Berilmu dengan Kaffah


Selalu ada perbedaan dalam kehidupan ini. Bukan hanya perbedaan pendapat yang bersifat dhahir, tetapi juga perbedaan pendapat yang bersifat keyakinan (batin). Setiap keyakinan mempunyai alasan kenapa seseorang yakin dengan hatinya. Selain bertanya pada hati (Istafti qalbak) maka perlulah ilmu dalam mengambil sebuah keputusan.

Maka dari itu Al Fahm selalu menjadi yang utama dan terdepan dari pada al ‘amal. Permasalahannya, untuk faham saja kita kurang bersemangat dalam menimba ilmu. Eh, bukan kita. Mungkin hanya saya saja. Sehingga yang tidak tau, disangka tau. Lebih nyaman dengan ‘anggapan’ berilmu daripada berilmu sungguhan. Ataukah lebih suka tidak berilmu karena kalau kita sudah tau tapi tidak mengamalkannya maka dosanya tidak sebesar dari yang ‘berilmu’?

Hmmmm….
Berilmu, memang membutuhkan niat dan kemauan.

Klaten, 18 Oktober 2012

7 thoughts on “Berilmu dengan Kaffah

  1. Setuja. Karena menuntut ilmu adalah wajib, dan memang memanfaatkan dan mengamalkannya pun tak kalah wajib, di sinilah mungkin kesulitannya ya mba

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s