Hujatan pada sesama Muslim. Pantaskah?!


Saya adalah seorang muslimah. Saya berhijab dan semoga istiqomah sampai tamat, dan saya juga melaksanakan 4 rukun islam dari 5 rukum islam. Dengan terseok-soek saya pun berusaha mengimani rukun iman dari iman yang pertama sampai keenam, iman pada Allah, iman pada malaikat, iman pada Rasul, iman pada Al qur’an, iman pada hari akhir dan iman pada Qada dan qodar.

Tak semua orang dengan mulus menjalankan rukun iman ini, termasuk saya yang masih harus selalu meluruskan niat beberapa kali dalam mendasari apapun yang saya lakukan di keseharian. Ah, nikmat iman dan islam itu sungguh saya benar-benar sedikit bersyukur ketika melihat beberapa teman yang masih meragukan Tuhan itu ada dan adil.

Sehari kemarin saya dikirimi beberapa artikel pada seorang saudara maya saya. Beberapa diantaranya adalah artikel dan pidato dari seorang yang saya sendiri lupa namanya. Intinya dari pidato tersebut adalah seruan kepada kaum mesir untuk kembali kerumah,bersembunyilah. Setidaknya itu  yang bisa saya tangkap di kepala saya yang tidak begitu pintar ini.

Saya tau, ketika madzhab yang kita anut itu berbeda, maka sudut pandang kita juga akan berbeda. Tidak bisa disatukan, dan tidak akan bisa. Ya, kita ini satu saudara karena kita itu muslim, tetapi dalam beberapa urusan yang melibatkan golongan tertentu tidak ada yang mau mengalah. Menghujam golongan lain dengan argument masing-masing, bahkan mungkin tidak ada lagi kata ‘saudara’ lagi ketika membahas golongan.

Apa yang disebut saudara jikalau saling mengejek, saling menyikut dan tidak mau duduk bersama menyelesaikan masalah. Setidaknya jika tidak sepakat, maka diamlah. Hal itu sudah menjadikan emas buat kita. Senang jika golongan lain kalah dalam argument, dan merasa “Akuuuuuu paliiing benarrrrr diantara kalian”.

Astaghfirullohal’adzim. Entah kenapa telinga dan mata saya begitu pedih melihat dan membaca beberapa komentar yang saling menyudutkan itu. Sungguh tidak akan habisnya jika saja masih mempermasalahkan perdebatan. Apa yang akan didapatkan dari perdebatan yang menurut sebagian orang itu hanyalah sebagai kepuasan yang tak terhingga?

Ah, alangkah indahnya jika kita golongan-golongan yang berbeda itu duduk bersama menghadapi musuh yang sesungguhnya. Bukan menghancurkan sesame muslim yang katanya masih saudara itu. Hmmmmmmmmmhhh…..

Saya sertakan tulisan yang saya dapat di sosmed

Regard

Ulfah Uswatun Hasanah

MESIR; KAMI BERSAMAMU!

Saya bukan anggota Ikhwanul Muslimin.

Saya adalah seorang hamba yang berusaha meniti jalan kaum salaf, yang berusaha komitmen mendakwahkan manhaj Ahlussunnah.

Saya sendiri punya banyak catatan dan kritikan terhadap manhaj dan pemikiran organisasi ini serta para tokohnya. Terutama terhadap komitmen mereka untuk menepati manhaj al-Salaf al-Shaleh dalam seluruh aspek.

Saya bahkan secara khusus pernah mengkajikan sebuah buku berjudul Nazharat fi Manhaj al-Ikhwan al-Muslimin, yang mengkritik gerakan ini.

Tapi –seperti yang dikatakan oleh Syekh DR. Sa’ad al-Buraik hafizhahullah dalam akun Twitter-: Anda tidak perlu menjadi seorang Ikhwani untuk menolak kudeta militer brutal al-Sisi (semoga dia mendapatkan balasan yang sepantas dengan kekejiannya!) di sana. Ketidaksetujuanmu dengan Ikhwanul Muslimin bukan berarti engkau boleh berbaris dalam barisan kaum sekuler-liberalis pembantai mereka.

Sayangnya…
Banyak orang yang tanpa sadar –karena kebencian mereka kepada Ikhwanul Muslimin- malah mendukung kaum sekuler yang membantai mereka di Mesir.

