Konsekuensi sebuah perkataan


Ini adalah kisah teladan yang disuguhkan kepada kita. Tentang perkataan yang bisa dipercaya. Jika semua yang kita ucapkan sesuai dengan kenyataan yang ada, maka tak segan bagi orang yang tadinya memusuhi bahkan mau membunuh kita, siapa tahu memafkan kita. Kata Allah “Kaburo maktan indallahi antaquluu maalaa taf ‘aluun”, Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
(QS As-Shaf : 3)

Jika pernah mendengar kalimat seperti ini ” Seorang laki-laki itu yang dipegang adalah perkataannya”, maka tak hanya seorang laki-laki saja yang semestinya bersikap seperti itu. Hal itu hanya untuk mempertegas bahwasanya seorang laki-laki ketika berjanji, maka bagi yang tak menepatinya akan ada cacat di dirinya. Begitupun dengan wanita, jika janji adalah hutang, maka membayar hutang adalah solusinya.🙂

Inilah kisah yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata, “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!” “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!”.
Umar segera bangkit dan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.””Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,”Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mempercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.”Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.”Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat’, ujarnya.
“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, “Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

Umar sema
kin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,”Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah” ujarnya dengan tegas,”Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda.
“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?” tanya Umar.”Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?” pemuda lusuh balik bertanya.

“Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.
“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin”.Ternyata Salman al Farisi yang berkata..

“Salman?” hardik Umar marah, “Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.”Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggukedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.Kedua pemuda
yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi.Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok,jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!”teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pengkuan Umar.”Hh..hh.. maafkan.. maafkan..aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak..waktu..”. ”Kupacu..tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun..terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, “Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”
”Agar..jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria..tepat janji..” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”,Salman menjawab dengan mantap.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.”Allahu Akbar!” tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.“Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya” ujar kedua pemuda membahana.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

-Diambil dari buku Ketika Cinta Berbuah Surga karya Kang Abik

2 thoughts on “Konsekuensi sebuah perkataan

  1. ketika janji manis membuncah
    gemeletuk gigi mengunyah kebohongan
    malu tanggal, sebongkah senyum yang bukan lagi sedekah
    ……

    cerita di atas bagai oase
    bagi hiruk pikuk di negeri ini
    #masih banyakkah ksatria penepat janji itu di sini ulfah?
    #masih banyakkah pemuda penanggung beban saudaranya seperti itu di sini ulfah?
    #masih banyakkah pemuda berhati lapang di sini ulfah?

    #semoga harapku

    • hehehe.. komentnya puitis..
      tapi aku tak berpuitis pak,..😀

      mungkin saja hampir punah
      Tapi ketika kita punya harapan
      setidaknya masih ada satu lilin harapan
      Harapan yang mempunyai suara untuk bersuara

      Kekuatan shiroh memang dahsyat
      Dimulai dari kita
      memahami, mendoakan, dan menyelami..

      hehe

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s