Berbicara atau Meneladani


Berbicara atau meneladani. Bukankah satu keteladanan lebih baik dari pada seribu perkataan? Seperti dirimu itu hun. Bahkan dengan orang yang lebih banyak menasehatiku dengan perkataan tak mempan, tetapi hanya dengan melihatmu saja itu mampu menasehatiku banyak hal. Sayang, hanya sekilas ku melihatmu berjalan di depanku sambil menggendong jundi kecilmu siang itu.

Banyak orang mencacat seseorang lain apa yang nampak di matanya. Persepsi versi dirinya menari dengan liar di kepalanya. Lalu apa bedanya dengan mereka? Ah, biarlah dengan pendapat mereka. Semakin banyak bicara, maka semakin dia menjauh.Terlalu banyak bicara, maka akan semakin menjadi-jadi. Maka sedikitlah berbicara dan banyaklah meneladani. Jika tidak bisa berbicara yang baik, maka sebaiknya diam. Jika tidak bisa berprasangka baik, maka lebih baik tidak usah berfikir sahaja.

2 thoughts on “Berbicara atau Meneladani

  1. Setuju!

    Diam itu Emas, namun Bicara Baik dan Bijak itu Berlian.

    Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya”.

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s