Syukur (Ramadhan keenam ku)


Lain Syakartum la azidannakum wala in kafartum inna ‘adzabi lasyadiid,”.  “Jika kita bersyukur, Tuhan pasti akan menambah nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Sebaliknya, jika kita kufur atau mengingkari nikmat tersebut, Tuhan pun tentu akan murka.”  Satu kalimat yang terlihat biasa, tetapi sangat dahsyat dirasa. Janji Alloh itu benar adanya, sedang janji kita pada ALloh yang perlu ditanyakan.

Brefing pagi tadi cukup membuat semangat tersendiri tentang “Rasa Terima kasih” yang disampaikan oleh ustad Tata Sutarya, Direktur DSH (Dompet Sejuta Harapan) Klaten.

Layaknya manusia yang menerima kebaikan dari orang lain, kita lebih pantas mengucapkan terimakasih dengan menempakkan mimik  yang sumringah pertanda rasa senang atas kebaikan yang kita terima. Tak Cuma itu, kita pun juga mempunyai keinginan untuk membalas kebaikan tersebut.

Lalu, bagaimana kita mengucapkan syukur kepada Alloh atas nikmat sehat, nikmat Islam, nikmat iman, dan banyak nikmat lain yang tak bisa kita hitung terperinci. Dalam tausyah tadi diceritakan tentang kisah Rosululloh SAWdengan Aisyah, ra.

 “ Ya Kekasihku Rosulullohku, kenapa engkau masih saja sholat malam sampai kaki engkau bengkak-bengkak, padahal tanpa itu semua engkau sudah mempunyai jaminan syurga dari Alloh”, Tanya Aisyah, ra pada suatu malam kepada Rosululloh

“Tidak bolehkah aku bersyukur kepada Rabb ku atas semua nikmat yang telah aku dapatkan?”, Jawab Rosululloh SAW .

Bukan yang pertama kali ini saya mendapatkan kisah diatas. Namun selalu saja menamparku sampai membuat mata berkaca. Menilik kembali kedalam lubuk hatiku yang paling dalam serasa bertanya pada diri sendiri “Untuk apa aku beribadah sampai saat ini???”. Untuk mendapatkan syurga Nya kah? Ataukah agar semua keinginanku terpenuhi, ataukah hanya sebagai kewajiban saja??

Ya Robbi, ternyata tamparan pertanyaan itu sampai membuatku sesak di dada. Sholat wajib, Sholat sunnah, Tilawah, Puasa dan ibadah lainnya, untuk apa aku melakukannya??

Nikmat iman dan Islam, indahnya saling mengingatkan yang lupa, dan menegur yang terlena akan kenikmatan yang menyesatkan.