubungan mereka belum diikat dengan pernikahan, masih berstatus mahasiswa. Ataukah belum sampai kepada mereka tentang ilmu dilarang berkhlawat? Saya rasa mereka faham betul tentang itu. Dan mungkin ilmu mereka lebih banyak tentang hal itu. Ataukah lupa ya bahwa berkhalwat itu memang tidak boleh? Apakah ku harus menyapanya, berdiri di belakang serasa memberikan surprise dan berkata
“trata… kalian berkhalwat lho, Cuma mengingatkan..” 
jangan lupa memasang senyum termanis di dunia, kemudian berbalik arah dan meninggalkan mereka. Hahaaa, imaginasiku memang agak kacau, tapi  ya sudahlaah..

Saya tetap heran, dimanakah izzah seorang muslimah itu ya? Sehingga mau saja diajak pada yang bukan mahramnya untuk alasan yang gak jelas. Makan berdua!!..

Dimanakah izzahnya sebagai seorang calon istri yang sholihah ketika berduaan dengan seorang yang nantinya belum tentu jadi pendamping hidupnya??

Dimanakah izzahmu hai wanita, yang malah bangga ketika sang lelaki itu bersanding denganmu sebelum dihalalkan untukmu. Bahkan serasa ingin menunjukkan kepada siapapun yang berinteraksi, “Ini lho aku dekat dengan dia”. Baik secara langsung atau lewat media internet.

Hemm, memang mbak izzah itu mungkin sedang disembunyikan orang tuanya kali ya??, lhooo??? Heheee😀

Lelaki itu juga sama saja, beraninya bermain di kubangan air sedangkan ia sudah bisa menyelam kedalam lautan. Menurut saya lelaki yang seperti itu memang tak bisa menghormati seorang wanita. Tak bisa atau belum bisa? Aaah, tak taulah. Its not my bussines. Jika sudah keterlaluan begini saya sudah tak mau ikut campur lagi. Bahkan nasihat lembut dari saudaranya tak digubrisnya,.

Lalu kemana sajakah kamu hai lelaki yang enggan, malas dan berkilah tidak punya waktu untuk membaca AL Qur’an?? Karena dapat dipastikan sebagai orang yang tak akrab dengan AlQur’an dia mempunyai selera rendahan dalam memilih nasehat. Mungkin hanya nasehat yang tidak menyindir kelakuannya saja yang dipilihnya.

Jikalau saya menjadi ibu untuk gadisku yang mau menikah saya tak akan rela jika ia meminta gadis kecilku pada seorang lelaki yang tak bisa menghormati dan menghargai wanita. Tidak lemah lembut terhadap wanita, dan kasar perilaku dan perkataannya. Berbeda kasus pada ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), itu akan terjadi jika sang wanitanya tak memahami hakikatnya sebagai seorang istri.

Lalu ketika ditanya kepada siapakah aku akan menikahkan anak gadis saya? Pernahkah mendengar kalimat ini

“kepada siapakah kita menikahkan anak gadis kita? Nikahkanlah pada lelaki yang bertakwa, karena ketika ia menyukainya maka ia akan sayang padanya, tetapi ketika ia tidak menyukainya maka ia tak akan melukainya”

Dan jikalau saya menjadi ibu untuk anak lelakiku, saya tidak akan memberikan izin jikalau dia meminta anak gadis yang tak bisa menjaga izzahnya, yang berani berhubungan secara intens sebelum adanya ikatan, yang “geleman” diajak kemana-mana tanpa alasan yang tidak jelas tanpa mahram yang menemani. Gadis cerewet yang tak mendasar dan tak mememegang prisnsipnya.

Karena hanya kepada dia aku ridho untuk memberikan izin, pada seorang gadis yang ketika anak lelakiku akan nyaman bersama dengannya dan tenang pula ketika ia ditinggal suaminya mencari nafkah. Dengan artian, tidak menjadi istri yang bertindak semaunya, pergi kemana-mana dengan alas an yang tak syar’I tanpa sepengetahuan qawwamnya. Dan faham jobdesnya sebagai istri yang melayani suaminya karena mengharap ridhoNya saja, beribadah kepada Nya.
Referensi bisa diambil disini tentang Nasihat pernikahan untuk putriku

Sambil ku menyeruput es teh ku yang sudah mulai berbunyi ‘grok grok grok’ karena sudah habis, ku masih bertanya
“Ahuhai, dimanakah Izzahmu sebagai seorang muslimah sayang??”

#Settingan tidak sama persis dengan kejadian, hanya mengambil sampel kasus yang marak terjadi dimana-mana

10 thoughts on “Aduhai, Dimanakah Izzahmu sayang???

  1. Subhanallah deh🙂

    terimakasih sudah mengingatkan mbak, kadang ada hal2 kecil yang kita sendiri tidak sadar itu sebagai sebuah dosa, astaghfirullahaladzim

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s