Bekas lubang kayu


30 bulan adalah waktu yang cukup lama. Berawal di bulan mei 2012 sampai sekarang. Suka maupun duka semua dialami. Santai ribet semua juga sudah kulalui. dua setengah tahun lamanya. Apakah bisa bertahan ataukah gugur di jalan? Entahlah. . .

Bukan masalah kesalahan teknis rutiinitas yang menjadi cobaan terberat, toh semua juga mengalaminya. Entah jumud, dimarahin si bos, si staff yang sering error, maupun system komputer pendukung pekerjaan yang tidak mendukung. Masih teringat ketika pertama kali masuk dengan sambutan yang luar biasa. Dengan bangganya saya bisa bercerita disini, karena saya telah mengalahkan 16 pesaing untuk memperebutkan posisi tersebut. Qadarulloh saya bisa masuk setelah satu bulan nganggur dari kerjaan pertama. Nggak nganggur sih sebenernya, hanya resign dari kerjaan lama tetapi masih saja sibuk tiap harinya selama sebulan itu.

Senangnya bukan main. Seperti mendapat keluarga baru yang menyambut hangat diriku. Segala duka dalam pekerjaan kulalui dengan senang dan ikhlas, karena saya nyaman disitu. Ah, menyenangkan sekali mengingat masa lalu. Dengan minoritasnya kaum hawa, tak jadi soal Toh keseharian pas kuliah dulu juga menjadi minoritas.

Lain dulu lain sekarang. Beberapa alasan teknis bisa teratasi, bahkan sudah ada solusi tentang permasalahan kantor yang sering membuat saya pusing dan asli pusing tujuh keliling. Seperti yang disampaikan seseorang tadi pagi di brifing rutin tentang “Menjaga semangat”. Dia seraya berkata kepadaku “Alhamdulillah bini’matihi tatimmush sholihaat, segala puji bagi Alloh yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal sholih, karena kita masih diberikan permasalahan di kerjaan yang kita alami saat ini. Bisa dibayangkan jika tidak ada nikmat kerjaan, maka yang ada adalah permasalahan menganggur”. Bukan, saya bukannya tipe wanita karir, tapi setidaknya untuk saat ini saya masih belum berani untuk tidak bekerja.

Tapi entah kenapa.. itu bukan tentang masalah teknis, tapi tentang hati. Ya, hati yang terluka. Terlalu berlebihan kah? Itu bahkan menjadikan pikiranku menegang dan cukup efektif menurunkan berat badan. Kasian si dedek yang masih di dalem sebenarnya,.. ‘Maaf ya nak ya, bukannya ingin mengurangi hakmu’..

Seperti kayu yang telah tertancap oleh tajamnya paku, jika pun sudah tercabut, maka masih ada bekas lubang di kayu. Jikapun di plitur semulus apapun, maka itu pun hanya polesan belaka. Istaghfir…

Ya Rabbi jika ini adalah masa yang harus kulewati, maka mudahkanlah hamba untuk lebih dekat kepada-Mu. Menikmati lezatnya sholat malam yang semakin langka, juga lantunan tilawah yang semakin berkurang.

Ya Rabb, jika jalan yang lain itu adalah solusi, maka mudahkanlah ya Rabb..

Ya Rabb, tenangkan hatiku dengan istighfar…
Ya Rabb, tenangkan si kecil dengan posotof thinking ku
ya Rabb, sunggingkan senyum di wajahku ketika menghadapi masalah
Ya Rabb, tetap hidupkanlah nuraniku ketika melihat ketidakjelasan

ya Rabb, kuserahkan semua urusan dunia ini kepada-Mu..
(Sejujurya saya pusiiiiiing sekali😀 )

wood-and-nails

10 thoughts on “Bekas lubang kayu

  1. “Ya Rabbi jika ini adalah masa yang harus kulewati, maka mudahkanlah hamba untuk lebih dekat kepada-Mu. Menikmati lezatnya sholat malam yang semakin langka, juga lantunan tilawah yang semakin berkurang.” aamiiin… lagi iniiiihh banget juga mba😥

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s