Dan masihkah berharap syurga?


“Gimana kabar hafalanmu jeng? Keknya sudah 9 bulan aku gak gabung ma dirimu”, Tanya seorang gadis kewek yang sedang istirahat sejenak di pusat perbelanjaan setelah berputar-putar mencari sepatu untuk ngantor.

“Ya, gitu deh jeng. Sekarang ustadzahku agak keras. Perpindahan dari ustadzah yang lembut ke keras itu memerlukan adaptasi”, jawabnya agak termenung. Mungkin karena sering mendapatkan motivasi yang berlebihan mengenai hal itu:mrgreen:

“Hahaaa.. tapi dengan adanya itu jadi tambah semangat dung ya?”, jawabnya sambil nyengir menebar pesona sambil ndelosor di tangga. “Betewey, gimana kabar tilawahmu juga nih? Masihkah mengamalkan one day one juz? Busyetdaaah, tempatku kebanyakan emak-emak, jadi agak sering kebawa untuk beralesan turun target tiap harinya” lanjutnya cas cis cus.

“Target sih masih diusahakan one day one juz, tapi kalo lagi futur minimal tak usahakan 5 lembar perharinya”, jawabnya masih agak kurang bersemangat.

“huaaaa,.. iya sama! Aku juga gitu. Tapi tau gak jeng kalo futurnya itu sudah tingkat nasional dan gak ketulungan lagi bisa sehari Cuma 2 lembar. Astaghfirullohal’adzim” Ucapnya sambil mengelus dada.

Dua gadis di pusat perbelanjaan yang sedang ndelosor itu terlihat nelangsa dengan kenyataan yang dialaminya. Hmmm

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasalah dalam sebulan sebanyak tiga hari.” Dia berkata: “Aku sanggup yang lebih banyak dari itu.” Dia terus saja mengatakan kemampuannya itu hingga akhirnya Beliau berkata: “Kalau begitu berpuasalah sehari dan berbuka sehari.” Beliau juga berkata kepadanya: “Bacalah (khatam) Al Qur’an dalam sebulan.” Dia berkata: “Aku sanggup yang lebih dari itu.” Dia terus saja mengatakan kemampuannya itu hingga akhirnya Beliau berkata: “Kalau begitu kamu khatamkan dalam tiga hari.” (HR. Bukhari)

Kembali teringat kisah dari gadis kecil penghafal Al Qur’an itu “5 juz setiap hari itu adalah wirid wajib bagiku”. Tambah menunduk malu ia, dengan pernyataan yang menyayatnya setajam silet. Berdarah-darah.

Pada hari-hari biasa, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Al Quran dikhatamkan tak boleh lebih cepat dari 3 hari dan tak kurang dari satu bulan, sebagaimana bunyi hadits:

“Bacalah (khatamkanlah) Al Quran setiap sebulan sekali.” Aku menyatakan, “Aku mampu melakukan lebih banyak dari itu.” Beliau pun terus menguranginya sehingga menjadi tiga hari.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 7/93, no. 1842)

Maka, masihkah kita bisa tertawa diatas porak poranda hubungannya dengan TuhanNya?

Dan masihkah kita berharap syurga tanpa adanya kemauan untuk memperbaiki ruhiahnya?

22 thoughts on “Dan masihkah berharap syurga?

  1. Untuk ibadah, terkadang harus diukur juga dengan kemampuan kita. Jangan kemudian terlalu dipaksakan. Meski begitu ya, sama seperti Mas Iwan, berlomba-lomba dalam kebaikan, terutama dalam ibadah, pasti akan sangat terasa kalau dilakukan sebaik-baiknya.😀

  2. Hum, kekuatan hafalan itu ada pada muraja’ah aku tahu itu, tapi kadang kalau sudah dikejar setoran, muraja’ahnya malah dinanti-nanti sampai numpuk, baru sadar pas mau test hiks😥

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s