Di jembatan, kau dan aku


“Jangan kau lihat ke belakang ketika kau berjalan dijembatan, kau akan limbung”
“Juga, jangan sering lihat kesamping, itu akan membuatmu takut akan ketinggian”
Kau katakan itu padaku lalu
Lihatlah, aku sudah tidak menangis lagi.
Karena pesanmu untuk tetap memandang kedepan
Lihatlah juga, aku sudah cukup percaya diri berjalan di jembatan ini
Itu karena pesanmu untuk tidak sering melihat kesamping.

Juga tentang hal yang paling ‘fragle’
Kau minta aku untuk menjaganya

Rintik hujan turun sebelum mendung itu memayungi,
Kau belum berpesan kepadaku tentang ini
Aku bingung
Kau menghilang tanpa sebuah pesan untuk ini

Kau memang tidak berada di depan, di belakang atau disampingku, bahkan kau jauh disana
Tapi, aku merasa sedang berjalan bersamamu
Lagi-lagi itu hanya perasaanku
Nyatanya, kau jauh
Nyatanya, kau tidak bersamaku
Karena itulah aku duduk terpekur, aku takut.

Katakan, apakah aku harus berjalan bersama orang didepanku ataukah musti menunggu?
Hening. Kau terdiam.

Ada laba-laba yang turun dari sarangnya, berpegang pada jaringnya.
Meluncur bebas menuju lantai bawah
Ya, aku tau rasanya seperti apa

Bahkan, malam itu, dan malam-malam sebelumnya aku memohon pada Tuhanku untuk menjagamu
Ya, menjagamu
Begitu juga malam selanjutnya, aku akan memohon hal sama pada Tuhanku.

Dan masih ingatkah lampion milikmu?
Aku akan mengingatnya.
Ini bukan karena mu, tapi karena aku mencintai-Nya.