4th September International Hijab Solidarity Day


11 thoughts on “4th September International Hijab Solidarity Day

  1. Secara bahasa
    Jilbab : sejenis mantel atau baju yang serupa dengan mantel (kamus al-Muhith)

    Pendapat Ulama Tafsir
    Kain penutup atau baju luar/mantel yang menutupi seluruh tubuh wanita (Tafsir Ibn Abbas, hlm 137)
    Baju panjang (mula’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita (Imam an-Nawawi, dalam Tafsir Jalalyn, hlm 307)
    Baju luas yang menutupi seluruh kecantikan dan perhiasan wanita (Ali ash-Shabuni, Shafwah at-Tafasir, jld2, hlm 494)
    Pakaian seperti terowongan (baju panjang yang lurussampai ke bawah) selain kerudung (Tafsir Ibnu Katsir)
    Jilbab adalah ar-rada’u, yaitu terowongan (pakaian yang lurus tanpa potongan yang menutupi seluruh badan (Tafsir al-Qurthubi)

    Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman:Hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluannya,dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak padanya, dan hendaklan mereka menutupkan kain kudung di dadanya..(An Nuur. 31) [dalil tentang kerudung]

    Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59). [alil tentang jilbab]

    Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada keinginan untuk menikah lagi, tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka (pakaian luar) dengan tidak menampakkan perhiasan
    (QS an-Nur : 60) [dalil yang memperkuat bahwa jilbab adlah pakaian luar dan ada mihnah di dalamnya]

    “Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)”
    (HR Abu Dawud) [dalil tentang batasan aurat perempuan]

    hadis Ummu Athiyah ra :
    Rosulullah saw memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan solat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, “Wahai Rosulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rosulullah saw menjawab, “ Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya”
    (HR Muslim) [dalil yang memperkuat wajibnya memakai jilbab]

    Dari ketiga ayat di atas, kita jela bisa membedakan, bahwa khimar adalah kerudung atau penutup kepala yang batasnya sampai dada (juyub)
    Sedangkan Jilbab adalah pakaian luar (menyerupai mantel) yang luas dan tidak terputus (seperti terowongan) yang menutupi pakaian rumah (al-mihnah) dan seluruh bagian tubuhnyakecuali muka dan telapak kedua tangan.

    Bagaimana Dengan Panjang Jilbab?
    “Siapa saja yang menyeret bajunya lantaran angkuh, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat,“ Ummu Salamah bertanya : “Lalu bagaimana dengan ujung-ujung pakaian kami?” Rosul menjawab, “Turunkan satu jengkal”, Ummu Salamah bertanya lagi, “Kalau begitu telapak kakinya tersingkap”, lalu Rosul bersabda lagi, “Turunkanlah satu hasta dan jangan lebih dari itu”
    (HR at-Tirmizi)

    Bagaimana Jika Panjang Jilbab Terkena Najis?

    Tanah yang dilewati berikutnya akan mensucikannya

    Ummu al-Walad Abdurrahman bin Auf pernah bertanya pada Ummu Salamah ra tentang ujung pakaiannya yang panjang dan digunakan berjalan di tempat yang kotor. Ummu Salamah menjawab bahwa Rosulullah saw pernah bersabda : “Yuthahhiruhu ma ba’dahu (itu disucikan oleh apa yang sesudahnya)”
    (Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah)

    Adapun niqob (cadar/penutup wajah) adalah pengkhususan bagi istri-istri Rasulullah:

    “…Jika kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi saw), mintalah kalian dari belakang tabir. Cara semacam itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tidak boleh menyakiti hati Rosulullah dan tidak pula mengawini istri-istrinya selamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu amat besar (dosanya) di sisi Allah”
    (QS al-Ahzab : 53)

    Wallohu’alam bishowab..

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s