Menjadi solusi ataukah sebaliknya?


Saya berdiri atas nama saya sendiri. Saya bukan Pegawai Negeri Sipil yang mempunyai banyak bawahan dan pengaruh. Saya bukan petinggi perusahaan yang bisa menerapkan kebijakan-kebijakan yang mewajibkan karyawannya untuk melakukan apa yang dia mau. Saya pun juga bukan seorang guru yang mempunyai banyak murid yang siap untuk dibekali ilmu.

Di awal, bisakah kita menyepakati tentang hal ini? “Jikalau kita tidak bisa menjadi solusi dari suatu permasalahan, maka kitalah yang akan dibahas dalam permasalahan ini. Dalam artian kitalah masalah itu sendiri”. Jikalau masih ada yang menanyakan status “diam” nya, maka diamnya itu adalah suatu permasalahan yang harus diketemukan solusinya.

Dulu sekali saya mengira, bahwa ketika kita tidak melakukan hal yang salah, maka kita akan aman, tidak akan dihukum, tidak akan terkena denda maupun yang lebih parah yaitu Penjara atau Hukuman mati. Ah, saya lupa. Itu terjadi di dunia mimpi saja kiranya. Dimana yang tinggal tidak serakah harta maupun jabatan. Orang yang tinggal di negeri impian itu tidak dipenuhi oleh nafsu. Haha.. itu hanya di dunia malaikat.

Dan sekarang ini, mindset saya sudah berubah total. “Orang baik disangka penjahat, pun sebaliknya orang jahat Nampak baik dan dielu-elukan banyak orang”. Bagaimana sikap kita? Seperti yang pak iwan sampaikan dalam komentar di tulisan saudara Yoga dalam  postingannya “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (QS 49:6)”

Dunia politik salah satunya. Dulu sekali saya termasuk yang tidak suka dengan dunia itu. Mindset yang ditanamkan dari dunia luar berkata bahwa ini adalah dunia yang kotor. Ya dunia abu-abu.

Jika dunia politik ini diibaratkan sebagai selokan yang berisi sampah dan air yang sangat keruh maka ada 3 sikap yang Nampak. Mereka akan berkata bahwa selokan itu najis, tak perlu turun didalamnya, tetapi masih terus berharap bahwa selokan itu akan bersih dengan sendirinya. Salah satunya juga akan meributkan tentang kotornya selokan itu tanpa mau turun membersihkan selokan tersebut. Dan satu lagi langsung turun untuk membersihkan selokan.

Sangat mustahil jika kita menginginkan pemerintahan yang terdiri dari pemimpin yang adil jika kita tidak mau masuk didalamnya. Ikhtiar kita bukan hanya sekedar merubah diri sendiri lebih baik. Saya tidak berkata bahwa ‘memperbaiki diri itu hal yang sepele’. Sama halnya juga dengan berhijab.

Jika semua orang beranggapan bahwa untuk berhijab itu menunggu kesemuanya baik menunggu hingga ia sempurna dan hatinya bersih dari dosa, maka mungkin tidak akan ada wanita berjilbab di dunia ini.

Jadi, apa yang akan disimpulkan dari tulisan kali ini? Silahkan disimpulkan sendiri. Kalau saya boleh membuat pernyataan ini, maka saya akan berkata “jika cerdas, bisa menyimpulkan sendiri”. Setidaknya ini yang hanya di pikiran saya.

Klaten, 31 Januari 2013

32 thoughts on “Menjadi solusi ataukah sebaliknya?

  1. Ibrahnya: Terkadang apa yang buruk menurut kita, baik menurut Allah, dan terkadang apa yang baik menurut kita, buruk menurut Allah. Maka tetap dalam tuntunannya baik atau buruk itu akan selalu jadi kebaikan.

  2. Saya ingat perkataan dosen kewirausahaan saya juga, bahwa ketika ingin memulai suatu bisnis, mulailah dari yang awal sekali, yaitu konsep, gunakan semua sumber daya yang kita miliki terlebih dahulu, tidak usah memikirkan hal-hal yang masih jauh dari pencapai-an. Saya menyimpulkan bahwa kita akan gagal, jika tidak pernah memulai. kita selalu memiliki alasan ini dan itu, yang menyebabkan aksi diam.🙂

  3. “Orang baik disangka penjahat, pun sebaliknya orang jahat Nampak baik dan dielu-elukan banyak orang”
    bener banget mbk,,,

  4. saya mau ngutip ini aja : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (QS 49:6)”

  5. Ayo, kawan-kawan, bangun.. bangun.. dan gotong royong.
    Mari turun gunung membersihkan selokan, karena itu adalah langkah kongkrit, agar selokan tidak mendatangkan penyakit.

    Kampung kita ini tidak butuh orang-orang yang hanya sibuk berwacana atau sibuk mengecam tanpa langkah nyata, karena mereka hanya memilih hidup di alam mimpi. Hidup di alam mimpi baginya sangat nyaman tidak perlu berfikir apalagi menyingsingkan lengan baju. Ketika bangun tidur, disuguhi kopi dan pisang goreng, sambil mengecam mereka yang kerja keras membersihkan selokan. Setelah capek mengecam, mereka lanjut dg tidur menjemput mimpi (berwacana), begitu seterusnya siklus hidupnya. Sampai tanpa terasa hatinya dipenuhi penyakit, karena selokan di depan rumahnya dibiarkan kotor tanpa ada upaya dibersihkan, mendekati selokannyapun enggan.

  6. Menurut saya politik demokrasi tu dianalogikan sapiteng. Kotor dan memang seharusnya kotor. Ngapain kita nyemplung ke sapiteng?

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s