Don’t Go


Kau tau kisah hatciko si Anjing dari jepang itu? Ya, mungkin hal seperti itu juga akan kulakukan terhadapmu. Aku tidak akan pergi sebelum kau mengucapkan selamat tinggal.

Masih saja tergugu jika mengingatnya

“Allah itu tau kebutuhanmu, tau yang terbaik untukmu. Bukan masalah waktu yang kau butuhkan, tapi bagaimana persoalan mengelola hatimu saja yang perlu kau benahi. Dia memasukkan malam kedalam siang dan memasukkan siang kedalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Agar kamu mempunyai pandangan lain terhadap kehidupan.

Selalu saja kuberharap kau selalu mendapat yang terbaik. Jika saja kau terluka, maka pindahkan saja luka itu kepadaku. Layaknya kau yang telah menyembuhkan lukaku kemarau lalu. Aku yang tersedu karena lukaku menganga lebar dengan cairan darah segar mengalir keluar. Dengan sabarnya kau membersihkan, memberikan obat, serta membungkusnya dengan perban. Memberikan mantra ajaib menghentikan tangisku. “Cep cep puk puk”

Kau lihat sendiri kan? Sekarang aku bahkan sudah berlari riang melesat. Kadang meloncat dari meja tinggi di depan teras itu. Terkadang kau meneriakiku untuk menghentikan tingkahku yang sembrono itu. Justru aku semakin ingin melakukannya lagi, karena aku ingin mendengar teriakanmu sekali, dua kali, dan berkali-kali. Andai saja aku tak bertemu denganmu dijalan itu, entahlah akan seperti apa jadinya. Ini bukan suatu kebetulan bukan?

Aku iri melihat senyummu, aku iri mendengar teriakan optimismu, aku iri melihat tawamu yang menggeleggar, dan aku iri pada kebaikanmu yang tanpa mengharapkan sedikit upah dari setiap mantra ajaibmu itu. Aku ingin selalu mendengar nasihatmu. Tak apa jika aku hanya menjadi bayanganmu saja. Melihatmu tertawa saja itu sudah membahagiakanku.

Lewat jendela kecil ku sering melihatmu beraksi, tapi terkadang kau membuatku jengkel. Menghilang begitu saja, kemudian kembali dengan tawa khasmu.  Ah, aku ingin mendengar kau memainkan piano. Pastinya tak banyak not yang kau kuasai bukan? Hahaaa.

Kau lihat sandal jepit butut itu? Ya, sandal itu tak layak kau pakai kemana-mana. Sandal itu hanya melindungi kakimu ketika kau berjalan di tanah becek. Tak pantas kau kenakan kemanapun. Memang terasa nyaman menggunakannya bukan? Tapi akan jadi bahan tertawaan orang banyak ketika kau memakainya di depan kawanmu.

Dan masih seperti kataku tadi “Aku tidak akan pergi sebelum kau mengucapkan selamat tinggal. Dan kuharap pada Tuhanku, semoga kau tak pernah mengucapkan ucapan yang menakutkanku itu. Please don’t go”

Please don't go