Perjanjian Berat itu


Beberapa kali mengikuti prosesi sakral ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran untuk saya. Menjelang calon manten melaksanakan perjanjian berat yang dibuat manusia di depan Rabbnya dengan disaksikan oleh malaikat dan beberapa kerabat, adalah hal yang paling mendebarkan, katanya si camat (calon manten). Perjanjian yang sampai membuat Arsy Nya berguncang oleh ucapan sang mempelai laki-laki untuk menyunting pihak perempuan. Dimana ketika kalimat sederhana itu terucap tanggung jawab dari orang tua mempelai putri terlimpahkan oleh lelaki itu. Sebuah Mitsaqon Ghalidzan. Bukan perjanjian biasa yang bisa diambil kecuali oleh seorang lelaki sejati, seorang Qawwam bagi sang wanitanya  .

Beberapa pelajaran yang dapat saya ambil dan dijadikan penekanan untuk saya adalah jarak antara proses taaruf dan akad yang diusahakan dekat (tidak lama). Karena waktu yang lama antara proses taaruf yang berkelanjutan proses lamaran kemudian menuju akad nikah yang lama sungguh sangat menyiksa bagi calon mempelai, baik itu calon manten laki-laki maupun perempuan.

Selain menghindarkan fitnah maka  jarak yang pendek antara lamaran dan akad nikah juga berguna untuk menjaga hati. Dimana interaksi yang terlalu sering untuk mengurusi keperluan persiapan pernikahan yang tanpa perantara bisa berujung pada komunikasi yang tidak penting dan kalau dilanjutkan bisa berbahaya.

Menjaga hati menjelang akad nikah??, hemm konon katanya pihak laki-laki lebih sulit mengendalikan daripada pihak wanitanya. Entahlah, karena saya juga belum pernah merasakannya. Kalaupun sudah nanti saya akan kasih bocorannya ya…😀

Diantara masa sulit itu ada saja hal-hal yang membuat senang karena masa lajangnya sudah diakhiri. Sedih juga karena sudah tidak sebebas burung berkicau tentang tanggung jawab yang akan disandangnya sebagai suami atau istri.

Berinteraksi intens di masa sulit itu seperti berkendara di jalan yang sempit dengan pemandangan di kiri adalah jurang dan di kanan banyak kendaraan besar yang bersliweran. Jika tak jaim “Jaga Iman” bisa tercemplung ke jurang yang terjal. Jadi teringat dengan kisah “mencintai penanda dosa”. Sungguh kisah itu selalu memberikanku warning keras. Karena saya itu termasuk orang yang agak cair, maka hal itu benar-benar kujadikan sebagai peringatan buatku.

Pengkondisian terhadap keluarga tentang banyak hal juga harus jadi perhatian penting, seperti ketika ditanya “Bener-bener tresno nduk sama masE?” kemudian dijawabnya dengan santainya “He em bu” sambil tersenyum mencurigakan, karena mengenalnya saja tidak. Bahkan ketika ditanya perihal keluarganya dan alamat lengkapnya itu hasil dari menghafal dari data yang sudah diterimanya.

Tentang proses walimah syar’i yang diharapkan, sederhana dalam penjamuan, tidak tabaruj dengan dandanan yang mencolok, pakaian yang tetap syar’i, pemisahan tamu, hiburan untuk tamu dan apapun perihal walimahan juga perlu dikomunikasikan dengan kedua pihak keluarga besar

Yang menjadikan momok untuk wanitanya adalah mengenai dandanan yang tidak sesuai dengan perjanjian dengan sang penata rias. Memakai sanggul yang menyerupai punuk unta (walaupun memakai jilbab sekalipun), memakai bulu mata palsu, dandanan yang mencolok bin lebay karena make up terlalu tebal seperti “dempulan”, pakaian yang ketat dan tak nyaman, jilbab yang tak menutup dada, dan banyak sekali kekhawatiran tentang hal tabaruj ini.

Mungkin di perjanjian awal dengan sang penata rias sudah deal dengan make up dan perjanjian lainnya, tetapi ketika hari H menjadi berubah dan tak sesuai keinginan. Disitulah letak perjuangan seorang akhwat dalam mempertahankan penampilan yang tidak tabaruj. Hemmm, ternyata nikah itu ribet..

Bukankah sebenarnya Islam itu memudahkan? Apalagi jika hal itu terkait ibadah. Menggenapkan setengah dien. Apakah ada di zaman sekarang ini yang menyederhanakannya? Setelah akad dan syukuran sebentar, sudah selesai?? trus diri ini menjadi miliknya sepenuhnya😀. Krik krik krik.. (Dasar tidak mau ribet, dan maunya disegerakan berdua saja)😆

Walaupun kapan hal itu akan kualami, satu, dua, tiga atau berapa tahun kedepankah, ataukah ku dipertemukan di dunia atau tidak yang terpenting ini salah satu ilmu yang ku dapat dari saudara-saudara saya. (Ketauan deh kalau teman-temannya sudah pada nikah). Hahaaa, tak apalah. Ngeces saya sudah berlalu dan sudah mengering. Dan sekarang sudah aman terkendali😀.

Well, antara idelaita dan realita?? Antara impian dan kenyataan?? Kita tak akan tau apa yang akan terjadi. Jadi selagi bisa mempertahankan idealita, maka pertahankan yuuks. Walau sering nakalnya. Hiihiiiii.. (Nakal terus, kapan jadi baiknya nih). Wah gaswat, bisa bahaya kalo tidak segera tobat nasuha nih saya. Masak tobat tomat, habis tobat kumat lagi.. Hadeeee..

Klaten, 24 Juli 2011

Selepas menemani seorang saudara berjalan mengitari pasar berigharjo untuk mencari cinderamata, dan kena tilang akibat salah jalur.

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s