Sayangnya lagi, orang-orang ini mengungkapkan kebencian itu di berbagai media sosial di internet. Akibatnya, kebencian itu menyebar dan terus menyebar, hingga mereka lupa bahkan untuk sekedar mendoakan kaum muslimin yang menjadi korban di sana. Yah, mereka yang gugur di Mesir kan masih muslim?

***
Peristiwa pembantaian demonstran muslim Mesir kali ini benar-benar menjadi ujian manhaj bagi kita yang mengaku sebagai seorang Salafy. Tragedi Mesir ini benar-benar menguji seberapa jauh pemahaman dan pengamalan kita terhadap konsep al-Wala’ wa al-Bara’ yang dijelaskan oleh para ulama salaf rahimahumullah.

Konsep itu sungguh sangat jelas. Cinta dan benci selalu diukur sesuai jauh-dekatnya seseorang dengan Allah dan RasulNya. Kepada sesama muslim dan mukmin, kita memberikan wala’ (loyalitas) sesuai kadar ketaatan mereka kepada agama Allah dan di saat yang sama kita harus bara’ (berlepas diri) terhadapnya sesuai kadar penyimpangannya dari jalan Allah Ta’ala.

Seorang mukmin –bagaimanapun juga- tidak bisa diperlakukan seperti orang kafir. Seakan-akan tidak ada lagi kebaikan, tidak ada lagi cinta dan belas kasihan yang patut diberikan kepadanya. Karena itu, Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan sebuah contoh aplikatif terhadap prinsip ini dengan seorang muslim yang mencuri. Beliau menjelaskan bahwa sebagai bentuk bara’ kita terhadap kejahatannya, maka kita memotong tangannya. Namun setelah itu, jika memang ia membutuhkan, maka sebagai bentuk wala’ kita sebagai muslim, ia patut mendapatkan bagian dari Baitul Mal kaum muslimin!

Sekarang,
Dalam kasus Mesir…
Dalam kasus kudeta terhadap Presiden Mursi…
Dalam kasus pembantaian para demonstran oleh al-Sisi…
Ikhwanul Muslimin mungkin salah…Siapa pun mungkin saja keliru…
Tapi apakah waktunya tepat untuk mengulas dan membahas “kesesatan Ikhwanul Muslimin”?
Apakah bijaksana untuk menyibukkan diri dalam mendebatkan “hukum demonstrasi”?
Pantaskah mengatakan –seperti komentar sebagian ikhwah atau akhawat di Facebook-: “Makanya siapa suruh ikut demonstrasi?”

Maafkan saya…
Tapi saya sungguh-sungguh bingung dengan pemikiran sebagian orang yang mengaku pengikut Manhaj al-Salaf, yang kelihatannya kebencian mereka terhadap Ikhwanul Muslimin begitu memenuhi jiwa dan raga mereka, sehingga kelihatannya (sekali lagi: kelihatannya!) tidak ada ruang untuk memberikan sedikit saja wala’, cinta dan kasih sayang kepada mereka.
Pokoknya apapun yang berbau Ikhwanul Muslimin harus ditahdzir!

Akibatnya tampak jelas dalam menyikapi peristiwa tragis pembantaian di Mesir terakhir ini…
Ketika hampir seluruh dunia menyatakan keprihatinannya…bahkan sebagian pihak kuffar juga menyampaikan keprihatinan…
Sebagian orang yang saya sebut itu malah sibuk mempersoalkan dan menyalahkan Ikhwanul Al Muslimin.

Persis seperti seorang ibu yang menemukan anaknya terluka parah karena jatuh dari sepeda. Alih-alih menolong dan mengobati lukanya, sang ibu malah mengomel: “Nah, siapa suruh main naik sepeda? Dasar anak nakal!”
Benar-benar picik gaya berpikir seperti itu!

Begitulah, mereka sibuk mengkritik dan menyalahkan Ikhwanul Muslimin, membagikan kritikan (baca: hujatan) itu sambil Facebook-an dan BBM-an…
Hingga akhirnya, mereka lupa bahkan untuk sekedar mengirimkan sepenggal doa bagi mereka yang gugur terbantai di bumi Kinanah, Mesir itu.
Tidak ada doa. Tidak ada simpati.

