Incidiotism


Mengambil istilah dari pak Yudhi Herlambang tentang Incidiot (Incidentally Idiotism). Kalau pak yudhi mengartikan sebagai ‘Keguoblokan Insidental’, tapi saya lebih kalem dengan mengartikan ‘Kebodohan Insidental’, heheee sebenarnya sama saja. Tapi bahasa saya lebih kalem (kayak orangnya :D).

Pernahkan saudara semua mengalami kebodohan incidental tersebut? suatu keadaan dimana anda dalam keadaan normal, tapi tiba-tiba menjadi bodoh karena sesuatu tersebut?

Saya pernah mengalaminya beberapa kali dengan gejalanya berupa panas dingin, keringat bercucuran, gemeteran, dag dig dug gak karuan dan terjadilah kebodohan yang nyata itu berupa kejadian yang memalukan dunia persilatan. Hahaaa, lebay.

Ini memang terjadi, sungguh terjadi dan terlanjur terjadi😀 . Biasanya  hal itu saya alami ketika bertemu dengan orang itu. Beeuuu, padahal saya belum pernah berbincang-bincang padanya, mengenalnya saja belum, tapi kalau sekedar tau namanya ya tau lah. Dan saya kira beliau juga sudah tau saya dengan track record saya di kala itu (PD Dahsyat):mrgreen:

Once upon a time, hayyyaaah, heheee.

Kala itu saya sedang memanasi motor smash milik mbak kos saya yang mau saya pakai. Dengan gagahnya saya nggenjot dan akhirnya berhasil (horaaaay). Sedikit menggaya dengan mengglayer-glayer motor smash saya iseng  melihat kedepan yang berupa jalan. Tak jauh dari saya menggleyer-gleyer motor  ada dua orang yang menuju kos saya, tapi tujuannya pasti berbelok karena pastilah yang dituju saat pagi-pagi adalah warung makan😀. Tanpa pikir panjang saya langsung masuk kos, menutup pintu dengan kekuatan dan  meninggalkan motor yang hidup tadi sendirian diluar. Ujung-ujungnya ngintip juga di jendela, sudah lewat belum ya?. Sudah rasanya dag dig dug gak karuan, panas dingin yang muncul tiba-tiba. Setelah mulai tersadar dari kebodohan yang nyata saya tersadar “Ngapain tadi heboh getoo yah?” hahaaaa

Masih dengan orang yang sama tetapi beda kasus. Pada kesempatan yang langka saya dan teman selingkaran diminta untuk jadi kepanitiaan suatu acara, setelah rapat dimulai ternyata molor waktunya. Harusnya jam 8 sampai jam setengah Sembilan belum ada tanda-tanda untuk dimulai. Tiba-tiba muncullah beliau dari dalam tempat tersebut  secara ‘mak bedunduk’ dan bertanya kepada saya “Yang akhwat sudah lengkap?”. Incidiot kembali beraksi, bukannya menjawab pertanyaan malah ‘njegegeg’ sambil tingak tinguk mengharap ada yang mau menolong ‘tolong tolong tolong’. Alhamdulillah teman saya langsung menjawabnya.  Dan sepanjang lantunan ayat suci yang beliau bacakan, malah membuat saya bergetar dan membatin “Merdu sekali bacaannya” sambil beristighfar, (istighfar…)😥

Incidiot ini hanya muncul ketika bertemu dengannya saja. Makanya ketika diminta untuk menghubunginya saya langsung berkata “tidaaaak’ dengan hebohnya. 😆 . Karena pasti nanti incidiot saya kambuh lagi. Yang tak habis pikir, kenapa gejala ini kambuh ketika bertemu dengannya ya? Aaah, biarkan sajalah. Sudah lama saya tidak mengalami incidiot semenjak tak pernah bersinggungan lagi dengannya.  Semoga beliau mendapat istri yang sholehah saja deh aamiin.😀 . pun dengan saya, semoga saya juga mendapat yang sholih, yang sholih, dan yang sholih lahir dan bathin.😀😀😀

43 thoughts on “Incidiotism

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Ulfa…

    Aamiin… semoga mendapat yang solih dan yang menenangkan hati biar tidak terasa beban hatinya dengan dig dug yang tidak terarah. Pengalaman menarik yang membawa kenangan.

    Senang bisa bersilaturahmi dan mengenali Ulfa.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

    • ‘Alaykumussalam Wr.Wb..
      Aamiin aamiin aamiin bu siti. Alhamdulillah dari kemaren dapet uleh-uleh doa dari para bapak atau ibu. Semoga jalannya pun yang barokah ya bu siti ya, biar rentetan kedepan juga barokah.🙂
      Senang jugak bisa berkunjung ke blog bu siti kemarin. salam mesra balik bu siti dari klaten🙂

  2. wah,,,, pake acara ngintip segala ya ur…?
    belum pernah saya merasakan sampai sejauh itu, paling banter hanya berdebar debar jantung ini, saat melihat si dia…itu dulu sebelum menikah….

      • hehe….. biasanya ur kalau kita sering salting itu, karena merasa….

        belum ur, belum ada aja neh keberanian hanya sekedar untuk menyuruh baca doang sama ci ayank di rumah…

      • Hahaaay, sudah aman terkendali pak, karena sekarang sudah tidak bersinggungan lagi. Jadi sudah tenaaaang😀

        Yaaah, pak uyan kok belum dibaca ci ayank? eman-eman pak. Wanita itu secara psikologis juga membutuhkan ungkapan lho pak dari suami😀
        Hihihiii

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s