Tarbiyatul Aulad (Saatnya satu langkah lebih maju donks )


Sengaja di samping judul saya kasih embel-embel kalimat seperti itu, biar pembahasaanya ndak tentang Galaw suamiiii ajaaah (ini peringatan keras buat saya terutama) heheee. Membaca sekilas tentang Indahnya Tawakal oleh ust. Mu’inudinillah, Lc. Disitu diterangkan bahwa tawakal adalah menyerahkan semua urusan kepada Alloh setelah ikhtiar di maksimalkan, urusan hasil sudah bukan urusan kita, nah seperti itu langsung saya hubungkan dengan takdir jodoh

“Bapaknya anak-anak mu kelak tuh sudah pasti dia, apapun  yang awalnnya kau tak suka kau tak bisa melawannya, dan seberapa kuat kau menggondeli seseorang agar menjadi suamimu, kalau Alloh tidak ACC,  kau juga tidak bisa melawannya. Semoga saya tidak termasuk orang yang berkata “Jodohku  maunya kamu”

“Jodoh itu”, pendapat saya “Adalah ikhtiar seseorang dalam  menikah, jika semuanya lancar sampai akad itu terucap, maka mereka berjodoh. Itu artinya, mempelai laki-laki ridho meminang wanitanya, sang wanita pun ridho menerima dengan segala konsekuensinya dan masing-masing keluarga ridho untuk kehidupan mereka berdua. Dan yang paling utama yaitu “Mardhotillah” Ridho Alloh lebih utama.😀

Yang perlu di khawatirkan  sekarang bukanlah tentang siapa dia, tetapi bagaimana anak-anakmu kau didik dengan tangan lihaimu. Tidak bisa pintar seseorang itu tanpa belajar, maka dari itu mengapa Ilmu itu lebih utama dari berAmal. Dan semua ilmu itu juga akan sia-sia kalau tidak diamalkan. Ayo mari belajar buat calon bapak-bapak dan calon ibuk-ibuk!!! #SampeBerbusaBusaSodaraSodara😀

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shalih adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Qs. Al Kahfi : 46)

Namun ingat, bersama dengan itu, kenikmatan anak juga merupakan ujian yang bisa membuat kita lalai dari beramal shalih, dan berbuat maksiat kepada Alloh, seperti yang tertulis di

Qs. ATaghabun :14 “ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…”

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (Qs. At Tahriim:6)

Idiih, mengerikan sekali bukan jika kita termasuk orang yang beriman? Karena dalam panggilan ‘Hai’ itu hanya untuk orang yang beriman, dalam artian yang tidak beriman tidak ‘hai’. Tapi lebih mengerikan lagi kalau kita membayangkan yang menjadi bahan bakar neraka itu adalah kita dan anak-anak yang dididik dengan kelalaian kita.

Dari syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri dari api neraka adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Alloh. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksa neraka), kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Alloh (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya (Taisiirul Kariimir Rahmaan ; hal.640)

Nahlooh, betul kan? Mendidik istri dan anak-anakmu kelak itu lebih menarik untuk dikaji daripada mengkaji dan melakukan penelitian “Hmmmm, kira-kira si dia cocok gak ya jadi istri gue, dari segi tampang cakep si, tapi kok…” kemudian penelitian masih berlanjut menilai si ini si itu si ina si ita, dll dan akhirnya dia menemukan seseorang yang ‘Perfect’. Namun  ternyata dia tak jadi menikah juga, eee Tanya kenapa?? “Karena si perfect tadi juga lagi mencari seorang yang sempurna!!?” hahaaay😆

“Qaulan Sadiida untuk Anak-anak Kita”, kata Salim A Fillah dalam tulisannya, beliau menuliskan

“Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula. Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:

“Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri . Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar.” (An Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.”

Masih berlanjut tentang Qaulan sadiida

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau  kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.”

Waaaa, semakin bingung kan? Terus bagaimana nih caranya agar anak kita menjadi sholih dan sholihah? Browsing sana-sini pada akhirnya bingung juga mencari tips nya, kebanyakan tips siih. Yeaah, I have a little idea. Adakah di sekitarmu yang mempunyai anak yang sholih dan sholihah berdasarkan pengamatanmu dalam jangka waktu yang lama, pastikan pengamatanmu valid. Kemudian silaturahim ke rumah bapak ibuknya dan intrerogasi segera, bagaimana bisa mempunyai anak yang tidak hanya cerdas secara logika, tetapi juga cerdas spiritual dan emotional.

Dan akhirnya ketika kita menjadi tua renta dan meninggal setidaknya ada yang menjadikan harapan buat kita untuk ditinggikan derajatnya di surga kelak.

“Sungguh, seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, “Bagaimana aku bisa mencapai semua ini?’ Maka, dikatakan padanya, ‘(ini semua) disebabkan istighfar (permohonan ampun kepada Alloh yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu (17) ‘HR Ibnu Majah (No.3660), Ahmad (2/509) dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Buushiri dan dihasankan oleh syaikh al-albani dalam “Silsilatul Al haaditsish Shalihah” (no.1598)

“Jika seorang manusia mati, maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali tiga perkara :sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shalih yang selalu mendoakannya”(19) “HSR,Muslim (No.1631)

Klaten, 29 Agustus

Ditulis oleh Ulfah Uswatun Hasanah

Dengan Berbagai sumber, note Fesbuk (Pengusaha Muslim) dan tulisan Salim A Fillah

12 thoughts on “Tarbiyatul Aulad (Saatnya satu langkah lebih maju donks )

  1. F. Persiapan Sosial Setelah sepasang manusia menikah berarti status sosialnya dimasyarakatpun berubah. Mereka bukan lagi gadis dan lajang tetapi telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sehingga mereka pun harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan di kedua belah pihak keluarga maupun di masyarakat. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,”Q.S. An-Nissa: 36).

  2. subhanalloh….oell…saatnya mjd wanita paling bahagia dalam sabar dan syukur atas apa yang saat ini kita punya, hampir punya, dan berharap untuk kita punya.

  3. Hehehe. . Wah, persiapannya udah sematang ini nih mba e.😀
    Mantapppp!! Kata orang, jalan yang berkah, diawali dengan jalan yang berkah juga. Semoga bisa memanen keberkahan itu, disepanjang jalan kehidupan.

    *eh kepleset tanganku.:mrgreen:

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s