Lebaran di kota tetangga


Lebaran tahun ini agak berbeda dengan tahun sebelumnya, jika lebaran tahun kemarin hanya dirumah tercinta saja maka lebaran tahun ini saya roadShow ke 3 kota.

Malam takbiran masih saya habiskan di kantor tercinta, karena ibarat sebuah Bank, maka di akhir bulan ramadhan itu layaknya tutup tahunnya. Sampai adzan isya berkumandang saya sudah selesai mengerjakan semuanya. Sambil menunggu pesanan makanan yang sedang dalam perjalanan menuju kantor oleh temen-temen kantor yang pada buka bersama di rumah makan, saya keluar menghirup udara segar di balkon kantor, eh ada takbir keliling..😀

Malam takbiran lumayan rame dengan suara takbir anak-anak yang berkeliling di sepanjang jalan raya, tabuhannya heboh sekali.

Sampai rumah sudah pukul 20.00, saatnya mandi dan beberes pakaian, karena pukul 22.00 travel siap menjemput kami. Sebenarnya capeknya minta ampun, tapi ya sudahlah. Walaupun berangkat masih dengan keadaan cemberut ria, saya tetap berangkat bersama saudara twins yang berdomisili di jayapura dan uwak saya.😀

Perjalanan pun dimulai pukul 00.00, artinya travel terlambat 2 jam (Hadeeee). Pukul 03.00 pagi kita sudah sampai kota Madiun Beriman kota Gadis (Perdagangan dan Industri), dan akhirnya sampai ke kota tujuan yaitu kota Kediri pukul 06.00, pas sholat Idul Fitri.

Setelah acara Halal Bi Halal bersama keluarga Pakdhe dari bapak saya, dilanjutkan ke acara inti yaitu makan-makan😀. Dan karena ngantuknya tak tertahankan plus kecapekan saya tertidur dari jam 10.00 – 14.00 tanpa gangguan suatu apapun. Byuuuuh byuuuh.. Dan sore harinya si Brot (Panggilan kesayangan untuk adik ku) dan Nyak Babe juga sudah sampai ke Kediri dengan selamat..😀

Pagi-pagi buta kita melanjutkan perjalanan. Untuk kali ini 3 keluarga menaiki mobil mini bus AC menuju kota kutoarjo. Karena perjalanan cukup memakan waktu lama, maka kita sering istirahat.  Persil pertama kita istirahat di sragen untuk makan, persil kedua berhenti di  klaten tepatnya di terminal Bendogantungan untuk sholat dhuhur sambil njemput adek bontot ma mbekayu, dan persil ketiga kita makan di wates. Alhamdulillah dengan lambannya laju karena macet, pukul 17.00 kita sampai kutoarjo.

Dan kita bermalam di kutoarjo…

Paginya, pukul 07.00 kita melanjutkan perjalanan ke Kebumen, 2 jam perjalanan. Karena belum sempat sarapan kita mampir ke Kutho Winangun Kebumen untuk sarapan, yeee, akhirnya kali ini saya bernafsu makan nasi cukup banyak. Karena ketika di persil pertama dan ketiga saya sama sekali tidak makan nasi, cukup sop di persil pertama dan bakso di persil ketiga. Alhamdulillah,.. sesuatu😀

Aaahhh, Rumah di kebumen tepatnya di Langse, JatiBungkus Hummy bangets. Walaupun secara material berbeda sekali dengan rumah Kediri, tapi rumah kebumen Hummy beud deh. Diserong depan rumah ada langgar tempat penduduk sholat, ada kolam yang penuh kenangan (pernah tenggelam😆 ) dan amben “Ndeso” dilengkapi dengan kelambu itu sesuatu dah pokoknya…

Saking ndeso bin nggunung nya, jarak antara kota (kedung bener) dengan rumah langse sampai 1 jam perjalanan naek angkot, dan jalannya itu penuh liku, tapi indah karena di samping kiri tersaji pemandangan sungai yang mengalir besaaaar dan panjaaang sekali. Di samping kanan ada “Watu Rondo” yang sangat besaaaaaarrr sekaaaliiiii. Ngeri sekali kalo dipikir-pikir melewati situ. But I enjoy it😀

Masih ingat sekali ketika masih kecil diajak ke kebumen, karena waktu itu saya mabuk kendaraan, saya ndak mau naek angkot menuju langse. Saya liat ada andong di deket jalan sebelum naek angkot, jadi sepanjang perjalanan saya nangis gak ketulungan sambil tereak “Mau numpak Andooooong” (Hihiiiii, kasian sekali ibu saya ya) naek angkot saja memakan waktu satu jam, bagaimana kalau naek andong?? Bisa jadi satu hari perjalanannya..

Setelah naek gunung bersama keluarga Wak Munir, Babe Tamsi dan Pak Gun, kita istirahat sebentar minum Wedang Degan, langsung dari pohonnya. Cihuuuuy, asyik deh pokoknya. Di sela istirahat tersebut ada pesan yang disampekan oleh si bontot “Kalau naek gunung jangan sekali-kali bawa orang tua, menyusahkaan!). Ee Tanya kenapa?setelah ditelisik saya mengetahui penyebabnya.
Si bontot yang hobi naek gunung ini ndak mau turun dengan kita, mereka (si Brot en si Bontot) berinisiatif untuk mencari alternative jalur lain. Karena tak pamitan dengan orang tua si ibuk manggil-manggil mereka (Kok ndak turun-turun kenapa mereka ya?? Jangan-jangan dimakan harimau). Hahaaaaa😆

Yeaaaa, daripada berbelit-belit critanye, maka intinya. Berlibur ke rumah langse itu menyenangkaaaan, tapi kalau tinggal di langse ‘Trimakasih banyak’ saya ijin saja (Heheee), akses kemana-mana sulit soalnya, jauh dari peradaban.

Dan Waktunya pulang ke Klaten setelah bermalam 2 hari satu malam. Perjalanan pulang dari kebumen menuju klaten kita naek kereta, dan dari stasiun ke rumah akhirnya keinginan saya terkabul untuk naek ‘Andong’ Lagi selama bertahun-tahun lamanya😀😀. Berasa turis berwajah Ndeso niiy. Itsin jugak ternyata karena saya duduknya berhadapan dengan pengendara lain.

12 thoughts on “Lebaran di kota tetangga

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s