Rahmat dibalik hal buruk


“Inilah perpisahan antara aku dengan kamu” kata nabi khidir kepada nabi Musa ‘alaihissalam, “Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari kasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya).

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar.

Dicuplik dari sini 

Terkadang kita cukup tergesa-gesa  mengambil sebuah keputusan. Kemudian menyimpulkan, mengecap dan berargumentasi tentang suatu hal buruk yang menimpa kita dan sekitar kita. Kesabaran kita masih belum  maksimal. Ujung-ujungnya yang terjadi adalah kita su’udzon terhadap ketentuan Allah.

Kita tidak tahu, sedang Allah Maha Tahu. Allah Maha kuasa sedangkan kita tidak kuasa sama sekali. Mungkin disinilah letak dari perbedaan antara “kun fayakun dengan bim salabim”. Allah berkehendak untuk menjadikan hal yang dikehendaki berdasarkan yang hambanya butuhkan. Bisa saja Allah membuat sakit seseorang itu saat ini, padahal setelah itu terdapat rahmat yang melimpah baginya.

Sedangkan bim salabim, itu adalah perbuatan syirik yang menyekutukan Allah dengan meminta bantuan dari Jin. Ia mewujudkan apa yang diinginkan oleh sang konsumen yang datang padanya. Rasa senang yang timbul hanya akan muncul saat itu, tidak kekal, semu dan tidak berkah, setelah itu?? Wow, we never know. Ketika jalan yang diambilnya bukan jalan yang baik, maka ia juga akan mendapatkannya.

Dalam kisah pertemuan nabi khidir dan Musa alaihissalam yang saya dengar dari radio pagi tadi sangat banyak sekali pelajaran yang saya ambil. Entahlah, akhir-akhir ini saya bahkan sangsi akan keajaiban dalam diamku. Walaupun saya tetap terdiam dan berjuta kata dalam doa. Sekaligus berjuta pertanyaan “Katanya Allah tau isi hatiku”, dan nyatanya Allah memang tau setiap kata yang hanya terucap oleh hati sekalipun tanpa terlisankan. Dan Allah segera menjawab pertanyaanku dengan menggerakkan hatiku untuk mendengar tausyah tadi pagi yang dibawakan oleh ustad mu’in nudinulloh basri lc. Bukan secara kebetulan. Tidak ada kebetulan dalam dunia ini, karena semua sudah terskenario.

Allah Knows. Ya, Allah knows. Bahkan untuk memahami kata itu kita mesti menjalani berbagai kejadian. Eh, mungkin bukan kata ‘kita’ yang tepat, tapi ‘saya’. Berbagai kejadian yang sempat menyita pikiran, antara tetap berhusnudzon dengan ketetapan Allah atau  membangkang dengan su’udzonnya terhadap ketetapan dari Allah.

Kekhawatiran dan ketakutan yang terlalu berlebihan akan hal yang belum terjadi. Masihkah ada keyakinan akan janji Allah wahai hati? Masih terngiang dalam balutan kalimat yang menghangatkan hati dari goresan penuh makna Salim Afillah

“Rejeki kita itu sudah tertulis dalam kitab lauhul mahfd, mau diambil dengan cara halal atau haram dapatnya segitu juga. Begitu juga dengan sang pemilik tulang rusukmu itu, dia sudah tertulis dalam kitab itu, mau diambil dengan jalan halal atau haram dapetnya ya itu juga. yang membedakan adalah rasa berkahnya”

Mari bekerja seberkah-berkahnya, dan jemput ia tulang rusukmy seberkah-berkahnya. Semangat.. Keep husnudzon to Allah.

Klaten, 22 January 2013

6 thoughts on “Rahmat dibalik hal buruk

  1. aku suka kalimat yang ini “yang membedakan adalah rasa berkahnya”…
    setuju setujuh… sama2 dapat segitu yg satu berkah yg satu enggak…. Allah maha tahu mana hambanya yang bertaqwa.

  2. saya kira kalo mau ceritain mas rahmat🙂
    memberi nafkah yang haram itu seperti meminumkan racun arsenik, sedikit demi sedit dan perlahan2 akan membuat sengsara🙂

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s