Menyikapi perbedaan


Perbedaan adalah keniscayaan, entah yang disampaikan itu berupa kebaikan atau keburukan pasti ada pro yang mendukung pendapat tersebut, pun sebaliknya ada yang kontra tidak sependapat dengan ide yang disampaikan.

Ketika kata sudah tercekat di leher karena tidak ingin melanjutkan perdebatan itu berlanjut hanya kata ini yang bisa saya ucapkan “Everybody has a reason”.

Tidak akan bisa memaksakan pendapat kita dengan orang lain, bahkan dengan orang terdekat, orang yang kita sayangi sekalipun tidak akan bisa. Persamaan latar belakang, persamaan komunitas, bahkan dalam persamaan karena dalam satu jama’ah pun sering ada perbedaan pendapat.

Jika salah satu dari kita tidak ada yang mengalah, maka akan akan terjadi perpecahan dan syetan akan berperanaktif untuk meniupkan kebencian diantara saudara yang sedang berselisih.

Memang tak selamanya seseorang itu berbuat benar, ada kalanya seseorang khilaf akan sikap dan perilaku, dan menjadi tugas saudara lain untuk mengingatkan. Ingat, saling mengingatkan bukan kembali mengolok-olok seorang yang telah mengolok-olok kita karena perbedaan pendapat. No body’s perfect guys, itulah mengapa manusia itu saling membutuhkan, karena harapannya mereka saling mengingatkan, bukan kembali mengolok-olok olokan mereka.

Merasa benar, sungguh semoga kita dilindungi Alloh dari perasaan ini.

Banyak kejadian yang bisa kita ambil di sekitar kita. Karena kita bukan malaikat, pastilah kita pernah berbuat kesalahan. Pendapat tentang tingkat kesalahan antara satu orang dengan orang lain juga pastinya akan berbeda.

Ambil saja satu kasus berikut ini

Si Fulan melakukan kesalahan yang berimbas kepada banyak orang. Jika si A menganggap kelakuaan si Fulan ini sudah sangat parah dan bisa dimaafkan ketika si fulan benar-benar toubatan nasuha, maka si B menganggap kesalahan si fulan bisa diperbaiki dan memakluminya.

Bisa saja perbedaan pendapat itu akan menimbulkan perpecahan kalau tidak ada kesadaran dari masing-masing untuk saling mengalah. Jika saja si A dan si B tetap saja mempermasalahkan itu maka si A akan berkata kepada si B “Kenapa kau bisa memaklumi kesalahan fatal seperti itu? Itu sudah keterlaluan!! Jika kau melanjutkan sikapmu kau tidak akan bisa memberikan pelajaran buat fulan dan si fulan akan mengulanginya!

Si B pun tidak mau kalah, dengan lantangnya dia berkata “Apa kau sudah merasa paling benar dengan sikap-sikapmu? Apa kau merasa peling pintar sehingga membodohkan orang yang tidak tau dengan menghukumnya? Begitukah caramu memberikan pelajaran kepada fulan? Sungguh terlalu kau ini”

Hmmm, tidak ada yang salah dengan pikiran mereka berdua. Jika nafsu mereka tetap dibiarkan liar, maka bisa rusaklah hubungan mereka berdua. Tidak ada yang salah dengan maksud si A dengan memberikan pelajaran seperti itu dengan tujuan agar orang lain tidak mencontohnya, si A ingin mengatakan kepada yang lain bahwa ini adalah sebuah contoh yang salah, jangan kalian tiru! Itu maksud si A dengan berpendapatnya.

Tidak ada yang salah juga dengan pendapat si B, si B ingin memaafkan perbuatan si fulan dengan harapan ia akan memperbaiki kelakuannya. Si B berharap dengan ampunan yang penuh kemakluman agar si fulan tidak mengulangi perbuatannya.

Ya, Everybody has a reason. Semuanya sama-sama baik, tinggal bagaimana membuat kesepakatan-kesepakatan si A dan si B yang bisa diterapkan untuk si Fulan. Bebeda pendapat dengan saling mencemooh pendapat satu sama lain itu kurang ahsan.

Dan saya sepakat pendapat seorang saudara tentang tabayun “Jika dihadapkan kepada kalian 1kg jeruk untuk kau nilai, maka tidak ada yang lebih ahsan selain mencobanya satu persatu”, dengan artian, ketika kita dimintai pendapat tentang suatu kasus, jangan langsung menjustifikasi yang kita kurang faham kondisinya. Kupas habis apa yang terjadi, dan lakukanlah tabayun. Indahnya tabayun yang mendamaikan gemuruhnya dada yang penuh kemarahan.

