Malam itu


Malam itu aku teringat satu hal. Satu hal yang membuat banyak sekalin rentetan. Tentang Future. Masa depan yang sama sekali belum bisa ku telisik. Tentang dimanakah diriku hidup nanti, dengan siapa kah, kemanakah arah hidup dari Qawwam ku yang harus kutunduk patuh dengan cinta atas Ridho-Nya, dan dengan kondisi yang bagaimanakah diri ini mati.

 Aaah, apakah aku sedikit khawatir ya? Ku curahkan kegalauanku malam itu pada sahabatku. Kemudian beberapa menit kemudian aku mendapat balasan “ … Khawatir itu wajar, tapi yang tidak wajar kalau kita tidak percaya dengan janji Alloh atau tidak percaya atas setiap kebaikan apa-apa yang ditetapkan untuk kita”

Tentang tempat, arah, dan kondisi ini mau tidak mau juga berhubungan dengan Qawwam ku kelak. Dimanakah si dia akan membawaku bersamanya. “Dimana saja boleh, asal dia seorang yang sholih dan bertanggung jawab”, kata ibuku.

Hmmm, terkadang masih sempat terbesit rasa iri pada sahabat yang sudah menemukan sang pemilik tulang rusuknya. Menunggu giliran itu datang, menanti-nanti kapankah si dia datang menjemput.Terkadang hati ini lapang, tetapi kadang juga resah gelisah mengingat waktu semakin berjalan tanpa kusadari (hayyyah lebay)😀 . banyaknya kegiatan cukup bisa mengatasi, minimal meredam lah. Minum wedang ronde selepas magrib di alun-alun bersama sahabat saya, itu yang kita lakukan ketika kita ingin saling bercerita. Tak ada solusi memang, karena solusinya kita sudah tau yaitu ‘bersabar’, dan sekedar didengarkan keluh kesah itu sudah lebih dari cukup.

Tentang arah manakah yang akan membawaku, jadi orang yang berguna disekitar kah dengan tetap berkontribusi di wilayah sekarang ataukah disibukkan dengan bekerja, bersedekah atas nafkah yang seharusnya memang bukan menjadi kewajiban atas seorang istri. Ataukah disibukkan dengan kegiatan rumah menghabiskan waktu bersama anak-anak jika sudak dititipi oleh Alloh, menanam investasi yang paling berharga.

Sekali lagi nasihat itu selalu ada untukku “Serahkanlah semua pada Alloh, InsyaAlloh seorang yang special untukmu”, kata HunNy ku yang pertengahan juli kemarin sudah menemukan sang pemilik rusuknya.

“ Alkhobitsatu lilkhobitsina walkhobitsuna lilkhobitsati. Wattoyyibatu littoyyibina wattoyyibuna littoyyibat” Qs An Nur : 26 , Sms yang kuterima dari sahabatku juga, yang akan menggenapkan setengah diennya bulan depan. Yang pada intinya ayat itu memberitahukan wanita keji untuk laki-laki yang keji dan wanita baik untuk laki-laki yang baik.

 

 

 

12 thoughts on “Malam itu

  1. komen dikit,
    berbahagialah mereka yang ingin segera menikah, tapi masih jomblo, kenapa ? karena masih ada waktu untuk menjadi lebih sholehah lagi dari saat ini.

    Bukankah sebenar nya yang dimaksud sekufu adalah laki-laki sholeh akan berpasangan dengan wanita sholehah ?? bukan satu golongan dengan golongan tertentu..🙂

    #ngutip nasihat ustadz dimasjid ama sedikit variasi🙂

  2. hehe.. tenang dek, tabiat manusia, mengharap sesuatu yg blm miliknya, dan mengabaikan apa yg sedang dipunyai.

    waktu sudah berkeluarga begini mb juga rindu saat2 sendiri, kemana2 sendiri. menyepi dengan laptop dan camilan favorit.

    tapi mengingat posisi sekarang ini adalah hal2 yg dulu jg saya impikan.
    nikmati semuanya, kelak kamu nanti akan merindukannya🙂

    • Heheeee, ya terkadang bisa santai dan menikmati mb, tapi kadang juga melow2. Heheee, makanya sekarang sudah jarang dengerin musik. Ndak kumat, termasuk nasyid yang mellow2 heheee..😀

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s