Menjadi Imaginatif


Wah ternyata menjadi seseorang yang imaginatif itu menyusahkan ya? Bayangkan saja dalam kasus makan tahu dengan cabe saja sudah ribet gitu. Sudah kepedesan dulu sebelum makan cabenya. Walau pada akhirnya ketika dimakan kadang cabenya juga ndak pedes-pedes amat, karena tertipu dengan penampilan fisiknya saja yang merah merona menggoda selera para pecinta pedas. Malah cabe yang hijau kemilau bisa lebih pedas dari perkiraan. Nahlooo, ketipuuu..

Belum lagi masalah kehidupan yang dijalaninya. Orang imaginatif suka sering parno sebelum kejadian itu terjadi. Belum juga dipanggil untuk mengerjakan PR di papan tulis, eh badan sudah gemeteran, panas dingin dan kejang-kejang (Kalau sampai kejang, mungkin sedang salah makan obat kali yak:mrgreen: )

Nah, belum juga punya anak, eh sudah membayangkan repot dengan segala keruwetan teat teot kebisingan anak-anak yang berseliweran kayak gangsingan. Boro-boro punya anak, nikah aja belum. Eh, masih ditanya kapan nikah kapan nikah, ditawari saja masih sering melarikan diri. Belum siap katanya. hohohoho😆

Ceracau kagak jelas di sabtu pagi..😉

Klaten, 19 Januari 2013

9 thoughts on “Menjadi Imaginatif

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s