Education reality


Beberapa hari ini saya mendengar banyak cerita tentang nilai kelulusan mulai dari anak-anak SD-SMA. Ada yang terharu karena nilainya sangat bagus tapi tak sedikit pula yang meratap karena nilainya pas-pasan. Bahkan ada pula yang tidak lulus SMP dengan sangat terpaksa dinikahkan oleh orang tuanya. Sungguh berita yang sangat tragis bagi saya. Bagaimana generasi kita kalau semua orang tua berfikir seperti itu.

Setelah merenungi semuanya itu saya baru sadar bagaimana kondisi masyarakat didaerah saya. Bagaimana pergaulan anak-anak muda di lingkungan saya. Dan bagaimana pola pengajaran orang tua terhadap anak-anaknya, semua sangat memprihatinkan. Padahal bila dicermati di lingkungan saya setidaknya tingkat RT, banyak yang berprofesi sebagai tenaga pendidik alias guru. Kenapa hal seperti ini tidak dimanfaatkan oleh para orang tua untuk lebih concern memperhatikan pendidikan anak-anak mereka. Bukankah pendidikan adalah jembatan masa depan?? Tapi masih banyak orang tua yang cuek dalam hal ini.

Terkadang saya sedih ketika melihat pergaulan anak-anak muda didaerah saya yang hanya menghabiskan waktunya untuk kumpul-kumpul maen gitar sejak pagi hingga malam hari. Terkadang mereka mengajak teman perempuan mereka untuk ikut kumpul bersamanya dan yang paling menyedihkan ketika beberapa botol minuman keras menjadi teman mereka dimalam hari. Saya dan keluarga besar sekarang membatasi pergaulan adek-adek sepupu apa lagi yang masih kanak-kanak agar tak terpengaruh oleh pergaulan mereka, apalagi tempat kumpul mereka sangat dekat dengan rumah kami. Itu bentuk protect kami sekeluarga, tapi apakah keluarga yang lain jg memprotect anak-anak mereka seperti yang kami lakukan? Semoga saja demikian.

Saya juga sering melihat bagaimana anak-anak kecil di daerah saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain dari pada membaca. Ketika sore hari didepan rumah saya banyak anak-anak yang bermain bola, sepeda, petak umpet, gunduk, dan banyak lagi. Kadang terlintas dibenak saya, seandainya saya mempunyai buku-buku atau perpustakaan sendiri, saya akan doktrin anak-anak ini untuk lebih menyukai buku dari pada bola atau mainan yang sering mereka mainkan. Setidaknya untuk menumbuhkan minat baca mereka dan kecintaan mereka terhasap buku. Ah, tapi semua hanya seandainya.

Dan kini ketika mendengar berita kelulusan seperti diatas. Haruskah saya diam saja berpangku tangan dan pasrah dengan berkata ya seperti itulah anak-anak didesa saya. Dan masihkah pendidikan menjadi tanggung jawab guru dan orang tua saja? Ingin rasanya berbuat seuatu untuk mereka. Tapi apa yang harus saya lakukan untuk mereka???

Curahan hati seorang ibu-ibu muda di Kartasura

Klaten 21 February 2013

3 thoughts on “Education reality

Maturnuwun kagem panjenengan ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s