Mimpi yang Sempurna


“Pernah suatu kali aku bermimpi, san. Bermimpi bisa mengendarai motor dengan lihainya di kegelapan malam. Itu waktu aku masih duduk di kelas 2 SMP. Kau tau saat itu ayah hanya punya satu motor yaitu motor Grand ini. Mbak waktu itu di kota lain bekerja sambil kuliah. Dan aku masih setia dengan sepeda biru yang kukayuh setiap harinya”.

“Ketika SMA ayah pernah mengajariku naik motor. Pertama kali mencoba memang mengkhawatirkan, aku belum stabil mengalihkan persneling. Namun pada akhirnya aku bisa membawa ayah berkeliling kampung”.

“Kemudian pada saat yang tepat, aku ditantang ayah untuk mengendarai di jalan raya. Parah banget hasilnya san. Dalam satu hari aku hampir tertabrak oleh bus besar, mobil cherry, sepeda motor bahkan aku hampir menabrak becak. Kau tau san, setelah itu aku tak pernah mau naik motor lagi sampai lulus SMA. Hahaaaa “ . Tawaku renyah sambil memoles kepalanya yang tak berdosa.

“Malam itu san, aku akhirnya terpaksa naik motor malam-malam sendirian. Bukan hanya itu, medannya adalah medan pegunungan yang naik turun, berkelak-kelok dan mengerikan san. Turun hujan pula. Perjalanan selama 45 menit itu akhirnya selamat sampai tujuan. Itu ketika semester pertama aku kuliah di Solo”

“Heh us”, komentar si Hasan tanpa memanggil awalan ‘mbak’, “Tapi sekarang kau lihai sekali naik motor us. Jarak 40km kau tempuh satu jam. Padahal wanita lain bisa sampai 1.5 jam tuh us”.

“Itulah hebatnya aku san, hahaaaa” Jumawaku yang disambut pukulan di lengan oleh hasan. “ Semua bermula dari mimpi. Sempat aku berfikir apakah aku bisa naik motor kelak? Sampai waktu tersulit itu akhirnya aku memulai mimpi itu. Awal keberanian bukan di siang hari, terang benderang, dan jalan landai. Itu juga hasil paksaan, san dan justru awalan itu saat di kondisi sebaliknya.

Dan kau tau san? Saat ini, sekarang ini aku mempunyai mimpi. Aku bermimpi untuk menjadi istri yang sholihah bersama suamiku, menjadi teman seperjuangan suamiku yang setia, ibu yang cerdas untuk madrasah anak-anakku kelak, sahabat yang menjadi muara pertama mereka untuk bercerita. Dan dalam benakku sekarang ini, aku juga sering bertanya pada diriku sendiri ‘apakah aku bisa meraih mimpi yang sempurna itu san?’. Aah, san.. Doakan aku dalam setiap sujud dan dzikirmu. Atau saat kau terdhalimi san. hihiiiii

Dan matahari mulai melambaikan sinarnya. Menuju wilayah lain yang menunggu giliran mentari paginya. Satu piring pisang goreng hasil karya Hasan sudah ludes kulahap bersamanya di senja kemarin.

Doakan aku san…

Klaten, 12 12 12 (Yang katanya tanggal keramat:mrgreen: )

33 thoughts on “Mimpi yang Sempurna

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s