Jika memilih suami ibarat memilih Presiden


Ketika masih gadis ada impian impian untuk berumah tangga. Dengan siapa? Ah, bahkan waktu itu tak tau siapa yang akan membersamaiku. Menghampiri silih berganti tapi tak menemukan tepi, ya karena memang belum digariskan ketemu๐Ÿ™‚ . Bukan rentan waktu yang sebentar barangkali penantian itu. satu, dua..ternyata sudah lebih 5 tahun.

Alhamdulillah satu tahun pindah tempat bernaung, akhirnya dipertemukan juga sang belahan jiwa. Siapa yang tau ternyata yang dinanti berasal dari kota kelahiran sendiri?๐Ÿ™‚

Memilih suami untuk wanita dan memilih istri untuk laki-laki bukan karena asal ‘gue suka lu, so yuk mari’. It’s not simple proces madam. Jikalau orang jawa sering mempertimbangkan bobot, bibit, bebet. Maka boleh juga dong masing-masing kita menentukan kriteria? Asalakan yang realistis saja sih okey, agar ketika dapetnya jauh dari kriteria jatuhnya tidak terlalu sakit.

Kalau saya sih ya, karena dia akan menjadi imam yang akan saya patuhi dan bebarengan masuk surga dengannya, maka aku milih yang sholeh dunk ya. Itu adalah satu syarat yang mutlak. Bayangkan saja, seorang wanita yang bener-bener mengetahui kewajibannya sebagai istri, maka dia akan berbakti kepada suaminya jiwa dan raga, Full service dan full hearth to her husband. Bahkan ketika sang suami lebih mementingkan kepentingan ibu kandungnya dari pada sang istri, dan sang istri tetap patuh. Maka sebagai wanita, relakah jika calon imam itu adalah seorang yang sholeh hanya tampak diluar?.

So, mana kita tau pencilakannya diluar sepengetahuan kita? toh bisa saja itu hanya tipu muslihat agar sang wanita terpesona pada sang lelaki. Yang bisa kita lakukan, lihat dulu siapa temen deketnya. Sholeh juga apa kagak, rajin ke mesjid apa kagak, bisa baca al qur’an apa kagak? Kenapa yang diteliti temen deketnya? Biasanya sih, kalau temen deketnya sholih, maka dia juga sholih. Walapun gak semuanya sih. Nah jika temen deketnya sudah kita ketahui, maka minta tolong teman lain buat menayankan ke temen deketnya perihal target yang akan dituju. Tulis ceklis yang mau ditanyakan kepada target tentang ibadahnya, hubungan dengan tetangga, hubungan dengan keluarga, dan bisa jadi pertanyaan khusus darimu untuk dia.:mrgreen:

Kenapa itu menjadi hal yang penting? Percayalah nona manis, yakinkan bahwa kita tidak salah berbakti pada orang yang akan mendampingi kita. Apalagi orang itu bukan orang yang kita kenal sebelumnya. Bandingkan saja dengan seorang preman dan ustadz yang menawarkan ‘jago’ nya kepada kita. Maka siapakah yang kau kehendaki? Bukankah lebih memilih perantaran yang baik akhlaknya terlebih dahulu baru diselidiki lebih lanjut.

Kenapa milih imam kudu rewel dan dari perantara yang baik juga? ya ini juga ada kaiitannya dengan kekecewaan, hehe.. Tinggal milih aja kekecewaannya yang besar atau dikit. Intinya berani Jujur itu LEBIH HEBAT bagi si target.

baitewey, ada kesamaan juga nih antara milih suami sama milih presiden besok. Yang jelas langkah-langkahnya hampir sama dengan milih suami. Kenapa harus sama? ya karena kontennya sama-sama milih IMAM buat kita. Kalau saya sih liat dulu pendukungnya, apakah pendukung-pendukungnya itu akhlaknya baik, apakah pendukungnya ikut ODOJ atai tidak, apakah pendukungnya suka ke mesjid atau tidak, pendukungnya suka aksi munasarah palestin ataukah tidak. Trus liat juga track recordnya dalam berorganisasi. Yah, kalau mau ย liat track record sekarang mah kudu ati-ati. Banyak yang suka bikin berita fitnah tak berdasar. Media juga sudah sesuai dengan pesanan empunya. Jadi hati-hati memilah dan memilih ya..

Dan so pasti cari capres yang amanah ya, bukan sebatas omongan dan sikap di depan sahaja. Kata orang itu pencitraan. hee. Kalau banyak orang yang berkata “laki-laki itu yang dipegang adalah perkataannya”… kalau aku sih lebih ngikut sama pak ustad aja ah. Memilih yang mudharatnya lebih dikit.๐Ÿ˜€

Terus kalau mau membela jago capresnya jangan lebay donk, seakan tau dan jadi sok tau itu malah bikin malu sendiri deh. Setidaknya membaca dari banyak referensi dulu baru berkomentar. Membela mati-matian yang capres jagoannya juga gak usah berlebih, seakan mendewakan dan rela mati, kek nabi saja.๐Ÿ˜€

ย 

13 thoughts on “Jika memilih suami ibarat memilih Presiden

  1. sama-sama pilihan yang berat ya….baik milih presiden atau istri/suami…bedanya kalo presiden pilihannya kali ini cuma dua thok….kalo istri/suami masih meraba-raba pilihannya..haha๐Ÿ˜€

  2. Kalo saya sih, minta ke Allah aja lah mba, Dia lebih tau kok yanv terbaik buat saya ketimbang diri saya sendiri….yakin aja….pasti diberi petinjuk ke arah pria terbaik di sisiNya,,,,karena kalo mengandlkn pemikiran sendiri sering tertipu,,,,says kira soleh eh ternyata…..says kira ga soleh….eh teryata ibdh nya lbh baik…sy sih merasa ga punya hak menilai kesolehan, keimanan sesrorng…sy yakin Allah lebh tau kok…jaminan sy Allah, bukan organisasi, tmn dekatnya, dll….just believe…

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s