Let her Crying


Kemarau kemarin dia seperti hujan. Menyejukkan. Mungkin rasanya seperti gadis  kecil yang bermain piano di depan itu. Tiba-tiba ia lupa tuts mana yang akan dimainkannya. Semua beku. Tatapan mata pengunjung mengarah kepadanya. Ia kaku. Ia ingin menangis.

Tiba-tiba saja diluar ruangan tersebut ada seseorang yang bernyanyi nyaring denga suara paraunya. Tapi anehnya  berkat suara paraunya gadis kecil itu ingat kembali akan tuts nada yang akan ia mainkan.

Do do sol sol la la sol
fa fa mi mi re re do
fa fa mi mi re re do
do do sol sol la la sol
fa fa mi mi re re do

Semua pengunjung bertepuk tangan. Memandang  takjub karena kelihaian gadis kecil itu memainkan tuts dengan lincahnya. Ah, dia adalah penyelamat si gadis itu

***

Gadis itu tengah bercerita riang kepadanya, anehnya dia tak menanggapi ceritanya. Diam membatu, tanpa ekspresi. Dan akhirnya dia meninggalkan gadis itu.

Penyelamatnya itu tiba-tiba pergi . Ah, mungkin saja gadis kecil itu saja yang terlalu sensi dengan ucapannya kemarin. Ia merasa ia tak berguna sama sekali bagi dirinya. Ah, aku lupa gadis kecil itu memang cengeng. Biarkan saja ia menangis.

Beribu pertanyaan yang diawali kata kenapa sering saja berkecamuk dalam pikirannya. ‘Kenapa dia jahat sekali pada gadis itu, kenapa dia mengucapkan ucapan perpisahan itu padanya’.  Kau tau? Gadis itu tak percaya bahwa dia yang berkata seperti itu. Satu hal yang masih dipertahankan di benak sang gadis itu adalah, bahwa si penyelamatnya itu adalah orang baik. Dan kau tau? Gadis itu berkata kepadaku kalau dia akan selalu mendoakan orang itu agar selalu diimudahkan semua urusannya.

Klaten, 28 maret 2013