Fenomena di Bulan Ramadhan


Fenomena saat Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu, bagi yang menuggu tentunya. Karena ada beberapa yang menganggap bulan ramadhan seperti bulan sebelumnya, no special. Semoga kita termasuk orang-orang yang menyambut hangat kedatangan ramadhan tersebut.

Ada beberapa hal yang hanya terjadi saat bulan ramadhan. Ada yang membuat gemes, bangga, sedih, bahkan bahagia. Aahh, pokoknya campur jadi satu perasaan itu

Fenomena pertama yaitu fenomena yang menyenangkan yaitu masjid banyak penghuninya saat bulan Luar biasa ini. Dari shubuh yang biasanya hanya berpenghuni mbah-mbah,eh di bulan ini banyak yang berbondong-bondong. Di awal puasa wuiiih, luar biasa sekali sampai ke jalan-jalan euy, penambahan deklit di samping masjid san serambi masjid untuk menampung jama’ah. Wonderful..

Di bulan Ramadhan ini banyak Al Qur’an di bacakan. Berlomba-lomba untuk membaca Al Qur’an. Berusaha menamatkannya satu bulan penuh. Indah sekali pemandangan ini, aah, saya suka🙂 .

Berlomba-lomba dalam hal kebaikan, فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ (Fastabiqul khoiroot), semuanya ingin menjadi yang terbaik, semuanya ingin memberikan yang terbaik untuk saudara-saudaranya dalam hal berbuka dan dalam hal bersedekah. Indahnya ukhuwah jika saling memahami antara si dermawan dan sang mustahik yaitu 8 golongan asnaf (Fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gorimin, sabilillah, dan ibnu sabil). Lebih lengkapnya silakan kulak kuli here

Dan banyak sekali fenomena-fenomena kebaikan lainnya yang tak bisa ku sebut satu persatu saking banyaknya (Berkaca-kaca) #Halaah😀

Fenomena kedua  adalah fenomena membuat hati harus bersabar dalam menghadapinya. Ketika sholat tarawih, beberapa imam membuat image baik untuk jama’ah nya yang kebanyakan jama’ahnya ingin segera selesai. Maka dari itu para imam mempercepat bacaannya dengan gaya ngebut bin ngepot-ngepot, sehingga tak jelas lah makharojul hurufnya, tajwid yang terseret dan yang tersampaikan di telinga adalah ayat pertama dan terakhir. Huks, sedih sekali, ini sholat ataukah kejar setoran layaknya bus “Sumber Kencono” yang sering ngebut menjadi raja jalanan. Tak memperhatikan peringatan “Ngebut Benjut”😦 .. Ini sholat atau hanya jengkang-jengking, jendal jendul ??😦

Kalau seperti ini sering galau memilih masjid, jadi sebelum memilih ke masjid harus tau dulu siapa imamnya. Ya inginnya juga sholat berjama’ah seperti di masjid kampus, Nurul Huda UNS in memory. Gundah gulana apakah memilih sholat berjama’ah di masjid ataukah sholat sendiri di rumah dengan argument ‘Ingin lebih khusyuk’. Yah, kalau hafalan bacaannya sudah melewati juz 30 (mulai dari juz bawah), yah tak masalah. Karena perbendaharaan hafalan suratnya banyak dan jikalau dengan sholat sendiri bacaan lebih bagus dan lebih panjang bin khusyuk, tak apalah. Lha kalau juz 30 banyak yang rontok, pantaskaaah??. Yah semoga kita lebih bijak memilah dan memilih, jika perlu kita jelajah dari masjid ke masjid😀

Nah yang satu ini yang membikin gemez dan pengen nyubit jika liat barisan Shaf di ibu-ibu. Kalau barisan bapak-bapak nampaknya tak masalah, tetapi yang menjadi masalah adalah barisan ibu-ibu yang ndak rapat dan ndak rapi. Masing-masing membawa sajadah yang besar-besar yang membuat renggang antara satu jama’ah dengan jama’ah lain. Entahlah apa tujuannya, apakah biar longgar dan bisa bebas ataukah gimana. Pokoknya saya gemes sekali liat pemandangan ini. Sang imam juga ndak memperingatkan untuk merapikan barisan. Dan itu terjadi di banyak masjid. Huks sediiih… bagaimana bisa rapi kalau ilmu itu belum sampai pada mereka yah?? Karena obyeknya adalah ibu-ibu yang sudah sepuh, maka agak sulit masuknya, kecuali ada taklim disana. Ahhh, jadi pengen berbuat sesuatu.🙂 …

Yah, setidaknya itu beberapa fenomena yang saya rasakan, positif negatifnya. Mungkin masih banyak sekali fenomena yang belum saya sampaikan. Semoga bisa menjadi koreksi bersama. Bukan menyalahkan dan menuding penyebab masalahnya, tetapi coba mari kita cari solusinya bersama. Any idea guys??

21 thoughts on “Fenomena di Bulan Ramadhan

  1. hmmm……
    Kalimat terakhirnya ” Any idea guys??” itu loh malah membuat saya jadi gak punya ide untuk berkomentar…

    *semangat pagi…

  2. Aha..haha.. #sumpah.., jadi gak bisa nahan ngakak pas baca [..Ini sholat atau hanya jengkang-jengking, jendal jendul ??..]
    Kalimat jenddal-jendulnya itu loh mbakayu, yang bikin gak kuat..😆😆😆

      • Lha iya to yaa, kulo tiyang jowo asli leh..
        Panjenengan pripun tow😀
        Ada solusi gak ya, untuk jama’ah ibu2 yang suka bawa sajadah gedhe2 gitu?

      • Injih mba e. Kulo manut kemawon. hehe. .

        Wah, harusnya manggil aja ustadzah buat pengajian ibu-ibu. Kayaknya lumayan bagus tuh. Asalkan dikondisikan ibu-ibu pada dateng. Bilang aja pengajian gratis tis. Kalo misal ada fee, itung-itung sodaqoh deh. Takutnya kalo cuma mba e “yang orang jawa aseli” ini ngingetin bakalan lama, juga ditambah barangkali terkesan “menggurui” nek agak kepleset ngomong.

        Laporan selesai!!

      • Iyaa, InsyaAlloh semoga bisa terlaksana. Kendalanya tuh, saya butuh bolo.heheee
        Selain itu kalau esok saya jadi juraga sajadah, saya akan rubah dimensi sajadah menjadi yang proporsional, tak bergambar tetapi tetep nyentrik. Aamiin.. Ucapan adalah doa.. sepatu??

      • Hehehe. . Yang penting mah berusaha, entah itu gagal atau gaknya, yang penting udah berusaha.🙂

        Aminnnnnnnn, wah mantep tuh.
        Jangan lupa juga ukuran orang gede kecilnya juga beda-beda mba ulfah. Semoga bisa menemukan makna “proporsional” yang tepat. Hehehe

        Sepatuuuuuuu mba e. Joss gandos wes.

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s