Apakah karena Ikhwanul Muslimin memang sudah bukan saudara muslim kita lagi??!
Mereka pasti tahu jawabannya.
Apapun itu, setiap kata yang mereka tuliskan, ucapkan dan share di berbagai media; semuanya akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Tapi kepada Mesir…
Kepada saudara-saudaraku kaum muslimin yang berdemonstrasi di sana…
Semoga Allah Ta’ala menerima kalian yang gugur sebagai syuhada’…
Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kesabaran kepada yang ditinggalkan…
Semoga Allah Ta’ala menghancurkan al-Sisi dan pasukannya, kaum sekuler-liberalis dan siapa saja yang mendukung mereka…Semoga kalian saling menikam dan membantai sesama kalian…Semoga Mesir segera disucikan oleh Allah dari tangan-tangan keji kalian…
Semoga Allah Ta’ala menegakkan Syariat-Nya di Mesir dan di seluruh negeri kaum muslimin…

Kepada Mesir kukatakan: Kami bersamamu! Meski hanya dalam sepenggal doa yang sederhana…

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah
Muhammad Ihsan Zainuddin

11 thoughts on “Hujatan pada sesama Muslim. Pantaskah?!

  1. Saya adalah seseorang yang sedang berusaha meniti jalan Salafus Shalih.
    Sedikit perlu dicatat bahwa ‘Salaf’ adalah panggilan untuk para sahabat nabi yang terbaik terdahulu, sedangkan ‘Salafy’ adalah kaum yang dimana mencoba untuk meniti jalan para sahabat nabi yang terbaik tersebut.

    Mengutip kalimat anda, “Saya tau, ketika madzhab yang kita anut itu berbeda, maka sudut pandang kita juga akan berbeda. Tidak bisa disatukan, dan tidak akan bisa.”
    Sunni dan syi’ah tidak mungkin bersatu, benar. Tetapi antar golongan lain, selama pedoman nya sama (Allah, Al-Qur’an dan sunnah nya) sama, saya yakin bisa bersatu. Hanya yang perlu digarisbawahi adalah soal ego masing-masing, dan tujuan setiap fiqroh (golongan) nya berbeda-beda.

    Secara keseluruhan, saya setuju dengan tulisan teman anda yang dikutip disini. Tentang pembantaian umat muslimin di Mesir, sejujurnya saya sangat tidak mendukung ini. Tidak setuju dengan pihak militer, bukan berarti setuju dengan pihak IM.

    Saat tragedi Mesir ini, saya sendiri pun mendukung kaum (yang katanya) Sekuler. Pihak Militer Sisi. Kenapa? Karena dari pihak universitas Al-Azhar Madinah mendukung pihak militer, bukan hanya segelintir golongan, tapi sudah menamakan atas nama universitas Al-Azhar.
    Mengambil langkah aman? Saya rasa tidak. Para ulama di Al-Azhar pasti hanya takut kepada Allah, bukan kepada pihak militer Mesir.
    Taklid buta? Saya rasa tidak. Ingat cerita seorang khulafaur rasyidin yang bernama Umar bin Khatab? Dulu nabi Muhammad SAW pernah berdo’a “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam” (Syaeikh Shafiyyur – Rahman Al – Mubarak Fury, ”Shirah An-Nabawiyyah”) Siapa sangka Umar bin Khattab RA ternyata memeluk Islam? Menurut cerita tadi, allahu’alam apabila Sisi akan berkisah seperti Umar bin Khattab RA.

    Semoga Allah juga menunjukkan jalan yang terbaik bagi kita, umat terakhir setelah Nabi Muhammad SAW, dan juga terhindar dari fitnah. Allahul musta’an.

  2. betapa indahnya bumi jika damai ada di setiap hati manusia,,
    yah tapi itulah setan yang tetap setia pada janjinya yang akan terus menggangu anak adam.
    Bismillah saja mari bagi kita yang masih memiliki iman.. agar selalu istikomah..😀

  3. yang pasti kita wajib mendoakan saudara kita yg di Mesir. Mereka lebih butuh doa dan bantuan kita daripada hanya sekedar perdebatan yg ga ada ujungnya. Inspiratif sob tulisannya, mantap.🙂

  4. iya adu argumen itu cuma aksi saling menimpali dan menyalahkan tapi gak ada solusi yang dicapai buat memperbaiki keadaan. menghujat dan adu emosi itu seperti minum racun tapi berharap orang lain yang mati. kita yang rugi sendiri.

  5. mereka lupa sama ayat Allah QS: Al-Fath:29

    distorsi pemahaman sesama, ini sebenarnya keprihatinan lain yang sangat menyedihkan
    sehingga yang seharusnya dikerasi malah lembek

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s