Rosululloh pun pernah berselisih pendapat dengan sahabat saat perang uhud. Ketika itu Rosululloh bermimpi, berdasarkan ta’wil yang diabadiakan oleh syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury dalam Ar-Rahiiqul Makhtuum. Tentang beberapa ekor lembu yang disembelih dalam mimpi Rosul berarti beberapa sahabat beliau akan terbunuh syahid. Mata pedang yang rompal berarti anggota keluarga beliau akan mendapat musibah. Dan baju besi yang kokoh itu adalah kota madinah.

Dengan mimpi itu Rosululloh mengusulkan untuk tetap bertahan di kota madinah. Dengan pertimbangan ini akan membuat musuh menjadi bimbang. Jika mereka mengepung tanpa masuk, kondisi akan dibiarkan mengambang. Jika mereka menyerbu masuk maka kaum muslimin bisa menyergap mereka di mulut-mulut gang dan para wanita bisa menyerang dari atap-atap rumah.

Tetapi para sahabat berbeda pendapat dengan bersikukuh untuk menyerang pasukan musuh. Perdebatan masih berlangsung. Hardikan ‘Abdullah ibn Ubay seorang munafiq terhadap para sahabat yang menentang pendapat Rosululloh semakin memanas.hingga akhirnya Rosululloh mengalah. Beliau mengikuti pendapat para sahabat untuk berperang. Mereka menyongsong perang uhud. Dan perang uhud ini berakhir dengan kekalahan kaum muslimin sampai-sampai Rasululloh ‘Alaihi wa Sallam terluka dan Hamzah gugur bersama tujuh puluh orang sahabat lain.

Adakah Rosululloh kemudian mengeluh dengan berkata “Kalau saja kalian ikuti apa yang kukatakan.. Kalau saja kita bertahan di Madinah, kalau saja mimpi kenabianku kalian percayai..!. Tidak!! Rosululloh tidak melakukan hal itu

Disaat orang lain, orang-orang terluka menjadi para pengeluh yang fasih dan penuh penjiwaan. Dalam Dekapan Ukhuwah, orang-orang mukmin mengeluh hanya kepada Alloh. Mereka bagai Yaqub dalam surat Yusuf ayat ke 86 berkata “Sesungguhnya hanyalah kepada Alloh aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Alloh apa yang kamu tiada mengetahuinya”

Dalam Dekapan Ukhuwah

Ya, kebanyakan orang yang saling mencela adalah orang-orang yang terluka itu.

Satu lagi temans

Setiap muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak akan menzhaliminya, menghinakannya, dan tidak pula meremehkannya. Keburukan seseorang itu diukur dari sejauh mana dia meremehkan saudaranya” (HR.Muslim dan lainnya)
Dalam hadist lain juga ditegaskan
Mencela seorang muslim itu perbuatan fasiq sedangkan memeranginya adalah perbuatan kufur” (HR.Bukhari dan Muslim)

Semoga bisa diambil ibroh teruntuk kita semua, semakin dibuat dewasa akan perbedaan disekitar kita. Tak ada manusia yang sempurna memang, dan ingat tugas dari kita adalah saling mengingatkan sesamanya, bukan saling mencemooh orang yang mencemooh kita. Jika itu kita lakukan, apa bedanya kita dengan orang yang mencemooh kita? Bisa jadi kelak orang yang kita cemooh lebih baik dari kita 🙂 . Semangat menikmati perbedaan temans..

Klaten 04 September 2012

11 thoughts on “Menyikapi perbedaan

  1. kalau bagi saya,..manusia itu tidak punya kapasitas apapun untuk menilai orang lain,urusan hati dan perbuatan yang terlihat diluar jangkauan kita..
    saya lebih setuju dengan pernyataan “belum memakai sepatu yang sama”,merasakan satu jeruk tidaklah cukup…karena kita tidak bagaimana proses jeruk itu sampai dihadapan kita…

    yang berhak menilai hanya Allah yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.

    • Iya pak, Terimakasih sudah menambahkan penjelasan dengan link nya.
      Agaknya yang terjadi disekitar saya saja yang saya sampaikan disini pak, masih yang berupa kejadian yang simple tapi sangat berimbas pada hubungan sesamanya.🙂
      Belum sampai ke tataran perbedaan mazhab, kalau sudah tataran seperti itu ilmu saya belum cukup siip pak, heheee…

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s