Cita.Harapan.Future


M.E.N.I.K.A.H siapa yang tidak ingin menuju jenjang seperti itu? Tetapi bukan itu topic permasalahan yang akan saya bahas disini. Sebuah cita-cita yang entahlah, apakah itu sebuah cita-cita yang impossible ataukah possible. Entahlah saya begitu tergiur sekali dengan Negara-negara yang menghasilkan orang-orang besar yang berotak encer.

Dulu sekali saya mengira saya adalah orang yang sering berfikir dengan otak kanan dengan berbagai kreasi yang saya geluti, meronce, nggambar coret, corel, nulis dan terakhir fotografi. Perasaan kegirangan ketika pelajaran menggambar itu tiba, tetapi sedih sekali ketika pelajaran yang ada drama itu dimulai. Heuu

Setelah di observasi oleh kakak sepupu, ternyata saya lebih sering menggunakan otak kiri, tetapi pada kenyataannya saya pun bisa mengasah kemampuan otak kananku. Ya jujur sih, ketika berhadapan dengan pelajaran kimia dan matematika saya suka mengulak-alik sampai ketemu runtutannya, kalau tidak ketemu pasti dirumah pusing sekali. Kepala jadi cenat-cenut galau ndak karuan.:mrgreen:

Alhasil inilah saya, dengan segala kepribadian yang mengaku sebagai orang plegmatis, tetapi setelah terjadi perenungan yang panjang, saya bukan plegmatis mutlak. Entahlaaaah..

Salah satu cita-cita saya adalah bisa menimba ilmu sampai ke negeri sakura itu. Ya, tapi agaknya Allah mempunyai cerita unik buat saya hingga akhirnya saya masih terpekur disini yang hanya bisa memandang gambarnya saja tentang keindahan Bungan sakura dan sandal tekleknya. Mengagumi culture mereka dari berbagai film hasil copy atau download an dari wifi kantor.

Siapa yang mau jika  negaranya terjajah oleh Negara lain? Mengaku berilmu tinggi tapi bangga jika bekerja di perusahaan asing tanpa ada kemauan untuk memajukan negaranya sendiri. Ketika mengingat pertemuan bersejarah di tahun 2009 lalu, acara MITI dengan dihadiri banyak professor itu semangat saya untuk sekolah lagi muncul kembali. Tapi seakan surut kembali melihat realita. Maka dari itu saya mempunyai beberapa harapan untuk memenuhi cita-cita yang tertunda saya.

Beberapa diantaranya saya ingin mengarahkan anak saya kelak untuk mencari beasiswa di Negara yang sekalipun, saya memilih dua Negara idaman “Jepang dan Jerman”. Ya, sedikit banyak memang saya terisnpirasi dari profil Dr. Warsito P Taruno.

Ah, cita-cita yang tertunda. Lalu bolehkah jika saya mempunyai harapan agar anak saya kelak mengabdikan dirinya sebagai penimba ilmu sejati? “Tholabul ‘ilmy”. Ah, saya ingin semuanya suka belajar, suka ilmu dan menggilai ilmu. Untuk mempersiapkan itu semua bukan hanya omongan banyak dari kita. Tetapi contoh yang nyata bukan? Satu teladan itu lebih baik dari pada 1.000 nasihat lisan.

oh iya, saya hampir lupa. Tak lupa ketika ilmu itu ditimba, maka dasara agamanya pun juga harus ditanamkan sejak dini. Salah satu caranya pengetahuan dan ibadah emak dan ayahnya harus diperkuat. . .😉

Tentang cita-cita itu. Bahkan rencana saya akan membicarakannya diawal bersama si dia (entah siapapun dia nantinya) seperti perjanjian di awal tentang Future pendidikan anak yang musti diarahkan. Entah mau di mesir, jepang ataukah jerman dan Negara yang lain. Dimanapun akhirnya saya harap anak-anak saya penyuka belajar bahkan sampai ke negara yang mayoritas non muslim sekalipun. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri bambu” Tetapi saya tidak akan memaksakan kehendak. Karena jika pemaksaan terjadi pada saya, saya juga tidak akan mau.:mrgreen:

The last sentence
” Sesunggunghnya Allah murka, marah kepada setiap orang yang berilmu tentang dunia, bodoh tentang AKHIRAT”
(HR. Abu Daud, Ibnu Hibban & Al-Baihaqi)

berilmu

Selamat belajar

Klaten, 15 Mei 2013

37 thoughts on “Cita.Harapan.Future

  1. gak baik bepergian ke negeri orang kafir tanpa ada alasan yang kuat… dikawatirkan bisa terjatuh maupun larut didalamnya…
    Jangan memaksakan diri untuk berenang melawan arus kalau tidak kuat melawannya…😀

  2. Konsentrasi apa yang akan di ambil di jepang? Yah, jepang. Negara yang mungkin dikenal sebagai negara maju, namun kesalahan tafsir feminisme di negeri itu, akhir membuat negera itu bak puzzle, atau bahkan patung. Oh, iya. anggap saja ini doa, jikalau jadi ke jepang, jangan lupa mampir ke kyoto; alasannya? karena kebudayaan natural masih ada di kyoto, anggap saja sebagai jogjanya, jika di indonesia.

    Well, jerman. Bagi saya jerman jau memiliki tantangan besar di banding jepang.
    Tapi keduanya kini perlahan memanganggap islam sebagai solusi….

    diaminkan.

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s