Proyek Besar Berbuah Manis


Mempunyai keturunan, entah satu, dua tiga, lima, atau bahkan lebih dari sepuluh anak dari satu rahim dan satu ayah. Di awal bolehkah kita sepakati? Bahwa cepat lambat menikah seseorang itu bukanlah suatu prestasi yang harus diperlombakan? Yang lamban menikah berarti kalah. Bukan itu! Yang bisa dijadikan prestasi adalah bagaimana setelah itu, yaitu mendidik mereka anak-anak menjadi seseorang yang berakhlak. Yang mengenal akan Tuhannya, yang takut akan murka Tuhannya dan bertindak sesuatu dengan alasan “Aku melakukan semuanya Karena Tuhanku menyukainya”. Anak-anak yang sholih/sholihah.

Mengandung, kemudian melahirkan, membesarkan dan mendidik anak itu adalah perjuangan si ibu. Ia sebagai manajer keluarga yang berhak memanage anak-anaknya. Bagaimana si ibu mengenalkan Tuhannya dan memberikan pengertian bahwa Tuhannya adalah Maha Penyayang, Maha kaya, Maha Tinggi dan ada banyak 99 asmaul husna-nya. Menjadikan anak-anaknya sebagai teman dimana mereka nyaman untuk bercerita kepada ibunya, teman curhat yang pertama kali mendengarkan keluhan yang mereka alami hari ini.

Menjadikannya robot hanya untuk menjawab ‘yes no question’, ah itu tindakan yang ceroboh sekali. Jika masih berniat untuk menjadi senior atas anak-anakmu dimana orang tua selalu benar dan anak selalu salah sehingga sering memaksakan kehendak hingga ucapan “kamu harus ini itu” keluar dari mulut orang tua. Tidakkah kau ridho ketika orang tua kita dahulu mengatakan sesuatu yang memaksakan kehendak kita? Apakah kau berontak, atau kau melakukkannya dengan hati ‘TERPAKSA’ sehingga hasilnya tidak maksimal? Ya, itulah perasaan anak-anak kita ketika kita sebagai orang tua memaksakan kehendak. Mencoba mengerti perasaan mereka dengan memahami terlebih dahulu diri kita sebelum kita bertutur kata.

Sedangkan perjuangan ayahnya adalah mendidik istri dan anak-anaknya. Ia sebagai direktur utama dalam keluarga itu. Ia berkuasa penuh atas istri dan anak-anaknya, begitupun berhak penuh akan kelakuan istri dan anak-anaknya.

Ada banyak sifat yang musti terbentuk dari pimpinan direktur utama bersama manager itu, diantaranya sifat tanggung jawab, amanah, jujur, dan lain-lain. Yang perlu diingat adalah seorang anak memerlukan FIGUR dalam keluarganya. Satu hal yang akan kembali saya ingatkan, Bukankah satu tindakan akan lebih mujarab ketimbang seribu ucapan? Contoh yang baik, suri tauladan.. itu yang dibutuhkan oleh anak-anak.

Adanya kerjasama tim antara si direktur utama dengan manager keluarga mungkin itu salah satu tindakan yang tepat. Tim work dimana di dalamnya ada pengingatan ketika satu diantaranya sedang lupa, adanya motivasi ketika satu diantaranya sedang berputus asa sehingga saling menguatkan satu sama lain. Bukan super man yang dibutuhkan dalam keluarga ini. “Kamu seperti  itu, itu salahmu!”, hey jika masih saja berkata seperti itu di tim mu, maka segera bertaubatlah. Ini bukan proyek murahan yang hasilnya bisa didapatkan dengan mudah dan murah. Ini adalah proyek besar yang prosesnya sangat lama, panjang penuh liku, dan kesukaran akan sering ditemui. Tapi hasilnya sangat tak terhingga sehingga untuk membayangkannya pun kita tak sanggup. Syurga…

Ah indah bukan hasil dari proyek besar itu? Proyek peradaban dimana kita sebagai orang tua-orang tua sekarang ini menjadi penyebab utama tegaknya Negara islami. Melibas semua pemikiran-pemikiran barat yang sudah menjadi barang lumrah dan menjijikkan bagi penikmat ilmu Islam.

Menjadikan anak-anak kita menjadi orang yang besar tidak harus berambisi untuk bersegera menjadikannya besar secepat itu dengan konsep instant. Biarkan otak mereka berkembang secara alami, dengan bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

“Jika kau lahir dalam keadaan miskin, maka itu adalah nasibmu. Namun jika kau mati dalam keadaan masih miskin, maka itu adalah SALAHMU!”

Tidak semua kebahagiaan ternilai oleh materi, tetapi ketika kita bisa bermain dan berdamai dengan materi, maka hal itu bisa membantu orang yang membutuhkan. Ya, maksudnya adalah jika kita ingin hidup barakah dengan materi yang melimpah, maka niat utamanya adalah “Karena ingin lebih banyak yang terbantukan lewat kita”. Jadi tidak ada alasan untuk Allah tidak mengabulkan doa kita kan untuk bermateri lebih? J

Dan satu hal yang terlewatkan dan harus sering diulang-ulang untuk diingatkan adalah tentang Niat Yang Usang. Selalu memperbaikinya. Niat ketika dan ketika. Karena sebelum sampai ujung niat kita tak selalu bersih. Kita yang belum tau ujungnya sampai mana, seberapa lama, dan seperti apa. Saling mengingatkan yaaaaaaa. No bodys perfect! Jadi saling mengingatkan, tetapi juga jangan keseringan maklum akan kesalahan. Jadi manja!!😛

Ini adalah visi misiku kedepan😉

Ulfah Uswatun Hasanah

Klaten, 26 Mei 2013

3 thoughts on “Proyek Besar Berbuah Manis

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s